Kok ganulis lagi? Ya, aku temenmu di kamjin gerigi
OMG masih ada yang lihat tumblrku ternyata haha!
noise dept.
Game of Thrones Daily

Andulka
I'd rather be in outer space 🛸
Peter Solarz
taylor price

JVL

@theartofmadeline
$LAYYYTER

JBB: An Artblog!
One Nice Bug Per Day

Janaina Medeiros
h

No title available

Discoholic 🪩
cherry valley forever

blake kathryn
No title available
Misplaced Lens Cap

pixel skylines
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from France

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from New Zealand
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Italy
@brigittaarafah
Kok ganulis lagi? Ya, aku temenmu di kamjin gerigi
OMG masih ada yang lihat tumblrku ternyata haha!
(Bukan) Pukul Tiga Pagi
Akhir-akhir ini ada yang sok sibuk sampai sudah mengabaikan blog Tumblrnya berlumut selama berbulan-bulan. Tapi, sang sok sibuk tersebut jadi sadar, hidup di Jakarta kurang lebih sama sesaknya dengan di Surabaya. Bedanya, ketika di Surabaya dia tidak sendirian, banyak yang menemani dan bernasib sama jadi supporter terbaik, yang menjelma seperti kandung.
Malam ini, atau lebih tepatnya pagi-lebih-awal, adalah malam lain pikiran-pikiran menyerang kepala lagi. Tidak se-berisik dan mengganggu ketika kuliah, dan semoga kecemasannya juga tidak jadi bumerang ke diri sendiri.
Sepertinya tidak ada satupun manusia yang siap untuk menghadapi hal-hal yang akan terjadi di hidupnya, di setiap detik mereka bernafas. Termasuk yang menulis ini. Kesiapan berarti segala yang bisa direncanakan dan tergambar. Bahkan tak jarang yang sudah diprediksi, akan ada saja perintilan tak terduga yang ‘menembak’ sang perencana.
Sebagai manusia berusia 20-an seringkali dituntut untuk menjadi makhluk multifungsi diatas keterbatasannya. Tidak peduli yang menuntut juga bisa atau tidak--tapi ternyata, sang penuntut adalah orang-orang yang berusia 20-an terhadap diri mereka sendiri. Termasuk pencarian jati diri. Momen ketika menjadi manusia berusia 20 tahun sekian, justru menjadi momen bagi sebagian orang untuk menetapkan jati diri mereka sesungguhnya karena tuntutan dunia yang serba dinamis, serba cepat.
Beberapa kali mendengar, atau membaca di Twitter, keluhan orang-orang yang ingin kembali ke masa kecil karena mereka merasa tidak ada beban hidup. Ingin setuju, langsung tersadar. Dari kecil aja sudah banyak tekanan kanan-kiri depan-belakang, kesulitan jadi manusia tenang. Jadi ya kurang relate. Hahaha.
Kembali ke topik. Yang menulis seringkali lupa, kalau semuanya sudah diatur. Yang menulis lupa, bahkan ketika masih di dalam rahim ibunya, sudah diberi ‘clue’ oleh Sang Pencipta bagaimana hidupnya akan berjalan kelak--yang mana tetap saja ketika lahir menangis kencang karena belum terlalu yakin apakah siap atau tidak menjalani hidup di luar rahim yang sudah telanjur nyaman di dalamnya. Yang menulis juga suka lupa, semuanya bertahap, prosesnya sering tidak mudah untuk menginjak anak tangga satu-per satu.
Padahal mengambil momen untuk pelan-pelan menelisik, eksplorasi hal-hal yang terjadi di depan mata sangat penting sebagai refleksi diri. Tidak harus dengan menghabiskan uang untuk bepergian, namun ketika kembali baru menyadari bahwa belum sepenuhnya “sembuh” dan menemukan apa yang ingin dicari.
