Persoalan terbesar ketika kita tidak bersikap baik bukan karena orang lain tetapi hati kita lah yang terlalu sempit memaknai baik atau tidaknya perlakuan mereka. Bersikap baik jika mereka baik. Begitu juga sebaliknya.
Dirumah kita tentu memiliki gelas. Jika gelas tersebut kita isi dengan air dan satu bungkus garam, bagaimana rasa airnya? Kita sepakat menjawab "Asin". Lalu coba kita taburkan satu bungkus garam itu ke kolam yang luas, bagaimana rasa airnya? Tentu kita sepakat menjawab "Tidak asin". Begitulah keadaan hati kita.
Jika hati kita lapang luar biasa, masalah kecil tidak akan besar. Sebaliknya masalah besar menjadi kecil. Masalah yang sulit akan terasa mudah. Tugas-tugas yang dirasa rumit akan ada jalan penyelesaiannya. Karena sandaran utama kita adalah Allah. Allah yang akan bantu.
Kita sering berkomentar, "duh hari ini Hujan lagi" padahal itu bukan masalah kita. Kita hanya perlu menikmati curahan rahmat-Nya dari langit. Sering juga kita jumpai atau lihat disosial media komentar-komentar yg tak berfaedah bahkan sampai cela-mencela pada kehidupan orang lain. Seolah kehidupan kita amatlah sempurna. Apa untungnya untuk kita?
Semua yang terjadi di dunia ini tergantung bagaimana kita menyikapinya. Menempatkan diri pada porsinya. Maka lapangkan hati agar hidupmu bahagia.
Tulisan ini terinspirasi dari kajian ustadz Adi Hidayat.