“Aku termasuk orang yang percaya dengan takdir. Ketika kita dipertemukan dengan seseorang atau dengan suatu keadaan, semua itu terjadi diluar kendali kita. Gak ada yang kebetulan, semuanya sudah diatur.”
“Kenapa ya cewek-cewek itu ngeribetin banget? Jadi mau kalian apa sih, girls? Gak semua cowok-cowok punya skill se-dewa dukun atau paranormal, bisa tau apa yang kalian mau tanpa harus kalian kasih tau? Gimana kami bisa ‘peka’ kalau kalian aja gak mau bilang apa yang kalian rasain ke kami, please lah.”
“Termasuk saat aku pertama kali ketemu dia. Dan bikin aku semakin yakin bahwa takdir itu ada. Takdir bahwa kami akhirnya dipertemukan, walau di belakangnya juga mungkin ada saatnya kami dipisahkan. Hmm, aku masih belum siap dengan kalimat terakhir yang barusan ku ucapkan. Kadang takdir itu lucu, dari 7.2 miliar manusia di dunia ini yang tersebar di 7 benua dan dipisahkan oleh 5 samudera, aku masih gak ngerti kenapa takdir memilih dia?”
“But, I have to admit this, suatu hari saya sadar bahwa keribetan itu lah yang membuat saya malah semakin rindu. Saat-saat dimana saya senang, semakin hari diminta buat semakin ‘peka.’ Saat-saat dimana saya mau membuat dia bahagia, tanpa harus menunggu dia yang meminta saya untuk membahagiakan dia…”
“Rahel! Mama gak masak! Kalo mau makan beli aja ya! Jangan lupa beliin buat Dina sama Lea. Oh iya, kalo mau beli makanan, Mama nitip bakso botak sebungkus yah! Pake tahu, sambel yang banyak! Kalo gak ada duit ambil aja di laci!”
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku sembari tersenyum kecut. Padahal udah sepuluh menit yang lalu aku masuk ke kamar dan sempet melihat Mama duduk di ruang tamu sambil nonton TV. Dia pasti lagi serius banget, sampe gak sadar kalo aku udah pulang dari tadi.
“Bakso emang semuanya botak kali Mah! Gak ada yang gondrong, kalo gondrong, banyak rambutnya mana enak!” sahutku iseng dan seneng aja denger reaksi mamaku kalo diganggu pas lagi asyik-asyiknya nonton. Kadang sih dia diem aja, tapi lebih sering balik ngoceh-ngocehin aku.
“….lagi seru nih, padahal si Boy udah mati! Aneh kok malah makin seru ya?” mamaku berteriak lagi dan kayanya gak kepancing dengan keisenganku barusan, karena dia malah seolah cari alasan kenapa hari ini dia gak masak, padahal dari kemarin-kemarin juga udah begitu
“Lama-lama bisa beli motor Ninja tuh, ikut trek-trekan di jalan.” Celetuk Lea, adik keduaku sambil asyik main handphone di tempat tidurnya. Ia paling senang menyindir Mama yang setiap hari keranjingan nonton sinetron Anak Jalanan. “Siap-siap lo, bentar lagi dikasih makan oli sama bensin tiap hari.” Lanjutnya lagi.
“Sana lah, ngomong langsung di depan Mama.” Sahutku. “Mau nitip apa?” tanyaku lagi. Padahal tadinya aku mau masak Indomie aja di rumah, karena udah tau Mama pasti gak masak. Huh, kalo tau orang rumah pada mau dibeliin makanan, tadi aku mampir dulu di deket kantor sebelum pulang.
“Ikutin punya lo aja lah. Bebas.” Jawab Lea cuek.
Aku hanya mengangkat bahu dan bersiap mengambil dompetku. Namun aku baru sadar, benda kotak berwarna pink lusuh itu tidak ada di tas ku. Panik, aku menumpahkan semua isi tas ku ke lantai dan membuat Lea kaget.
“Kenapa lo? Mau jadi anak jalanan juga?” tanyanya heran.
Aku tidak menjawab dan masih mengacak-acak semua barang-barangku yang sekarang berserakan di lantai. Udah kaya kapal pecah. Bener, dompetku nggak ada disana.
“Dompet gue kemana ya?” tanyaku entah pada siapa.
Lea mendengus. “Hmm, udah biasa ini mah. Itu kepala lo kalo gak nempel bisa ilang juga kali, kelupaan ditaro dimana.” Sindir Lea. Dia sudah tau dan hafal betul dengan sifat ceroboh dan pelupaku.
“Heh, bantuin gue sini. Kalo nggak gak makan nih kita.” Gerutuku panik.
Lea meletakkan handphone nya dan kemudian ikut membantuku mencari. “Ketinggalan di kantor kali.” Ujarnya sambil membuka semua resleting tas ku.
Aku diam dan mencoba mengingat-ingat. Benar juga, jangan-jangan ketinggalan di kantor. Aku kemudian melirik jam dinding kamarku. Jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Lima belas menit lagi kantor tutup! Aku langsung tancap gas keluar dari kamar tanpa membereskan barang-barangku yang masih berserakan di lantai.
Saya berulang kali menggaruk kepala saya yang sebenarnya dari tadi tidak gatal. Kesal dengan sifat pelupa saya yang makin hari makin nyusahin. Kok bisa saya lupa dengan deadline rekap penjualan barang yang harus diserahkan malam ini juga? Dan bodohnya, ini udah yang kesekian kalinya saya lupa. Walaupun saya pelupa, saya masih ingat dengan jelas kata-kata bos tadi siang.
“Kalo hari ini gak ada di meja saya, siap-siap beresin barang-barang kamu, terus besok gak usah kerja di sini lagi.”
Sialan, belum ada sebulan kerja, masa saya sudah diancam mau dipecat? Tapi kata-kata bos memang tidak bisa dibantah. Apalagi kalau bos mu perempuan yang konon katanya gak pernah salah. Kelar lah hidup ini.
Sambil menyusun laporan, pikiran saya melayang-layang entah kemana. Kadang saya bingung dengan diri saya sendiri, kok saya mau yah bersusah payah bekerja dari nol di tempat seperti ini. Bukannya sombong, tapi pekerjaan lain yang lebih baik sudah menanti saya di luar sana, tapi bila saya ambil, berarti saya melanggar sumpah saya untuk menjadi pria sejati. Sounds cheesy, but you must know my situation. Saya bukan tipe anak yang akan dengan senang hati menerima warisan keluarga dan langsung kaya mendadak. Lebih bangga aja kalau saya bisa mendapatkan apa yang saya mau dengan usaha dan keringat saya sendiri.