Yang menulis pun suka lupa, padahal sudah beberapa kali memberikan wejangan kepada orang-orang di sekitarnya, kenapa terkadang cemas yang didahulukan?
--------------------------------------------------------
Tulisan ini (mungkin) ngalor-ngidul bagi sebagian orang. Tapi yang menulis tidak keberatan, daripada tidak ke mana-mana sama sekali, kan? *ngeles.
I salute to everyone who chooses to survive until today, and I mean I pray for you the good things to occur at the right time and right place.
Jangan ragu untuk terbit, Matahari
Untuk Saniah
Garis pantai membentang
hingga ke ujung lelahku
angin tanpa arah,
menyeka kecewa
yang menetes
di pipiku
Sore ini,
aku pulang lagi
polusi dan keringat
adalah parfumku
matahari terbenam itu,
menertawakan lelahku,
dan amarahku
Jalanan hari ini
terasa lebih panjang
seraya mengingat diriku
di kota yang membesarkanku
aku bertanya padaku
"Relakah diriku, melepas
jiwaku di ibukota ini?"
Malam ini
kupeluk amarah
di mana-mana
kesedihanku
bukan sejarah
Dan kebahagiaan
adalah bahasa ibuku
Ibu, aku di sini
Memelukmu melalui doa-doaku
Salamku untuk para penghuni surga bersamamu
Ayah, peluk aku
Doakan aku
Keringat harapanmu untukku
Adalah saksi bahagia kita nanti
(Pikiranku) ingin pulang, tapi sudah di rumah (inspired by Lala Bohang's tweet)
Kau berkelana sembari membawa cangkir kosong, yang entah hingga kapan ia akan terisi dengan hal baik
Jika kau memutuskan untuk melepas diri, akankah kau mengerti peta mana yang tak akan menyesatkanmu? Membaca kompas saja kau berputar-putar
Jika kau menetap di bawah atap ini, dengan tembok dan jendela sebagai sekat dari udara luar tanpa saringan, akankah kau melihat pintu sebagai benda dilematis?
Lalu kau membayangkan kengerian yang terjadi di antara keduanya. Tubuhmu terikat. Lidahmu tercekat. Alismu mengernyit dengan matamu yang kebingungan--
nafasmu tersengal.
"AKU TIDAK TAHU!", sarafmu berteriak.
Hingga akhirnya ruang dan waktu terasa fana. Kau anggap orang lain menjalani hidupnya di luar sana hanya sebagai fatamorgana.
Kau melihat, antara plafon dan bintang-bintang sarat atas ketidakmungkinan. Ubin atau tanah yang kau tak yakin untuk dipijak.
Lantas, bagaimana kau akan menentukan rumah, atau singgah? "dia"-kah yang menjadi siapa, atau "itu" sebagai apa?
full or partial support does matter
The alphabets, the words I am going to type below are inspired from one of my uni alumnae that--I could say--had done many meaningful things. She (yes she is a “she”) wasn’t just winning some popular competitions but also inspiring actions such as social contribution, chosen to be the speaker of many seminars, joined the leadership training, became a ministry of external affair of BEM (if I’m not mistaken), etc. And btw she recently becomes an employee at one of the biggest BUMN in Indonesia and got accepted as an LPDP Awardee in one of the US university. I told you, she’s THAT awesome.
Aku, yang alhamdulillah dikasih petunjuk oleh Allah untuk bisa mengenalnya walau sebentar, dengan pedenya mengundang dia untuk menjadi speaker di event wisuda angkatanku. Aku melihat sebuah poster acara terpampang di timeline line oleh salah satu startup edukasi di Indonesia, yang ketika itu dia menjadi salah satu speaker juga. Ketika aku melihat background pengalamannya, aku berasumsi kalau dia satu almamater denganku. Ketika aku swipe poster tersebut, benar saja, ia merupakan lulusan dari salah satu jurusan di FTI kala itu.
