POLITIK KEBENCIAN (part-2) Sejak Pilkada DKI 2012 mereka sudah gencar melancarkan politik kebencian berdasarkan SARA dan isu sektarian melalui berbagai fitnah, hoax dan ujaran kebencian baik di dunia nyata maupun di jagad medsos untuk menjegal Jokowi-Ahok. Hal ini berlanjut lagi saat Pilpres 2014 untuk menjegal Jokowi-JK. Sekarang di Pilkada DKI 2017 kegilaan mereka berlanjut lagi untuk menjegal Ahok-Djarot. Bahkan cara-cara mereka kini semakin kreatif, brutal, ngawur, sadis, primitif dan barbar dengan menyerukan boikot mayat segala. Rupanya kegilaan dan politik kebencian tersebut akan berlanjut lagi di Pilkada Jabar 2018 nanti. Gejalanya sudah mulai nampak saat para simpatisan mereka mulai melancarkan jurus fitnah Syiah kepada Ridwan Kamil hanya karena dia diusung oleh Nasdem. Anies yang dulu saat mendukung Jokowi dituding liberal, sesat dan syiah tiba-tiba saja berubah menjadi orang suci hanya karena sedang mereka jagokan di Pilkada DKI saat ini. Sungguh sebuah kemunafikan dan kegilaan yang tiada duanya. Prabowo yang berasal dari keluarga non muslim dan non pribumi saja disanjung-sanjung bahkan sempat dikatakan sebagai titisan Allah sementara Djarot yang muslim pribumi haji saja dibilang kafir babi dan Jokowi yang muslim pribumi haji saja dibilang kafir pki. Tapi Ridwan Kamil berbeda dengan Jokowi, Ahok dan Djarot yang cuma senyum saja membalas perlakuan laknat mereka. Kang Emil sudah siap mengantisipasi hal tersebut bahkan akun-akun yang mulai memfitnahnya sudah di screenshoot sebagai persiapan barang bukti nanti di pengadilan. Jadi para kaum Penthol Korek jangan mulai main-main ya? Salam Waras, gue bukan sapi! catatan : filosofi penthol korek api, ada kepalanya, ga ada otaknya, digesek dikit langsung nyala Muhammad Zazuli https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1475863885758660&id=100000051895419 #BenciBolehBegoJangan #LawanPembodohan #TolakFitnahSARA #BelaAkalSehat #SalamWaras (di Pusat Pemberdayaan Akal Sehat)