Well, semua itu bukannya tanpa risiko. Cewek-cewek yang pernah saya pacari dulu dengan mudah meninggalkan saya, memang semudah saat saya bisa mendapatkan mereka sih. Alasan mereka aneh, bilang saya terlalu sibuk lah, kurang perhatian lah, kurang uang lah. Gak sedikit juga dari mereka yang merasa bahwa saya gak serius pacaran dengan mereka, contoh simpelnya, masa lupa tanggal jadian, atau tanggal ulang tahun? Meskipun saya pelupa, lagi-lagi saya malah bisa ingat dengan jelas pengalaman-pengalaman buruk yang terjadi dalam kehidupan percintaan saya. Salah satunya, diputusin cewek hanya karena saya lupa tanggal ulang tahunnya. Jelas lah, kami baru pacaran sebulan waktu itu, dan toh saya tetep ngucapin juga kok walaupun setelah di ambekin seharian plus ngasih kado parfum Victoria apa lah itu yang harganya setara dengan uang sekolah di sebuah SMP swasta selama satu bulan. Besoknya, diputusin juga. Alasannya, saya gak perhatian lah, dan yang paling bikin gondok adalah, dia merasa kalau saya main-main. One thing that you girls should know is, I don’t have any time to play around. Pria dengan usia 27 tahun hampir kepala tiga ini masih kalian anggap main-main? Wow.
“Mas, udah mau tutup, mas.” Tiba-tiba Pak Diman, satpam kantor muncul di hadapan saya.
Saya melirik jam kantor yang lima menit lagi menunjukkan pukul tujuh. Sebenarnya jam bubar kerja sudah sejam yang lalu, tapi kantor baru akan benar-benar ditutup pukul tujuh, mengantisipasi ada karyawan yang akan lembur seperti yang saya lakukan sekarang. Untungnya tinggal satu tabel lagi yang harus saya copy, lalu tinggal saya print dan ditaruh di meja Ibu Bos.
“Bentar lagi ya Pak.” Jawab saya sembari berusaha tersenyum ramah pada Pak Diman yang sudah keliatan bete nungguin saya. Pak Diman kemudian berlalu tanpa berkata apa-apa.
Saya kemudian mempercepat kerja saya. Semua udah beres, tinggal di print. Gawatnya, printer di lantai bawah tempat saya bekerja udah mati semua, dan buat nyalainnya saya harus menyalakan semua komputer, juga router Wi-Fi di ruangan ini. Terlalu canggih dan jadinya nyusahin emang. Kemudian saya memutuskan untuk meng-copy nya di flashdisk dan di-print di lantai dua saja. Printer yang lebih kuno, namun kali ini kekunoan itulah yang malah menolong saya.
Karena printer dan komputer nya ada di dekat tangga, saya malas menyalakan lampu ruangan. Untuk menghemat waktu juga. Cepat-cepat saya print data berjumlah sepuluh halaman itu dan pulang sebelum Pak Diman ngunciin saya di dalam ruko ini. Hanya ada suara printer dan mungkin hembusan nafas saya yang mengisi ruangan ini. Sampai kemudian saya mendengar suara aneh yang semakin mendekat ke sini.
“Sebentar lagi Pak, tunggu ya. Jangan dikunci dulu.” Saya langsung menoleh dan berbicara pada Pak Diman yang sepertinya bersiap mengusir saya. Namun ternyata pemilik langkah kaki itu bukan Pak Diman, tapi milik seorang gadis yang wajahnya familiar tapi saya gak tau namanya. Dia keliatan gak peduli dengan kehadiran saya dan langsung menyalakan lampu. Saya hanya mengangkat bahu dan lanjut mengerjakan pekerjaan saya. Untung semua sudah tercetak dan tinggal saya letakkan di ruangan bos.
Sekembalinya dari ruangan bos, saya masih melihat gadis itu di lantai dua. Wajahnya keliatan panik dan beberapa kali mengobrak-abrik meja yang kayaknya adalah meja kerjanya. Penasaran, akhirnya saya datengin dia.
Dia gak jawab, masih sibuk membuka tutup laci meja dan berjongkok di kolong meja. Saya hanya diam perhatiin dia. Lalu pandangan saya tertuju ke meja seberang. Ada sesuatu yang aneh dan gak seharusnya ada disana.
“Cari ini?” saya menyodorkannya pada gadis itu yang langsung diterimanya dengan gembira.
“Ya ampunnn!! Ini diaaa!! Makasih lohhh!” ujarnya riang kemudian memeluk saya tanpa canggung. “Gila, ini isinya uang sekolah Dina buat sebulan.” Lanjutnya kemudian melepaskan pelukannya seolah tidak terjadi apa-apa di antara kami barusan.
“O…okay..” saya gak tau harus merespon apa.
Setelah mengecek isinya, ia kemudian melirik saya. “Kok belum pulang? Eh lo baru ya? Kayanya gue baru liat.” Tanyanya. Wajahnya tak lagi sejutek tadi sebelum menemukan dompetnya. Sepertinya usianya jauh lebih muda dari saya, terlihat juga dari warna dan motif dompet yang dia pakai.
“Ya gitu deh. Lembur. Udah yuk, keluar. Udah diusir Pak Diman.” Jawab saya seadanya karena saya paling tidak tahan dengan situasi canggung seperti ini.
“Okay. Makasih loh udah nemuin dompet gue.” Ujarnya lagi dengan riang. “Gue Rahel.” Kemudian ia menyodorkan tangan kanannya.
“Ernest.” Saya balas menyalaminya sambil tersenyum tipis. Dari pertemuan pertama saya dengannya, entah kenapa firasat saya mengatakan gadis ini menyenangkan dan akan sulit untuk ditaklukkan. Eh, mikir apa sih saya barusan?
Setelah lari-larian dan gondok karena angkot yang kutumpangi lama banget ngetemnya, akhirnya aku sampe juga di kantor. Aku lupa bawa handphone dan lagi gak pake jam tangan jadi gak tau sekarang udah jam berapa. Yang jelas aku agak lega karena masih liat Pak Diman di depan pintu kantor, berarti belum jam tujuh. Walaupun mukanya agak asem, karena pasti ada yang lagi lembur, jadi dia gak bisa langsung nutup kantor.
“Aduh, Neng Rahel ngapain lagi kesini? Udah mau tutup loh. Lembur juga?” bener kan, dia langsung bete pas liat aku dateng.