I freshly found her old blog, just an hour ago. Not surprised that she loves writing, not only the daily basis but also poems. Tapi satu hal yang bikin mataku berbinar adalah, kenyataan bahwa dia juga memiliki salah satu tragedi di masa lalu yang membentuk dirinya dimasa kini. Aku bukan mengoreknya dari mulut ke mulut, dia menulisnya sendiri di blognya. Dan ternyata, karakternya yang begitu positif memang berasal dari keluarganya sendiri. Dia bahkan mengakui kalau keluarganya, terutama kedua orang tuanya, sangat suportif akan hal-hal yang dia lakukan. Bahkan ketika dia memenangkan salah satu lomba di Oxford, merupakan bonus dari berkali-kali kegagalan yang dia alami, namun keluarganya terus mendukungnya.
Mbak ini hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang aku yakini mendapatkan previlege berupa dukungan positif dari keluarganya sendiri. Aku tidak mengatakan bahwa orang-orang yang tidak memiliki keistimewaan yang sama tidak akan bisa mencapai goals mereka, namun aku mengakui bahwa lingkungan menjadi penentu terbesar pencapaian seorang anak dalam keluarga (utamanya).
Tidak semua orang terlahir di lingkungan yang bisa memberikan support terbaik, baik dari segi material, moral, atau bahkan spiritual. Ada yang harus mandiri mendapatkan dukungan tersebut untuk mencapai cita-cita mereka. Namun, di era yang mana edukasi sangat mudah didapatkan, bukan mustahil kalau kita belajar banyak dari masa lalu, dari bagaimana orang tua kita mendidik atau saudara-saudara kita.
Hal penting yang aku dapat dari si Mbak ini adalah bahwa kegagalan yang ia dapatkan merupakan pelajaran berharga dari perjuangan yang banyak.
I couldn't be more agree with Gita, this time.
Dibentak
Aku rasa, hampir semua perempuan nggak bisa dibentak. Dalam artian nada bicara yang tinggi yang dimaksudkan untuk mengekspresikan amarah. Apapun alasannya. Meski perempuan berada di pihak yang salah. Kalau ketika berteriak untuk mengumpulkan barisan, membacakan peraturan, dsb ya itu bukan termasuk.
Tahu, nggak? Kalau ternyata, bentakan itu bisa membunuh jutaan sel di otak. Kalian bisa cari sendiri jurnalnya. Bayangkan kalau itu jadi konsumsi seseorang dalam kehidupan sehari-harinya. Nggak hanya sel-sel fungsionalnya yang hilang, tapi juga ia kehilangan seluruh potensi dalam dirinya, meyakini bahwa dirinya memang tidak pantas dan tidak berguna di dunia.
Tulisan ini jadi pengingat buat kalian para pembaca. Kalau perempuan itu bukan lemah, tapi satu hal yang jelas dan secara umum apa yang perempuan tidak boleh dapatkan, baik dari sesama perempuan ataupun lawan jenis. Siapapun, meski keluarga, sahabatnya, bahkan atasan kerjanya.
Kalau kalian sendiri terbiasa dididik dengan cara bicara yang bernada tinggi, mungkin sudah saatnya kalian mengerti bahwa penerapannya tidak bisa dilakukan di luar lingkungan kalian.
Some words I almost forget
nggak apa-apa kalau banyak pertanyaan yang belum bisa terjawab hanya dengan 10 detik kamu berpikir. kita diciptakan tidak hanya untuk menerka-nerka, berasumsi sekilas hanya ketika mendapat satu sudut pandang, atau bahkan memberikan pernyataan/pertanyaan yang bersifat menghakimi kepada orang lain.
makna manusia diciptakan sejatinya untuk menjadi pemimpin di Bumi, dengan pemaknaan luas, tentu saja salah satunya untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri. kita berhak, bahkan wajib, menyetir diri sendiri akan kemana arah membawa diri ini, karena hidup juga mengandung banyak pilihan.
