https://nujatiagung.com/kpk-jebloskan-immanuel-ebenezer-usai-putusan-inkrah/
seen from India

seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from Australia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Poland

seen from New Zealand
seen from Costa Rica
seen from Poland
seen from United States
seen from Chile
seen from Yemen

seen from Poland

seen from Somalia
seen from Germany
seen from United States
https://nujatiagung.com/kpk-jebloskan-immanuel-ebenezer-usai-putusan-inkrah/
Mantan Kalapas Sukamiskin Ditahan di Lapas yang Pernah di PImpinnya
Inanews - KPK ekseskusi Wahid Husein mantan Kalapas Sukamiskin, ke Lapas yang pernah dipimpinnya sendiri. Saat ini Wahid sedang melakukan masa pengenalan lingkungan (Mapenaling). "Mulai hari ini, ikut mapenaling (masa pengenalan lingkungan) sesuai aturan," kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jabar, Abdul Aris saat dikonfirmasi wartawan. Selama mengikuti mapenaling, Wahid belum dapat dijenguk oleh siapapun, termasuk keluarganya sendiri. "Tidak boleh ditengok," katanya. Meski Wahid di eksekusi ke Lapas yang pernah di pimpinnya itu, Aris menjamin tidak ada perlakuan khusus bagi Wahid. "Tidak ada perlakuan khusus. Semua sama saja," katanya. Diberitakan sebelumnya, Wahid divonis hukuman pidana delapan tahun penjara oleh majelis hakim pada Pengadilan Tipikor Bandung. Ia juga diwajibkan membayar denda Rp 400 juta subsider 4 bulan kurungan. Wahid terbukti menerima uang dan hadiah dari Fahmi Damarwansyah, Tubagus Chairil Wardhana, dan Fuad Amin saat masih menjabat Kalapas Sukamiskin. Read the full article
Ogoh yang Bodoh
Ogoh tak henti-henti menatap sekelilingnya dengan bingung. Walau bingung, ia tak berani bertanya apa-apa kepada dua pria berdada bidang di sebelah kanan dan kirinya, karena wajah keduanya sangat tegang dan garang.
Sembari terus berjalan entah kemana, Ogoh memikirkan serangkaian kejadian yang akhirnya menuntunnya ke tempat ini. Ogoh tertangkap tangan saat sedang berusaha menggasak mesin ATM di seberang gang tempatnya tinggal. Ogoh terinspirasi dari sebuah adegan di film aksi tentang perampokan bank yang sering ia tonton dari DVD bajakan bersama dengan beberapa warga di pos ronda. Di film, perampoknya selalu berhasil dan langsung kaya raya. Namun Ogoh terlalu takut dan tidak percaya diri untuk merampok bank, jadi ia mulai dari mesin ATM terlebih dahulu.
Apa mau dikata, namanya juga film bajakan. Ogoh tak pernah tuntas menonton filmnya karena film selalu macet saat adegan pamungkas, di mana semua perampoknya akhirnya tertangkap. Yang Ogoh ketahui hanya sekadar sukses merampok dan kaya raya. Sudah berpura-pura ramah pada tukang parkir yang berjaga di depan ATM agar si tukang parkir tak curiga, lalu masuk dan berhati-hati menggunting kabel CCTV tanpa ketahuan, tapi nahas, ia ketahuan juga karena membobol mesin ATM dengan palu, hingga dentumannya terdengar sampai keluar bilik ATM. Nasib Ogoh masih beruntung, karena ia tidak habis dipukuli bahkan dibakar warga, seperti yang sudah-sudah.
‘Aduh, sue bener ini nasib.' Gumam Ogoh dalam hatinya. Bila ia lebih berhati-hati dan cerdas, mungkin ia bisa berhasil seperti Pak Doy, ketua RT di tempatnya tinggal, yang setiap menjelang Maghrib selalu membawa pulang sesuatu, entah itu antena televisi, kasur lipat, bahkan karpet mewah yang katanya diimpor langsung dari Arab. Ogoh tahu betul, bapak-bapak kate dengan kumis tebal yang bernyanyi Indonesia Raya saja tak becus itu tak mungkin membeli barang-barang tersebut dengan uangnya sendiri.
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Ogoh harus tinggal di ‘Rumah Pembinaan.’ Dasar Ogoh bodoh dan polos, tentu saja ia tak tahu bahwa ‘Rumah Pembinaan’ hanyalah nama lain untuk penjara, agar katanya terkesan lebih manusiawi dan modern. Ibarat seorang penjahat yang memakai nama alias atau samaran, padahal isi dan penampilannya masih tetap sama, kira-kira seperti itulah ‘Rumah Pembinaan’ ini.