“Nggak Pak. Aduh Pak, saya seneng banget liat bapak masih disini. Ada yang ketinggalan Pak di dalem, menyangkut hidup mati saya nih.” Jawabku berusaha kedengeran sesedih dan sememelas mungkin, padahal yang tadi aku bilang itu cuplikan dialog yang aku denger dari sinetron yang tadi Mama tonton.
“Ya udah, buruan ya Neng.” Akhirnya ia mengizinkan aku masuk.
Aku langsung buru-buru masuk, tapi gak ada siapa-siapa di dalam. Mungkin yang lagi lembur udah pulang. Ah bodo amat, aku cepet-cepet naik ke atas, sambil inget-inget dimana terakhir kali aku taro dompetku. Waktu naik, aku agak kaget dan takut karena tiba-tiba ngeliat ada yang lagi berdiri di deket tangga, baru aku mau teriak, dia kayanya udah tau kalo aku mau naik.
“Sebentar lagi Pak, tunggu ya. Jangan dikunci dulu.”
Syukurlah, itu ternyata karyawan yang lagi lembur, bukan hantu. Tapi suaranya agak asing, baru kudenger hari ini, ah nanti dulu deh. Yang penting sekarang cari dompetnya dulu. Aku langsung menyalakan lampu dan tancap gas ke meja kerjaku. Heran juga kok dia betah ya gelap-gelapan.
Sialnya, yang kucari kok malah ga ada. Aku bener-bener lupa dimana terakhir kali aku taro dompet itu. Biarpun udah dekil karena gak pernah diganti sejak SMA, yang penting kan isinya. Di laci gak ada, di kolong juga. Aku mulai panik.
“Cari apa?” si cowok tak dikenal itu ikut nyamperin aku. Aku gak sempet lagi ladenin pertanyaannya saking paniknya. Penasaran, akhirnya aku coba cari lagi di laci, semua map aku keluarin, tapi gak ada juga. Di kolong juga sama aja. Gimana pula ini? Mama pasti marah besar kalo tau, bisa lebih marah daripada pas aku ganggu kalo dia lagi nonton sinetron.
“Cari ini?” aku menoleh dan seneng saat ngeliat si pinky dekil dipegang sama cowok itu.
“Ya ampunnn!! Ini diaaa!! Makasih lohhh!” saking senengnya bahkan aku peluk dia. Ini emang respon mendadakku, saking senengnya. “Gila, ini isinya uang sekolah Dina buat sebulan.” Lanjutku lagi, gak peduli mau dia ngerti apa nggak dengan omonganku, dan akhirnya aku lepas pelukanku.
“O…okay..” bener kan dia gak ngerti sama omonganku barusan. Mukanya keliatan bingung, entah karena omonganku yang tadi atau karena tiba-tiba kupeluk.
Setelah ngecek lagi isi dompetku dan syukurnya gak ada yang hilang, akhirnya aku bisa liat mukanya dengan lebih jelas. Ganteng juga. Cool nya mirip Nicholas Saputra di Ada Apa dengan Cinta, brewok nya mirip Reza Rahadian, body nya tinggi kaya Jo In-sung. Tuh kan buat hal remeh temeh gini aku bisa inget, tapi kenapa aku sering banget lupa bawa pulang sesuatu atau lupa taro barang-barangku sendiri? Kayanya cuma orang aneh dan kurang kerjaan aja yang bisa inget sama tinggi badannya artis Korea, sampe brewok nya Reza Rahadian segala, tapi sering lupa sama barang-barang sendiri taronya dimana. Scumbag brain.
“Kok belum pulang? Eh lo baru ya? Kayanya gue baru liat.” Aku langsung memulai percakapan dengan ekspresi dan nada seramah mungkin. Selain seneng karena dia yang nemuin dompetku, cowok ganteng begini sayang juga kalo dijutekin.
“Ya gitu deh. Lembur. Udah yuk, keluar. Udah diusir Pak Diman.” Jawabnya serius dan kayanya udah gak betah banget sama tempat ini.
“Okay. Makasih loh udah nemuin dompet gue.” Aku berterima kasih lagi. Oh iya, aku belum tau namanya. “Gue Rahel.” Lanjutku, mengajaknya kenalan.
“Ernest.” Sahutnya singkat, kali ini pake bonus senyum.
Lima belas menit kemudian kami—iya kami, bukan aku doang—akhirnya baris di antrian bakso botak. Sebenernya ini bakso biasa, dijual di gerobak yang abang penjualnya botak. Karena waktuku udah habis buat balik ke kantor dan ngambil dompet, gak ada pilihan lain selain bakso botak ini yang bisa dibeli. Selain karena deket kantor, harganya juga murah. Agak kaget karena si Ernest-Ernest ini mau ikut. Kaget karena dari tadi doi serius dan jutek banget, eh malah mau ngikut juga. Well, kayanya sifatnya gak sejutek mukanya sih.
“Enak gak sih baksonya?” tanyanya padaku saat kami masih nunggu giliran.
“Sebenernya sih biasa aja. Tapi sambelnya enak. Pedes.” jawabku. Sebenernya aku gak gitu suka makan bakso disini, yang doyan sih Mama. Ini aja aku cuma mau beliin buat Mama, Lea sama Dina. Kalo buatku sendiri, nanti makan Indomie aja di rumah. Lagi ngidam Indomie Soto pake telur setengah mateng sama cabe rawit tiga potong. Hmmmm……
“Ya namanya sambel pasti pedeslah, Nona. Kalo gak pedes berarti itu permen.” Sahutnya meledekku. “Jadi kamu makan bakso apa sambelnya nih?” tanyanya lagi.
“Ya dua-duanya lah. Emang salah kalo lebih suka sama sambelnya daripada sama baksonya?” sahutku tak mau kalah.
“Ya kalo gitu kamu makan aja pake sambel, gak usah beli bakso.” Ernest balas meledekku lagi.
Aku tersenyum kecut. Nyebelin banget sih orang ini? Tapi bener juga sih, gak sejutek yang kukira pertama kali.
“Manyun aja, ngambek nih?” tanyanya karena dari tadi aku diam aja.
Aku meleletkan lidah padanya. “Rese banget sih lo. Kirain jutek, cool-cool gak jelas kaya di film, ternyata gesrek juga.” Sahutku apa adanya, mengutarakan apa yang ada dipikiranku.
“Cool-cool? Kembali ke laptop dong?”
“Itu Tukul!” sahutku geregetan dan reflek memukul lengannya. Orang-orang yang mengantri di dekat kami ikut menoleh dan ngetawain kami. Untunglah akhirnya giliran kami tiba juga jadi aku gak harus dengerin ke-gesrekan orang ini lagi.