berangkat dari rasa penasaran, alangkah baiknya melakukan riset dan perenungan. inilah kenapa pendidikan juga diperlukan, untuk pembentukan pola pikir. hingga tercipta suatu pertanyaan, hipotesis/praduga, merumuskan masalah dengan batasan tertentu, sampai terbentuk suatu pola pikir tersendiri yang bahkan bisa membantu memecahkan permasalahan di masyarakat, atau peliknya kepala yang terus-menerus berisik akan pertanyaan tak terbatas.
lingkungan mana yang kita pilih juga berpengaruh di dalamnya. karena siapa yang ada di sekitar kita, siapa yang kita pilih untuk pantas dipertahankan di kehidupan kita, akan berkontribusi membentuk pribadi kita yang kita pilih, serta membantu merumuskan proyeksi pemikiran.
selain itu, diperlukannya perasaan sabar ketika hal-hal di atas terjadi. sabar ketika melakukan proses mencari, sabar ketika harus menghadapi orang lain dengan pertanyaan menghakimi, sabar ketika satu-persatu melihat teman-teman sudah menyelesaikan tanggung jawab yang pernah dipikul bersama, sabar ketika lingkungan tidak kondusif--membuat diri semakin gusar, sabar ketika melakukan semua proses namun tidak ada yang menemani, bahkan sabar ketika harus berdamai dengan diri sendiri. sementara kepala dan batin terus-menerus memberontak.
ketahuilah, bahwa kita tidak benar-benar sendiri. Tuhan selalu melihat hambaNya yang bersabar melakukan proses demi proses. bahkan, ada yang tanpa kita sadari, mendoakan kita diam-diam di seberang sana. keluarga sendiri, mungkin? teman yang sudah tidak pernah kita sapa, mungkin? orang yang pernah menyakiti kita, lalu dia sadar akan kekhilafannya, mungkin? orang yang mencintai kita, mungkin? pelik dan kegelisahan, tak jarang mempersempit sudut pandang, membatasi ruang gerak, bahkan menghabiskan stok kesabaran pada satu waktu.
peluklah itu semua. berdamai dengan diri sendiri adalah kebutuhan. menegakkan kembali pundak dan punggung, serta menggerakkan kaki untuk melangkah, adalah keharusan.
semoga keyakinan terhadap ridho-Nya dengan cara di atas, adalah salah satu upaya sebaik-baiknya menghamba kepada-Nya.
Abu & Arang
Iya, keduanya sia-sia
Iya, keduanya karena api
Iya, rasa panas itu melegakan,
tapi segera,
Penyesalan itu menghantammu tanpa ragu
Yang Dibingungkan
Apa?
Kau sedang bingung,
Atau sebenarnya kau tahu
namun mengelak?
Apa?
Perlukah aku melemparmu
dengan kenyataan bahwa semua itu
hal yang tak diragukan?
Kata mereka
Cinta adalah hal yang membingungkan
Padahal merekalah pusaran kerumitan
Kata mereka
Keinginan adalah hal yang membingungkan
Padahal mereka hanya ingin dianggap berbeda
Oh tidak,
Aku sedang tidak mengatakan bahwa hidup itu sederhana
Tidak pernah, Anakku
Namun leluhurmu selalu mengajarkan
Bersabar,
ialah pengetuk pintu termasyhur
Yang tak satu pun cita-cita,
enggan untuk membukanya
Pojok Dipan
Mengapa petir hanya membakar satu pohon?Mengapa hujan begitu berharga bagi flora, sedang ombak tetap membara?
Mengapa bulan hanya berisi yang bermimpi, sedang terik dihujam emosi?
Aku tidak sedang ditemani bulan
Aku tetap berjalan,
aku tidak berada di manapun
Kita sama-sama terjebak
Suaramu menggema,
Aku terlena
Mengapa bahagia adalah dendam?