Selesai melamun, rupanya Ogoh belum sampai juga ke tempat tujuannya. Lorong dihadapannya begitu panjang dan seolah tak ada ujungnya. Di sisi kanan serta kiri mereka hanya ada pintu-pintu yang tertutup rapat. Hingga kemudian, dua orang pria berdada bidang itu menghentikan langkah mereka. Ogoh ikut berhenti. Salah seorang dari mereka membuka pintu dan mempersilakan Ogoh masuk tanpa berkata apa-apa. Ogoh masuk, dan baru saja ia ingin bertanya, pintu sudah ditutup kembali.
Ogoh menoleh. Sudah ada dua orang pria di ruangan yang baru saja ia masuki. Ogoh melihat sekelilingnya lagi. Ruangan ini sedikit lebih luas dibandingkan dengan kos-kosan sempit tempatnya tinggal, namun lebih gelap dan pengap. Kedua pria itu menatapnya sekilas, lalu seolah tak peduli dan asyik dengan urusan mereka masing-masing. Yang satu melamun, yang satu lagi juga sedang melamun, tapi kemudian tertawa sendiri, hingga membuat Ogoh bergidik ngeri.
“Udah dari kapan Mas di mari?” Ogoh mendekati pria yang satu yang terlihat ‘lebih waras’ dan berusaha membuyarkan lamunannya.
Pria kurus berkumis tipis itu hanya mengacungkan jari telunjuknya.
“Setaon?” tanya Ogoh lagi. Pria itu hanya mengangguk.
Ogoh kemudian berusaha menjabat tangan kanan pria kurus itu. “Ogoh.” Ia memperkenalkan dirinya.
“Panjul.” Tak disangka, kali ini pria bernama Panjul itu merespon Ogoh.
Sepersekian detik kemudian, Ogoh dikejutkan dengan suara musik keras yang sepertinya terdengar dari atas kepalanya. Ogoh menoleh kemudian berusaha mencari-cari dari mana sumber suara itu. Namun ia tak melihat apa-apa selain lampu pijar 10 watt yang ada di atas kepalanya.
“Wes biasa. Ada pesta.” Panjul berkomentar setelah melihat Ogoh yang terus celingukan.
“Pesta? Gokill! Jelek-jelek gini, ada pesta juga ya di mari.” Kata Ogoh takjub. “Kite boleh ikut kagak nih?” lanjut Ogoh lagi.
Tiba-tiba pria gempal bertelanjang dada yang dari tadi Ogoh tak ketahui namanya tertawa keras. “HAHAHAHA... tong ngimpi, Goh.. Goh! Aya aya wae!” katanya, membuat Ogoh terkejut bukan kepalang.
Ogoh menatapnya sinis kemudian mengarahkan wajahnya pada Panjul. “Ngomong apa sih?” bisiknya pada Panjul, namun ia tak berani menanyakannya langsung pada si pria gempal.
“Ojo ngeguyon, Goh... Goh…Situ punya duit? Sanggup mbayar buat ikutan?” tanya Panjul.
“Heh belekok, kalo punya duit, manehna gak mungkin di dieu.” timpal Ujang, memarahi Panjul.
Ogoh mengerutkan dahinya. “Bayar? Ngapa bayar dah? Kan bukan mau naek angkot..” protesnya.
Belum sempat Panjul menjawab, gemuruh terdengar lagi dari atas. Kali ini beserta riuh tepuk tangan dan Ogoh juga mendengar komat-kamit serta desahan keras namun tak jelas.
“AMPUN DIJEEEE!” suara tinggi melengking terdengar dan musik keras mengalun kembali, membuat Ogoh semakin penasaran.
“Ah ikutan ah! Diem-diem bae di mari. Kagak bosen ngapa?” Karena Panjul dan Ujang tak menjawab, Ogoh hanya mengangkat bahunya, kemudian berusaha membuka pintu ruangan, tapi terkunci.
Ogoh berusaha mengintip lewat lubang kecil di pintu, kemudian mata sipitnya menangkap sosok pria kurus yang sedang lalu lalang di depan ruangannya. Jika dilihat sekilas, pria kurus berkacamata itu terlihat sedikit lebih ramah dibandingkan dengan dua pria berdada bidang yang tadi menggiringnya ke ruangan ini.