Menyenangkan juga menghabiskan waktu sama Rahel ini. Benar juga ada pepatah yang bilang, terkadang menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita kenal selama 5 tahun gak menjamin semua obrolan akan nyambung, dan menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita kenal selama 5 menit gak menjamin semua obrolan akan tidak nyambung. Eh apa sih? Saya lupa intinya apa, kan saya pelupa. Tapi yang jelas, saya agak bersyukur dapet kesempatan lembur hari ini. Bukannya sombong lagi, tapi feeling saya jarang meleset. Cewek ini bener-bener unik, walaupun agak childish sih.
“Umur kamu berapa sih?” saya memberanikan diri bertanya setelah kami selesai beli bakso dan jalan kaki balik ke kantor lagi karena motor saya diparkir di depan kantor.
“Hmm tahun ini 21. Eh nggak deng udah 21.” Jawabnya.
“Masa umur sendiri lupa sih? Oh iya, dompet aja bisa lupa ya di taro dimana, apalagi umur.” saya meledeknya lagi, seolah tidak berkaca bahwa saya juga pelupa.
Ia terkekeh. “Bener kok. Baru inget ini udah akhir tahun, jadi ulang tahun ke-21 gue pasti udah lewat.” Jawabnya santai, bahkan berani ‘ber-gue elo’ dengan saya, padahal dari tadi saya hanya ‘ber-aku kamu’ dengannya. “Lo emang berapa?” ia bertanya balik.
“Lebih tua dari kamu lah.” Sahut saya merahasiakan umur saya. Gak heran sih tingkahnya masih childish dan ceria bercampur bawel, umurnya masih sangat muda, seumuran dengan Dion, adik bungsu saya. “Kok umur segitu udah kerja, gak kuliah?” saya bertanya lagi.
“Emangnya kalo mau kerja harus setua elo dulu apa?” ia balas meledek saya. Wah, sudah berani dia. Kemudian ia tertawa. “Bercanda lagi. Nggak lah. Gak ada duit.” Lanjutnya, kemudian saya bisa melihat senyumnya agak memudar.
“Hmm, sorry.” Saya buru-buru meminta maaf karena sepertinya mulai menyinggungnya. Alarm tanda berhati-hati saya mulai berbunyi karena saya tidak pernah tahu apa yang saya katakan bisa begitu berdampaknya pada seorang perempuan. Sensitif, katanya.
Tapi kemudian ia malah nyengir lagi. “Sorry kenapa? Lebaran udah lewat, udah gak musim minta maaf-maafan.” dia gak tersinggung rupanya.
Saya hanya tersenyum dan akhirnya kami sampai juga di depan ruko tempat kantor kami bernaung. Pak Diman sudah tidak ada dan rolling door ruko sudah ditutup. Motor saya masih terparkir rapi di depan kantor. Lalu kemudian saya melihat Rahel berdiri membelakangi saya dan berusaha menghentikan angkot yang lewat.
“Eh, ngapain kamu?” tanya saya heran. Saya kira ia sudah tahu bahwa saya akan mengantarnya pulang—walaupun tadi saya belum mengajaknya—seperti yang biasa saya lakukan pada mantan pacar atau gebetan saya sebelumnya. Hmm, perempuan memang sulit dimengerti.
Rahel menoleh. “Mau pulang lah. Masa nginep?”
“Bareng aja. Rumahmu dimana?” jawab saya sembari menyalakan mesin motor.
“Gak papa nih? Emangnya searah?” ia bertanya lagi.
“Udah naik aja. Lagian malem-malem gini bahaya pulang sendiri.” Saya mengeluarkan kata-kata yang dulu sering saya katakan pada pacar-pacar saya terdahulu. Yang membuat image saya sebagai pria gentle semakin nyata di hadapan mereka.
“Halah, biasa juga pulang sendiri, gak ada apa-apa.” Sahut Rahel seenaknya dan agak beda dari ekspetasi saya. "Tapi kalo ada yang gratis kenapa nggak.” Lanjutnya kemudian langsung duduk di jok belakang.
“Eh, siapa yang bilang gratis?” saya meledeknya. Entah sudah berapa kali hari ini saya meledeknya, padahal kami baru saling kenal hari ini.
“Ya udah gak jadi.” Nothing to lose, dia turun lagi.
Saya terkekeh. “Naik lah. Gitu aja ngambek.”
“Kok lama sih baliknya Hel?” aku langsung disambut Mama sesampainya di rumah. Ernest menurunkan aku di depan gang karena motornya susah untuk masuk, jadi ia tidak bisa melihat rumahku.
“Padahal mau liat rumahnya dimana.” Katanya barusan, sesaat setelah kami sampai.
“Terus kalo udah liat kenapa? Lagian rumahnya kecil. Lo kalo mau gerakin tangan disana, temboknya bisa langsung retak, kesenggol tangan lo, saking sempitnya.” Jawabku ngasal.
Ia tertawa. Aku senang sekali melihat senyum manisnya. “Lebay. Udah ah, balik ya. Thanks for today. Kalo baksonya gak enak, awas ya.” Ia pamitan sekaligus mengancamku.
“Eh, ditanya malah senyum-senyum sendiri. Abis pacaran ya?” pertanyaan Mama barusan membuyarkan lamunanku.
“Apaan sih, nggak lah.” Sahutku salah tingkah. “Emang Anak Jalanannya udah abis Ma?” aku mengalihkan pembicaraan karena kulihat televisi sudah mati.
“Ya iya lah. Kamu pulangnya malem bener. Mama udah laper nih. Si Dina sampe ketiduran. Udah yang jatah dia ditaro di kulkas aja, buat besok dipanasin.”
Aku jadi merasa tidak enak. Seandainya dompetku tidak tertinggal di kantor, mungkin aku sudah pulang dari tadi. Eh tapi aku jadi gak punya kesempatan ketemu Ernest dong? Hmm, serba salah.
“Abis tadi ngantri banget Ma si botak.” Sahutku akhirnya, mencari jawaban yang paling aman. Dan untunglah Mama sepertinya percaya.
Keesokan paginya, aku lebih bersemangat untuk berangkat ke kantor. Bangun lebih pagi, sarapan lebih kenyang, dan mandi bersih-bersih. Pertemuan dengan Ernest kemarin membuatku lebih ceria dan semangat. Ada hikmahnya juga dibalik sifat pelupaku. Atau emang semuanya murni hanya takdir.
“Tumben bener lo jam segini udah bangun?” Lea keheranan melihat tingkah anehku.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Lalu kemudian aku baru ingat, bodohnya, kemarin kami lupa untuk tukeran nomor handphone atau ID Line. Nanti akan kuminta.
