Tentang lisan yang berdusta
Ketahuilah di balik dusta yang dilontarkan oleh lisan, akan selalu ada hati kecil yang memberontak.
Ia tau kebenaran yang sesungguhnya. Ia mungkin mengutuk dirimu yang sudah berani berbohong di hadapan orang banyak hanya demi menyelamatkan diri.
Kamu mungkin merasa benar dan menang dengan segala kedustaan itu. Tapi hatimu tak akan pernah bisa tenang setelah hari itu. Hatimu akan terus gelisah dan bergejolak hebat, selayaknya belati tajam yang terus menghunus kalbumu.
Ada rasa malu, kecewa dan marah yang dia lontarkan padamu. Ada penyiksaan batin yang akan terus-menerus kamu rasakan. Meskipun di hadapan manusia kamu dipandang benar dan nama baikmu berhasil terjaga.
Sebuah malapetaka ketika hatimu tak merasakan apapun. Ketika kamu merasa aman dan nyaman dengan dusta yang kamu lontarkan. Artinya, Allah sedang membalas kebohonganmu dengan membuatmu merasa aman dari pantauan-Nya. Dia biarkan kamu seakan menang, sebelum nanti akan mendapat balasan dari tindakanmu. Entah akan dibalas di mana. Di dunia ataukah di akhirat. Yang jelas, semakin lama pembalasan tertunda maka semakin parah efek yang akan ditimbulkan.
Bukan, bukan niatku menakut-nakutimu. Tapi, mungkin hatimu yang membatu butuh bukti akan kebesaran-Nya.
Ketahuilah, di saat dusta itu tersebar dan dipercaya oleh banyak orang, lalu orang tersebut menghinakan bahkan menyerang orang yang benar dan jujur, maka hal itu sangat mengguncang dirinya.
Ia bukan melemah karena tindakanmu. Bukan ia down karena merasa takut padamu. Ia melemah dan begitu sedih karena rasa kagetnya melihat tingkahmu, yang sudah begitu yakin berjalan di atas kebohongan. Yang sudah begitu lantang bersuara di balik dusta.
Padahal ia tau, mata dan hatimu mengetahui kebenarannya.
Juga ia tau bahwa ada Allah yang menyaksikan segalanya.
Ia terjerembab pada kesedihan karena begitu ngeri membayangkan apa yang akan terjadi padamu suatu hari nanti dan sangat mungkin kamu melaluinya sendiri. Dalam diam. Dalam senyap.
Karena jika kamu bersuara atas balasan yang Allah beri, maka orang-orang yang terpengaruh di masa lalu secara otomatis akan mengetahui kedustaan yang pernah kamu lakukan dahulu.
Butuh proses bagi orang yang terzalimi untuk bangkit. Ia menangis bukan karena takut padamu. Melainkan ia takut pada Rabbnya. Ia tak menyangka orang yang ia anggap jujur begitu mudah berdusta dan merasa yakin dengan dustanya.
Orang yang terzalimi butuh proses untuk pulih. Ya, saat ini ia mungkin terlihat lemah, terlihat mengenaskan. Tapi satu hal, di mata Allah ia tidak bersalah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi dan Allah tidak akan diam begitu saja.
Teringat sebuah pesan dari seorang teman Hafidzahallah padaku. Kurang lebihnya ia pernah mengucapkan,
"Seharusnya orang-orang yang berbuat zalim itu ketakutan, karena orang yang dizaliminya memiliki Allah, dan sebuah malapetaka menanti, ketika ia telah mengadu kepada Rabbnya!"
Setiap jiwa yang berani berdusta hanya demi menjaga eksistensi dirinya di hadapan manusia, tentu tak akan bisa mengelak atas kuasa Allah yang bisa menimpanya. Dan sepatutnya ia pun sadar bahwa bertaubat kepada Allah tak pernah cukup sebelum orang yang ia zalimi meridhoinya.
Karena ia telah menzalimi hak orang lain, bukan menzalimi hak Allah.
—SNA, Ruang Untukku #7
Sabtu, 17-07-2021 | 15.38
Venetie van Java.