“Pakkkkk! Buka pakkkk!” Ogoh mengetuk pintu dengan keras dan heboh, berharap agar pria itu mendengar suaranya.
Ogoh bersyukur karena pintu akhirnya terbuka, namun dugaannya salah karena wajah pria itu justru lebih tegang dan garang.
“Ada apa?!” tanyanya galak.
“Anu, Pak.. katenye ada pesta ya di atas? Saya mau ikut dong, bosen di marimulu...” kata Ogoh tanpa dosa.
Tanpa tedeng aling-aling, si pria kurus berkacamata langsung menempeleng kepalanya hingga Ogoh hampir terjatuh. Ogoh sangat terkejut karena tak menyangka tempelengan pria kurus itu begitu kuat.
“Sampeyan ini gendheng ya? Sana masuk!” bentak pria itu sembari mendorong Ogoh, kemudian mengunci pintu kembali.
“HAHAHA... belegug maneh mah!” Ujang langsung menertawakan Ogoh kembali setelah melihatnya ditempeleng pria kurus berkacamata tadi.
Ogoh kembali menatap Ujang sinis, tapi kemudian ia sadar, tak ada gunanya meladeni orang tak waras seperti Ujang.
“Wes dikasih tahu toh, Goh.. Goh... Kalo mau ikut pesta di atas, situ harus punya duit, mbayar, ora gratis! Mereka di atas itu lho ya, ‘tukang obat’ semua, punya pohon duit, tiap malam Minggu yo pasti pesta. Sampeyan kalo ndak punya duit, ojo ngarep bisa pesta!” Panjul mengingatkan Ogoh.
“Apaan sih? Duit? Tukang obat? Kagak ngarti, ah!” keluh Ogoh bingung. Dari mana ia bisa dapat uang? Sebelum masuk ke ‘Rumah Pembinaan’, Ogoh tak boleh membawa masuk apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya. Jangankan uang, cadangan kutang pun Ogoh sudah tak punya. Ogoh juga tak mengerti apa hubungannya tukang obat dengan uang. Mak Reot, dukun tua di gangnya saja terkenal bukan karena kemampuannya meracik obat, tapi karena rumahnya yang sudah reot dan hidupnya yang terlalu miskin.
“Ya, uang....... Duit....... Puuu...luuuuussss......” Ujang menanggapi pertanyaan Ogoh sembari menggesekkan jari jempol dan telunjuknya. “Hadeh, kumaha atuh, gitu aja ga ngarti. Karunya teuing.”
“Sudah toh Goh. Sing penting koe banyak-banyak ikhlas kalau sudah di sini.” Panjul menghibur Ogoh.
Ogoh mengerutkan dahinya. Belum ada sehari, tapi ‘Rumah Pembinaan’ ini sudah membuatnya bingung dan pusing tujuh keliling.
Suara ribut-ribut yang tadi didengarnya mendadak berhenti. Kemudian Ogoh mendengar derap langkah kaki di luar ruangan. Melalui lubang kecil, ia melihat sangat banyak orang di luar. Ada beberapa pria berdada bidang, ada juga pria kurus yang tadi menempelengnya, kemudian ada banyak orang-orang yang tak Ogoh kenal, lalu Ogoh juga melihat beberapa dari mereka membawa kamera, entah itu kamera sungguhan atau kamera ponsel. Mereka terlihat sedang mengerubungi sebuah ruangan yang tadi Ogoh lewati, tapi kali ini pintunya terbuka.
Seorang wanita berambut pendek dan berpakaian rapi kemudian keluar bersama dengan beberapa pria di belakangnya yang terlihat sedang mengangkat dispenser air. Dispenser itu sangat mirip dengan dispenser yang pernah dibawa pulang oleh Pak Doy. Tak hanya dispenser, Ogoh juga melihat sebuah kulkas kecil, dan sebuah kotak besar berisi sesuatu yang tak pernah Ogoh lihat sebelumnya. Semuanya dibawa keluar dari ruangan itu.
Seorang pria tegap dan berkumis kemudian bertanya pada pria kurus yang tadi menempeleng Ogoh. Ogoh bisa melihat dan mendengarnya dengan jelas karena mereka tepat berada di hadapannya sekarang.
“Penjara apa warnet ini? Kok ada komputer?”
Pria kurus itu tak menjawab dan wajahnya berubah pucat, tak segarang tadi.
Suasana semakin riuh karena semakin banyak orang mengerubungi si pria kurus berkacamata.