Saya baru saja ingin meletakkan tas, saat ia menyapa saya. Itu Rahel. Sapaannya barusan sampai membuat semua yang ada di lantai bawah menoleh dan menatap kami heran.
“Tumben banget lo main ke bawah Hel?” tanya Elga, rekan kerja saya yang juga bekerja di lantai bawah.
“Ya gakpapa.” Jawab Rahel masih dengan intonasi cerianya. “Gimana, enak kan baksonya?” ia bertanya lagi pada saya.
Saya agak salah tingkah karena dilihat oleh banyak orang, jadi saya hanya mengangguk. Rahel agak kecewa dengan respon cuek saya barusan, kemudian ia hanya menyerahkan secarik kertas pada saya, lalu pergi.
“@Rahelxxxxx. Di-add ya.”
Saya tersenyum saat membaca isi kertas itu. Saya juga baru ingat kemarin saya lupa meminta kontaknya, dan sepertinya ia juga demikian. Pelupa bertemu dengan pelupa. Pelupa united.
“Uhh nyebelinnn!” saking kerasnya aku menggerutu di mejaku, semua orang menoleh.
“Kenapa lo?” Tania yang duduk di seberangku sampai bertanya.
Aku hanya menggeleng. Malas juga menjawab pertanyaannya. Tadi Ernest jutek lagi padaku. Aku curiga jangan-jangan dia punya kepribadian ganda. Untuk meredam kekesalanku, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku. Lalu tak sampai lima menit kemudian, handphone ku berdering. Ada sebuah pesan masuk. Wah dari Ernest rupanya.
“Baksonya gak enak. Bener kata kamu, yang enak itu sambelnya. Jadi semalem aku makan nasi pake sambel aja deh. Tapi kok rame ya, jangan-jangan main dukun.”
Aku tertawa keras-keras setelah membaca pesannya dan membuat sekitarku menoleh lagi karena kaget. Aku hanya menutup mulutku dan memberi isyarat permintaan maaf ke mereka, kemudian membalas pesan Ernest tadi dengan tumpukan sticker Line. Dasar cowok cemen, aku baru sadar ia mungkin malu karena tadi dilihat oleh teman kantorku, jadi ia menanggapi pertanyaanku seadanya dan baru bawel lagi di chat Line.
“Nanti mau pulang bareng lagi gak?”
“Mau lahh…” aku membalas pesannya sembari menyelipkan sticker motor.
Aku jadi gak sabar nunggu jam pulang kerja. Kayanya kali ini aku jatuh cinta sama Ernest. Emang tadinya cuma karena mukanya yang ganteng sih, tapi cowok ini nyenengin. Lovable. Dan mirip sama almarhum Papa. Tapi dianya juga suka sama aku gak ya?
“Tumben gak lembur lagi nih?” baru turun saja Rahel sudah meledek saya lagi.
“Nggak dong. Dompet kamu udah dibawa belum?” saya balas meledeknya.
Ia tersenyum kecut. “Udah lah ya.”
“Ngomong-ngomong, gue lupa nanya, kemaren lo lembur kenapa? Jarang-jarang ada karyawan baru lembur.” Sembari berjalan ke luar, ia bertanya lagi pada saya.
“Lupa ngerjain deadline.” Sahut saya apa adanya. “Kalo gak lembur aku gak bakal ketemu kamu lagi. Udah dipecat.” Lanjut saya.
“Alah, sama-sama tukang lupa aja saling ngeledek.” Rahel akhirnya jadi tahu kalau saya juga pelupa, but that’s okay. I think I’m falling in love with her.
“Rumah gue masih inget kan dimana?” tanyanya lagi, menguji saya sesampainya kami di parkir motor.
Saya mendekatkan wajah padanya. “Kalo gak inget, kan kamu bisa kasih tau dimana.” Jawab saya lembut sekaligus mengeluarkan jurus maut saya. Seperti feeling saya kemarin, gadis seperti Rahel ini sepertinya sulit didapatkan. Dan sesuatu yang lama dan sulit didapatkan biasanya akan bertahan lama juga ketika sudah berhubungan.
Tapi sepertinya ia tidak tersentuh. “Iya deh iya. Terserah lo deh.” Jawabnya nyeleneh, seperti biasa. Malah raut wajahnya keliatan geli setelah denger saya ngomong gitu.
Saya hanya tersenyum sembari berkata dalam hati, ‘Tuh kan, susah.’
Ernest diem aja sepanjang perjalanan pulang kami. Aku juga gak bisa banyak ngomong kali ini. Tingkah dia barusan yang tiba-tiba deketin mukanya kaya di film-film bikin baper dan aku speechless. Aneh, padahal waktu pertama kali ketemu aku bisa santai aja meluk dia. Cuma tadi sebisa mungkin aku bertingkah biasa aja pas denger dia ngomong.
Perjalanan pulang juga jadi berasa lebih cepet. Tiba-tiba udah sampe aja di depan gang. Aku baru mau turun, tapi Ernest gak berhentiin motornya. Malah dia terobos aja itu gang sempit.
“Awas ya kaki kamu, nanti kepentok.” Dia ngingetin aku.
“Ih kan udah dibilangin sempit, di depan gang aja.” Aku bales ngomel.
Dia kayanya gak peduli sama omelanku barusan. “Yang mana rumah kamu?”
Karena udah ‘terlanjur basah’, akhirnya aku biarin aja dia nganterin sampe depan rumah. “Itu yang temboknya pink. Yang gak ada pagernya.” Sahutku.
“Kamu bener-bener suka pink ya? Sampe rumah aja dicat pink juga.” Ujarnya lagi.
“Hah? Maksudnya?” aku gak ngerti sama kata-katanya barusan.
“Iya, dompet warna pink, rumah juga dicat pink.” Sahutnya.
“Oalah. Kirain apa.” Aku gak tau mau jawab apa. Tuh kan, dia yang pelupa aja kok bisa inget warna dompetku. Bikin baper.
Sesampainya di depan rumah, Ernest akhirnya menghentikan motornya. Aku buru-buru turun. “Tuh kan, udah dibilangin sempit. Masuk dulu yuk, ketemu nyokap gue.” Aku mempersilahkannya masuk. Tapi gak lama kemudian Mama keluar juga, mungkin dia bingung ada ribut-ribut apa di luar.
“Tante..” Ernest langsung menyalami Mama ku dengan sopan, tapi ekspresi Mama agak kaget dan keliatan kurang suka, apa perasaanku aja ya?