Mengapa dendam menggenggam siapapun yang bernafas?
Aku tidak sedang ditemani bulan
Aku tetap berjalan,
aku tak ingat dengan siapa
Brigitta D.
Bagaimana mungkin Allah menelantarkan mereka yang percaya akan takdir rezeki dan kemudahannya, sementara untuk orang yang ingkar dan tidak percaya tuhan saja Allah masih memberikannya rezeki di dunia?
Tidak mungkin pula Allah membiarkan hambanya sendirian dalam kesusahan dan kesulitan, sementara Allah saja juga memberikan kemudahan setelah kesulitan bagi orang yang tidak beriman. Sebagaimana tidak mungkin pula Allah tidak mempertemukan seseorang yang sedang mencari dengan apa yang ia cari, orang yang jauh dari Allah saja banyak yang sudah dipertemukan.
Benarlah, yang kurang darimu barangkali hanya kurang percaya dan kurang memperbaiki ibadah, kurang mengusahakan semampu dan sekuatnya, dan kurang berprasangka baik pada-Nya.
Bukankah jika Allah sudah mengiyakan, mustahil langit tidak menurunkan hujan dan bumi tidak menumbuhkan? Sehebat itu padahal kekuatan percaya dan doa, sayangnya kamu lebih suka berprasangka buruk dan pesimis, lebih suka mengadu pada manusia daripada penciptanya.
Menunggu reda
@jndmmsyhd
Cerpen : Bisakah Seperti Rumah Tangga Orang Lain?
Semakin dewasa, saat aku harus bekerja demi tuntutan kebutuhan hidup. Aku justru merasa semakin jauh dari keinginan diam-diam yang selama ini tak pernah kuutarakan. Apalagi, setelah aku lolos CPNS dan akan ditempatkan di sebuah kota kecil yang jauh lagi asing.
Setiap kali melihat rumah tangga teman-teman seumuranku, teman-temanku sewaktu dulu di kampus, di organisasi. Aku sering khawatir, apakah aku bisa menemukan orang-orang sefrekuensi ditengah pekerjaanku ini. Sejauh ini, bahkan belum. Lingkaranku yang semakin sempit, dan lingkungan kerja yang memiliki pola pikir hampir mirip. Apalagi ditambah nanti, di kota asing, dan dengan lingkungan kerja sesama PNS yang mana mungkin sudah senior/berumur seusia orang tuaku.
Aku ingin sekali menjadi diriku sendiri ketika sudah berumah tangga, tetap memiliki mimpi-mimpi yang selama ini kuhidupi, bertemu dengan pasangan yang mindsetnya luas dan terbuka, memiliki wawasan yang maju serta keinginan untuk belajar dan berkembang. Sesuatu yang dulu kutemukan di teman-temanku ketika kuliah dan berorganisasi, tidak lagi kutemukan di lingkungan kerjaku.
Aku bahkan mendengar curhatan teman yang tak diizinkan jualan online hanya karena suaminya malu disangka tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga, padahal kenyataannya kondisi keuangan rumah tangganya memang tidak baik, temanku hanya ingin membantu menopangnya, tapi tak diizinkan.
Atau ada juga temanku yang ingin bersekolah lagi, suaminya juga tak mengizinkan padahal dulu sebelum menikah, sesumbar ingin selalu mendukung mimpi pasangan. Memang, pas PDKT sama kalau udah nikah itu bisa beda sikap, sifat-sifat aslinya muncul.
Aku melihat teman-temanku, yang begitu leluasa bergerak dengan rumah tangganya. Bisa melakukan banyak hal. Aku bergumam, betapa beruntungnya mereka memiliki pasangan yang mindsetnya seterbuka dan seluas itu.