“Pak, apa benar dari empat puluh lima petugas, ada empat puluh satu yang terlibat dalam transaksi ini?”
“Pak, apa benar Anda salah satu dari empat puluh satu orang tersebut?”
“Pak, apa benar Anda yang mengkoordinir semua transaksi?”
“Pak...Pak!”
Ogoh buru-buru memalingkan wajahnya dari lubang pintu, karena takut ketahuan mengintip.
“Itu ngapa dah Jul?” tanya Ogoh pada Panjul.
Panjul mengangguk. “Wes biasa juga itu Goh.” Jawabnya pasrah.
“Yang penting…..
…….puuuuu......luuuuuusssssss.........” timpal Ujang bersama dengan Panjul sembari menggesekkan kembali jari jempol dan telunjuknya. Bahkan Panjul yang terlihat waras pun mulai tertular gila. Atau memang ia sudah gila sejak awal?
Ogoh menghela napas. Hari-harinya di ‘Rumah Pembinaan’ ini sepertinya akan terasa sangat membingungkan.
Pembelaan Lapas Sukamiskin Soal Sel Istimewa Novanto
Inanews.cc - Keistimewaan sel koruptor e-KTP Setya Novanto dibongkar. Ukuran sel Novanto yang dianggap luas jadi persoalan. Bermula dari inspeksi mendadak (sidak) Ombudsman, terbongkarlah di mana Novanto menjalani hukuman di Lapas Sukamiskin, Bandung. Sel berukuran 3 meter x 5 meter menjadi hunian Novanto selama ini. "Ruangan Pak Setnov (Setya Novanto) itu 300 cm-500 cm," ucap Kepala Lapas (Kalapas) Sukamiskin Tejo Harwanto saat ditemui di kantornya. Namun Tejo memastikan bila sel itu memang sudah ada sejak lapas itu dibangun Belanda. Sel dengan ukuran yang sama disebut Tejo ada sekitar 40 ruangan dari total 552 sel. "Sejak 1918 itu sudah dikluster oleh bangsa Belanda. Ada ukuran kecil, sedang dan besar. Kalau berdasarkan kluster itu ukuran besar itu jumlahnya 40 kamar yang seperti itu," sebut Tejo. Di dalam sel Novanto, terdapat kasur yang dilapisi seprei berwarna putih. Tampak pula rak buku serta meja kerja lengkap dengan kursinya. Melongok ke arah kamar mandi, ada kloset duduk yang menurut Tejo memang sebenarnya sudah direncanakan ada di semua sel. Dia mengklaim hampir 80 persen sel di Lapas Sukamiskin dilengkapi kloset duduk. Apa alasannya? "Kloset duduk ada keuntungannya, karena pertama untuk orang-orang lansia karena 60 sampai 70 persen penghuni lapas ini berusia di atas 50 tahun, jadi kesulitan. Kedua kebersihan dan kesehatan, tapi ini ada di seluruh kamar mestinya seperti itu. Dan ini dalam penganggaran," katanya. Selain itu, Tejo membela diri tentang dinding sel yang dilapisi wallpaper atau kertas dinding yang tampak mewah. Menurutnya, dinding sel dilapisi kayu untuk mengantisipasi rembesan air ketika hujan. "Kelihatan mewah, memang itu kamarnya dilapisi kayu. Itu dulu karena berdampak apabila hari hujan. Itu dinding rapuh rembes, tapi dilakukan oleh masing-masing warga binaan," kata Tejo. Terlepas dari itu, Tejo siap apabila nantinya dicopot dari jabatannya gegara itu. Dia hanya berharap semua orang dapat melihat masalah ini dengan kepala dingin. "Kalau kita sudah berbuat, tiba-tiba dinilai buruk ya silakan saja. Saya siap (dicopot)," ujarnya. Read the full article
Dalam video itu Najwa Shihab menceritakan ide sidak lapas Sukamiskin tercetus setelah kepala lapas ditangkap KPK. Najwa menuturkan dia segera menghubungi Yasonna dan meminta izin bergabung dengan timnya untuk sidak lapas Sukamiskin. Sebelumnya Najwa Shihab sudah pernah ikut sidak Sukamiskin pada 2013. Najwa lantas menceritakan perbandingan dua sidak yang dilakukannya. Selengkapnya di https://goo.gl/Lg4u7v #najwashihab #korupsi #lapassukamiskin #instastory #politik #indonesia #nkri #kpk