“Masuk dulu yuk.” Aku mengajaknya masuk lagi, tapi kayanya dia gak mau. Mungkin karena rumahku kecil, sempit pula.
“Nggak papa. Aku langsung pulang aja ya. Gak enak ganggu. Yuk Tante…” ia berpamitan padaku, juga pada Mama.
Setelah motornya menghilang dari depan rumah, Mama buru-buru menarik tanganku masuk ke dalam rumah. Perasaanku agak gak enak.
“Itu siapa?” tanya Mama serius, gak seperti biasa.
“Ya… bukan lah. Hmm, belom kali Ma. Mungkin nanti.” Aku berusaha menebak-nebak isi pikiran Mama, biasanya kan suka nyuruh anaknya cepet-cepet nyari pacar, jadi aku kasih aja jawaban itu.
“Jangan deket-deket dia lagi.” di luar dugaanku, Mama malah ngomong begitu. Raut mukanya agak serius, bener-bener gak kaya biasanya.
“Ke..kenapa emangnya?” tanyaku tergagap.
“Pokoknya jangan. Mama udah ingetin kamu ya. Nanti kamu sendiri yang tau akibatnya.”
Rahel ini anak mamanya banget. Mirip. Kayanya saya makin jatuh cinta sama cewek ini. Semoga kali ini dia gak nganggep saya main-main, gak kaya mantan-mantan saya yang sebelumnya. Oh, mungkin sekarang gantian saya yang ajak dia ke rumahnya.
Gila, emang jodoh, dia langsung ngirim chat. Dan pasti langsung cepet-cepet saya bales.
“Sorry ya, tadi nyokap gue kayanya jutek ke lo.”
OMG, that’s okay, Rahel. Mungkin dia khawatir ngeliat anak perempuannya dideketin cowok, I think I know the feeling. Akhirnya saya coba memberanikan diri, mengajak dia ke rumah besok.
“Besok, pulang kantor kosongin waktu ya. Mau ajak kamu jalan-jalan.” Saya mengirim pesan ke dia, lalu handphone saya matiin, biar surprise liat jawaban dia apa. Saya cepat-cepat tidur, gak sabar besok mau ketemu dia lagi. Lalu tanpa saya sadari, dia cuma me-read chat saya. Tanpa dibalas.
“Besok, pulang kantor kosongin waktu ya. Mau ajak kamu jalan-jalan.”
Chat itu udah berulang-ulang kubaca tanpa kubalas. Bingung mau bales apa. Apalagi aku agak mempertimbangkan kata-kata Mama semalam. Tapi penasaran juga sih kenapa Mama kok gak suka sama Ernest, padahal kan mereka baru ketemu kemarin. Apa karena Ernest gak seganteng Boy di Anak Jalanan?
Aku masih bingung, mau aku iyain aja ajakan Ernest atau cari alasan buat nolak, tapi apa? Aku gak bisa nolak dia. Hmm, siapa tau lewat pergi-pergi hari ini aku bisa ketemu alasan kenapa Mama gak suka sama Ernest.
Bener aja, di jam pulang kantor dia udah nungguin aku.
“Kok gak dibales sih semalem?” tanyanya memulai percakapan.
“Ketiduran. Terus lupa. Kan gue pelupa.” Jawabku setelah memikirkan alasan selogis mungkin.
Dia cuma nyengir lalu mempersilahkan aku naik ke motornya.
“Kita mau kemana sih?” tanyaku karena jalan yang kami lewatin agak sedikit asing.
“Tungguin aja.” Sahutnya.
Kemudian kami berhenti di depan sebuah rumah megah. Aku melongo saking takjubnya. “Ini rumah lo?” tanyaku.
Gerbang kemudian terbuka, lalu Ernest melajukan motornya masuk ke teras. Rumah ini mungkin sepuluh kali lipatnya rumahku. Tapi aku heran, Ernest sudah sekaya ini, tapi kok dia mau kerja di ruko kecil macam tempat kerja kami?
Ia kemudian menggandeng tanganku setelah kami turun dari motor. “Masuk yuk.”
Aku ngikut aja sambil bertanya-tanya dalam hati. Kalo cowok udah ngajak cewek ke rumahnya, berarti?
“Mama gak di rumah ya Bi?” Ernest bertanya pada seorang asisten rumah tangganya dan yang ditanya cuma geleng-geleng kepala. Mukanya agak kecewa pas tau Mamanya lagi gak di rumah.
“Padahal mau kenalin kamu sama Mama.” Ujarnya padaku. “Kan kemaren aku udah ketemu Mama kamu, sekarang gantian.”
“Ya udah sama bokap lo aja.” Aku menanggapi seadanya.
Ernest terkekeh. “Papa udah gak ada. Oh iya, kemaren aku lupa mau ketemu Papa kamu juga.”
Aku ikutan nyengir. “Bokap gue juga udah gak ada. Lagi main sama bokap lo kali disana.” Aku lupa, aku pernah cerita soal Papa gak yah ke dia?
Dia nyengir juga. “Duduk di situ dulu ya kamu. Aku mau ke dalem sebentar.” Ia kemudian menuntunku ke ruang tamunya yang super luas itu.
Aku duduk di sofa putihnya sembari ngeliat sekeliling. Ada lemari kaca yang isinya pajangan-pajangan, di tembok juga dipajang foto keluarganya Ernest. Sekilas aku cuma bisa liat di situ ada papanya, mamanya, Ernest, lalu ada dua cowok lain, mungkin itu adik-adiknya yang pernah dia ceritain. Mamanya keliatan cantik dan badannya tinggi, biarpun aku gak bisa liat mukanya dengan jelas. Akhirnya, karena mataku minus, aku deketin foto itu, penasaran juga mau liat Ernest kecil, apa sejak kecil dia udah seganteng sekarang, tapi aku langsung tersentak kaget saat ngeliat ada sosok yang bener-bener aku kenal disitu.
Aku masih gak percaya sama apa yang aku liat. Kudeketin lagi mukaku dan yang kuliat malah makin jelas. Ngapain Papa ada di foto keluarganya Ernest?
Scumbag brain ku kembali mengingatkanku ke sebuah drama Korea yang pernah ku tonton sampe mewek-mewek bareng Mama dulu. Ceritanya tentang dua orang yang saling jatuh cinta, tapi ternyata mereka saudara jauh. Entah ketuker di Rumah Sakit, atau salah satu orangtuanya ada yang kawin lagi, aku lupa apa penyebabnya. Tapi masa iya, yang kualami sekarang sama kaya drama itu?
“Deket amat ngeliatinnya?” tiba-tiba Ernest muncul mengagetkanku. Dia mungkin heran kenapa aku ngeliatin foto keluarganya terus-terusan.