Dan kini, aku bimbang. Apakah aku akan terus menjalani pekerjaanku di lingkungan yang tak mendekatkan dengan mimpiku. Atau aku harus melepaskannya dan menembus kekhawatiranku sendiri, kebutuhan hidup, dan lain-lain. Aku ragu, akan menemukan pasangan yang demikian, ditempatku sekarang. Tapi, kalau aku pergi, orang tuaku yang berharap anaknya bekerja seperti saat ini, mungkin akan bersedih.
Yogyakarta, 6 Jan 2021 | ©kurniawangunadi
The book I've wanted since a year ago finally arrives today!🤩✨ it's "Laut Bercerita" (The Ocean's Tale) by the wonderful Leila S. Chudori. The book behind it was a bonus for myself because i was looking for another Tere Liye's "Negeri di Ujung Tanduk" but i was late, it was sold out, sucks. But it's okay, Tere Liye never dissapoint me so far.
,,Langit mengenakan jepit rambutmu dimana-mana''
,,Kesedihan jadi sumur, yang tidak sanggup ku sentuh dasarnya''
,,Aku sedang memikirkan, kenapa hidup lebih sering menunjukkan diri sebagai kata benda daripada kata kerja?"
M. Aan Mansyur: Tidak Ada New York Hari Ini - Episode 2 (YouTube)
hi there. someone really close to my heart commit suicide three weeks ago. I just... I pray he goes to jannat every time i pray but it feels futile. i need strength and i wish someone could tell me that he’ll be ok and in a better place not in a worse place than he already was. its just so hard i dont know what to do.. he was such a good person i wish he could get.. another chance? I just want him to be in a better place sorry im not sure where im going with it. thank you brother
You need to pray for him.
For some reason, Muslims believe that you cannot pray for someone who committed suicide, which honestly I don’t understand.
Imam Nawawi, a giant of the Shafi’i school wrote in Minhaj al-Talibin:
“The one who kills himself is like others in being washed and being prayed over.”
Imam Tumurtashi, a Hanafi Imam, wrote in his Tanwir al-Absar:
“The one who kills himself intentionally is washed and prayed over.”
Imam Ibn Abi Zayd, a master of Maliki Fiqh, writes in his treatise Al-Risala:
“If someone kills himself, the prayer is done for him. This is whether it is suicide or an accident. His wrong action is his.“
Imam Ibn Hazm, from the Zahiri school, wrote:
“prayer may also be said for one who commits suicide or kills some one else.”
Finally, it is Sheikh Muhammad Al-Munajjid, a modern Hanbali jurist (who is also the most ‘conservative’ Sheikh here), who writes the best answer to your question:
“[even] if it is proven that your cousin did commit suicide – that [does not mean] you should not pray for mercy and forgiveness for her, rather you must do that because she needs that. Suicide is not kufr that puts a person beyond the pale of Islam as some people think, rather it is a major sin that is subject to the will of Allaah on the Day of Resurrection: if He wills, He will forgive it, and if He wills He will punish for it.So do not neglect to make du’aa’ for her and be sincere in doing so; perhaps that may be the means of Allaah forgiving her.”
So praying is the best thing you can do, and it is what we must do.
Grief I feel like is something we do for ourselves, and it is important, and talking to an counselor is extremely important for you. So please go talk to one, even if it is just to get like a “check-up.”
But for them? Praying is what we can do and what we should do, insha Allah.
This is why we can never judge over someone who comitted suicide; that is neither our business nor disrupt the ones who suffer from depression and other mental illnesses. Say nice things or remain silent.