“Itu…. bokap lo?” tanyaku ragu.
Dia cuma ngangguk. “Ganteng kan? Mirip aku.” Jawabnya masih dengan iseng dan kepedean, kaya biasa.
Aku cuma tertawa miris, gak tau mau ngerespon apa.
“Dia meninggal pas aku baru lulus SMA, kanker paru-paru.” Jelasnya lagi dan sekarang kami berdua malah sama-sama ngeliatin foto keluarganya.
Kanker paru-paru, sama dengan penyebab kenapa papaku juga meninggal. Ya iyalah, orangnya aja sama. Tapi bedanya, Papa meninggal saat aku masih kelas 6 SD. Berarti beda umurku dengan Ernest lumayan jauh juga ya. Sekarang aku baru tau kenapa dulu Papa jarang pulang ke rumah. Berarti pas Papa lagi gak di rumah, ya Papa ada disini. Dan pantes juga Ernest bener-bener mirip sama Papa.
“Kok bengong aja?” tanyanya lagi karena dari tadi aku diem aja.
Aku berusaha menahan air mataku. Udah lama banget aku gak nangis, seingetku kayanya terakhir kali pas nonton drama sedih itu. Dan sekarang drama sedih itu malah jadi kenyataan. Sialan bener.
“Terus elo ngapain kerja di kantor, kalo lo ternyata anak orang kaya? Banyak duit..” pertanyaan itu meluncur gitu aja dari mulutku, saking usahanya buat nahan air mata, suaraku kedengeran gemetar.
Parahnya, Ernest tau ada yang gak beres sama aku. “Kamu kenapa?” dia gak jawab pertanyaanku barusan dan malah nanya balik, juga reflek nyamperin dan mau ngerangkul aku, tapi aku juga reflek ngejauh dari dia.
“Kayanya gue harus pulang sekarang. Pala gue pusing.” Tapi yang kupegang malah perut, saking stress nya.
Agak lama saya memperhatikan Rahel. Dia keliatan terkesima banget sama foto keluarga saya. Mungkin makin jatuh cinta sama kegantengan saya.
Sayang banget Mama lagi gak ada di rumah. Padahal niat saya sebelumnya, saya juga mau kenalin Rahel ke keluarga saya. Kan dia kemarin udah. Dion juga belum pulang dari kampus. Victor pasti lagi sibuk ngurusin wedding nya. Iya, adik kedua saya itu dua minggu lagi married dan saya dilangkahi. Untung saya bukan perempuan, kalau saya perempuan mungkin udah habis jadi bahan omongan banyak orang.
“Deket amat ngeliatinnya?” saya akhirnya gak tahan buat nyamperin Rahel. Mungkin selangkah lagi dia bisa ikutan masuk ke dalam foto keluarga saya, saking deketnya dia ngeliatin.
Dia keliatan salah tingkah waktu saya samperin. “Itu…. bokap lo?” tanyanya tapi kedengeran agak ragu dan setengah gak percaya, menurut saya sih.
Saya mengangguk sambil senyum. “Ganteng kan? Mirip aku.” Mungkin setelah ini dia akan kegelian habis denger jawaban saya barusan. Tapi dia cuma nyengir, dan gak jawab apa-apa.
“Dia meninggal pas aku baru lulus SMA, kanker paru-paru.” Karena dia diem aja ya saya ngomong lagi. Saya lupa selama kenalan dan chatting-an sama Rahel, saya pernah atau nggak ya cerita tentang keluarga saya, apalagi tentang Papa. Papa yang meninggal karena kanker paru-paru akut. Gimana nggak, sehari bisa tiga bungkus rokok habis. Papa yang setiap hari Sabtu-Minggu atau beberapa hari lain pasti gak di rumah, sibuk kerja katanya.
Tapi Rahel masih diem aja. Kalo saya gak salah liat, matanya agak berkaca-kaca. Apa jangan-jangan dia ikutan sedih setelah denger penjelasan saya barusan? Duh, cewek-cewek ini emang susah banget dimengerti. “Kok bengong aja?”
“Terus elo ngapain kerja di kantor, kalo lo ternyata anak orang kaya? Banyak duit..” dia tiba-tiba ngelantur dan suaranya agak gemetar. Saya berasa ada yang gak beres.
“Kamu kenapa?” saya bertanya balik dan berusaha deketin dia, tapi dia malah ngejauh. Loh, salah apa saya?
“Kayanya gue harus pulang sekarang. Pala gue pusing.” Ujarnya akhirnya. Saya mau ketawa karena yang dia pegang malah perut, tapi kayanya sekarang bukan waktu yang pas buat ngajak dia bercanda, jadi saya cuma turutin aja apa yang dia mau.
Sepanjang perjalanan pulang, saya jadi berasa makin gak enak karena dia diem aja. Saya mikir keras apa yang udah saya lakuin tadi yang bikin dia marah kaya sekarang. Atau mungkin dia beneran gak enak badan ya? Aduh, cewek-cewek kok suka banget sih bikin pusing?
“Masih sakit gak kepala kamu?” saya memberanikan diri untuk bertanya.
“Lumayan.” Jawabnya singkat dan beda dari biasanya. Tuh kan, saya makin yakin dia marah beneran sama saya. “Nanti di depan gang aja ya, gak usah di depan rumah lagi.” lanjutnya lagi.
“Okay.” Jawab saya singkat, karena gak tau mau jawab apa lagi.
Sesampainya di gang rumah Rahel, dia masih diem aja. “Thanks ya.” Ujarnya singkat sebelum masuk ke rumah. “Oh iya.” Tapi kemudian dia balik badan lagi dan balas ngeliatin saya. “Lo pelupa kan?” kenapa hari ini dia sering banget nanyain pertanyaan aneh, tapi saya ngangguk.
“Kalo gitu pasti gampang kan lupain gue. Mulai sekarang kita gak usah ketemuan lagi.”
Aku nangis sejadi-jadinya sesampainya di kamar. Mama, kaya biasa masih asyik nonton sinetron kesukaannya. Lea sama Dina untungnya lagi gak di kamar, jadi kamar bisa kubajak hari ini. Masih gak percaya kalau ternyata aku dan Ernest masih sedarah. Ada darah Papa yang sama mengalir di dalam tubuh kami berdua. Segala perasaan campur aduk, sebel karena Mama gak pernah cerita, berasa bego karena selama ini gak pernah curiga kenapa Papa dulu jarang pulang plus berasa dibohongin abis-abisan sama Papa-Mama, masih gak terima kenyataan, karena aku masih cinta sama Ernest, tapi ada sedikit rasa bersyukur juga karena untungnya kami belum lama berhubungan, jadi mungkin bakal lebih gampang buat saling lupain.