Kerudung Besar & Kecil
memilih judul di atas bukan tanpa alasan. penutup kepala itu merupakan salah satu cerita sangat bersejarah di keluargaku. satu benda berasal dari fabrikasi yang difungsikan sebagai penutup kepala (& dada, actually) turut dalam kisah perjalanan perubahan beberapa aspek kehidupan kami.
sengaja juga aku tulis di tanggal 22 Desember yang kalau di Indonesia, dinobatkan sebagai hari Ibu Nasional. karena yang merupakan anggota perempuan dalam keluarga kami ada 3 orang: mama, mba Rena, dan aku. yes, bapak satu-satunya orang ganteng di rumah.
pola pikir aku tentang memakai kerudung dimulai dari aku SD. berdasarkan sinetron-sinetron bocil yang aku rutin tonton ketika siang sepulang sekolah (masih TK) atau malam, aku punya bayangan waktu masuk SD nanti seragam putihku lengan pendek, rok merah selutut lengkap dengan kaus kaki putih, sepatu hitam, dan rambut dikuncir ala kuda poni.
ternyata, sangat berbeda 180 derajat. itu semua lenyap ketika mba Rena naik kelas 5 SD, tiba-tiba disuruh pindah ke sekolah swasta islam. yang otomatis, aku juga dimasukin ke sana. mau ga mau, seragam kita benar-benar tertutup dari ujung kaki sampai ujung kepala.
alhamdulillah dari kelas 1 sampai lulus, aku sama mba Rena ga pernah mengeluh seragam yang sumuk dan kenapa harus tertutup, apalagi sampai sengaja lepas kerudung menjelang pulang sekolah dengan posisi masih di sekolah atau bahkan di dalam mobil antar jemput yang sebenarnya itu campur sama teman-teman laki-laki. alhamdulillah, kami masih tahan wkwk.
waktu SD tuh aku beberapa kali secara langsung pake kerudung pas diajakin pergi sama keluarga. tapi beberapa kali juga justru mamaku nyuruh lepas aja karena masih kecil dan biar ga berasa sumuk (re: kegerahan). yaudah lepas beneran wkwk.
pakai-lepas kerudung masih berjalan sampe aku SMP, dan waktu SMA alhamdulillah udah mulai sangat berkurang. karena alhamdulillah, kedua ortu udah mulai sadar pentingnya pake kerudung dan gimana pengaruh sekeluarga nanti pas di akhirat, terutama si bapake. dan mama adalah orang yang selalu di depan urusan ngomel-ngomel kalau ada anaknya yang ga pake kerudung.
by the way, perjalanan pake kerudung mamaku juga ga mulus lho. mamaku pernah ada di fase belum sepenuhnya pakai kerudung yang sesuai syariat. tapi aku diam-diam kagum banget sama beliau, jujur, di dunia dimana menjadi orang yang istiqomah adalah hal tersulit, beliau berusaha seoptimal mungkin untuk menjadi teladan bagi sekitarannya, dengan salah satunya pake kerudung.
dan alhamdulillah, sekarang beliaulah yang jadi pelopor di keluarga besar untuk pake kerudung syar’i alias kerudung panjang. tetap, beliau orang nomor satu yang akan ngomel-ngomel kalau lihat anaknya ga pake kerudung wkwk. alasannya satu, “mama cuman pingin nanti pas di surga kita semua bisa berkumpul lagi, utuh.”
beliau juga salah satu orang yang berpartisipasi dalam pembentukan pola pikir dan identitas ketika pakai kerudung. kalau orang udah berkerudung, biasanya ke tempat makan akan dikasih tahu kalau ada bahan-bahan yang non-halal. dan hal-hal lain yang sangat banyak terasa manfaatnya dan ga mungkin aku sebutin semuanya di sini.
itu baru salah satu contoh gimana mamaku sangat SANGAT berperan penting dalam keluargaku. sisanya, tentu ngomel-ngomel kalau ada hal yang masih ngga sesuai sama tempatnya. tapi aku yakin, omelan seorang ibu itu pasti (baru kerasa) bermanfaat dan yang paling dicari (meskipun kadang bikin kuping panas wkwk) di kemudian hari, apalagi pas kita lagi jauh sama keluarga.
semoga keluargaku istiqomah dalam berkerudung ya, pastinya buat anggota perempuannya aja. dan istiqomah untuk ibadah-ibadah lainnya.