Tiba-tiba aku ngerasain seseorang duduk di belakangku. Paling itu Lea. Aku cuekin karena gak mau siapapun di rumah ini tau kalo aku lagi nangis. Gila, ini muka pasti udah gak karuan saking sedihnya.
Aku kaget karena ternyata itu Mama. Tumben banget dia mau bangun dari bangku, padahal aku tau sinetron itu jam segini belum habis. Aku menoleh. Biarin aja, biar Mama liat kalo anaknya ini lagi sedih.
“Tumben Ma, filmnya udah habis?” gak tahan, aku nanya juga ke Mama.
“Lagi iklan. Untung iklannya lama.” Jawab Mama ngocol. Sekarang aku tahu bakat iseng dan asal jawabku ini nurunnya dari mana. Semua orang emang bilang kalo aku lebih mirip Mama, kurang mirip Papa. Itu juga mungkin yang bikin Ernest gak ngeh kalo aku ini adik tirinya. Damn, jadi sedih lagi aku.
“Udah tau kan?” nada bicara Mama berubah serius.
“Mama kenapa gak pernah bilang?” aku bertanya balik. Aku masih gak ngerti ada apa di antara Mama, Papa dan Mamanya Ernest, dan untuk sekarang ini kayanya otakku juga gak minta buat ngerti.
“Toh sekarang kamu tau sendiri kan? Udah ya, jangan deket-deket dia lagi. Demi kebaikan kamu juga.” Mama kembali ngingetin aku, lalu dia pergi. Mungkin sinetronnya udah mulai. Kayanya Mama juga enggan atau mungkin malu buat ceritain masa lalunya sama Papa. Dia cuma pengen anaknya ini gak jatuh ke kesalahannya yang sama, mungkin? Semuanya serba kemungkinan.
Saya sampai lelah mengetik karena gak ada satupun chat saya yang dibalas oleh Rahel. Well, seenggaknya dia kasih tau kek, jelasin kek salah saya dimana, jadi saya gak harus ngerasa stress kaya sekarang. Tanpa angin, tanpa hujan, tanpa petir menyambar, tiba-tiba seenaknya aja dia bilang, kita gak usah ketemu lagi. Kata-kata yang paling saya benci dari cewek yang mau hubungannya udahan.
Saya juga masih mikir keras apa yang bikin Rahel tiba-tiba berubah. Tadi dia cuma ngeliatin foto keluarga saya, lalu jadi begini. Emang apa yang salah? Apa karena dia liat muka saya dulu yang lebih jelek daripada sekarang? Atau apa sih? Kayanya emang lebih gampang bikin penelitian gimana caranya buat ngerti seluruh alam semesta ini, daripada bikin teori buat ngertiin seorang cewek.
Besoknya, she’s completely different. Emang sih masih senyum waktu muka kami saling bertemu, tapi setiap kali saya ajak ngomong, dia menghindar. Aneh memang. Saya tarik lagi kata-kata saya waktu pertama kali ketemu dia. Ternyata semua cewek emang sama aja, bikin pusing, ngerepotin.
Ernest masih getol banget, usaha buat ngajakin aku ngobrol. Pengen banget nanggepin ajakannya, tapi gak bisa. Yang ada aku malah makin susah ngelupain dia. Karena gak tega, aku juga gak bisa sepenuhnya jutekin dan cuekin dia. Ketika mata kami saling bertemu, aku cuma bisa menyunggingkan senyum tipisku. Apa mungkin aku harus pindah kerja biar gak usah ketemu dia lagi?
Aku gak ngerti, dari sekian banyak laki-laki di muka bumi ini, kenapa aku malah ketemunya sama Ernest? Sosok yang setengah mati berusaha aku cintai dan aku ingat kebiasaan-kebiasaannya, tapi sekarang malah setengah mati mau aku lupain?
“Ada teori yang pernah bilang, lupa sih ini udah teruji secara ilmiah atau belum, sesuatu yang baru kita kenal emang akan lebih gampang buat dilupain. That’s why, orang-orang yang sakit Alzheimer akan lupa dengan hal-hal yang baru mereka tahu dan inget selama 3 bulan terakhir. Jadi kasian tuh yang baru nikah selama 3 bulan, tapi akhirnya lupa dengan suami/istri yang baru mereka nikahin, malah ingetnya sama mantan yang dipacarin 5 tahun yang lalu, misalnya. Kalau aku? Antara bersyukur karena Ernest mungkin akan dengan gampang aku lupain dan gak rela karena pertemuan kami berakhir dengan begitu cepat.”
“Dan beginilah akhirnya. Kayanya semua usaha saya sebagai seorang pria sia-sia (lagi). Saya gak pernah bisa ngerti apa yang seorang wanita mau. Dan lagi-lagi, si cewek gak pernah mau bilang apa yang sebenernya dia mau. Mungkin Rahel akan sama kaya cewek-cewek yang sebelumnya saya kenal. Cuma bedanya, saya gak akan bisa lupa pertama kali saya bisa ketemu dan kenal dia. How amazing, dia satu-satunya gadis yang masuk ke daftar otak saya untuk hal yang gak bisa dilupain.”
“Kehidupan harus terus berjalan, Hel. Masih banyak cowok lain yang bukan saudara tiri lo, yang nunggu lo di luar sana. Walaupun aku merasa Ernest cowok yang paling baik, serius, dan gak main-main dibandingin sama semua cowok yang pernah kutemui, buktinya nekat aja mau ngajak gebetan yang dipacarin aja belum ke rumah, buat ketemu orangtuanya. Dia belum bilang langsung sih kalau dia suka sama aku, tapi bukannya ge-er, mungkin sebentar lagi dia akan bilang. Kalau aja kemarin dia gak ngajak aku ke rumah, mungkin hari ini kita udah jadian, berasa jadi pasangan paling bahagia sedunia, tanpa tahu fakta yang sesungguhnya. Hmm, bukannya bakal lebih nyakitin kalau kita baru tahu kenyataan yang sesungguhnya ketika kita udah makin deket?”
“Tapi seenggaknya, lewat kata-katanya kemarin, saya jadi tau, dia gak serius sama saya. Mungkin dia sama aja kaya cewek lain, still think that I’m just playing around. Ya udahlah, mungkin emang cewek-cewek diciptakan dengan template yang sama. Susah ditebak.”
“Ya pada akhirnya, dua orang pelupa….”
“…harus saling melupakan.”