It's deceivingly honest. Looks sweet on the outside, and then the bitterness kicks in. I suppose that's kinda like how most marriages work out, lol. Sometimes you think you want the same thing, but then there are these bumps ahead, and you end up in an intersection that BOTH you and your spouse need to freaking deal with. Nerve war? Absolutely. Smashed plates? Optional. Whatever it is, it's unavoidably critical. Being married with two kids makes watching this movie an implosive experience. There are moments when I literally was rooting for Anya, the female lead, because she's blurting out words that most women are (probably) reluctant to say to their partners. Then there were times when I wish I could pat Ale, the main male lead, in the back for being so meticulously pragmatic against his wife's stubbornness. I have to say that the realest part of this movie is the one regarding their child, Aidan. As a mother who had a bleeding-out on her 4th month of pregnancy and had expected the worst, I was feeling every blood, sweat and tears that Adinia projected. The only merit for me was that I didn't suffer the same fate her character did, but that was already REAL ENOUGH. Give Critical Eleven a go. It'll be worth the flight. —---------- Menipu namun jujur. Terlihat manis di bagian luar, trus getirnya mulai masuk. Gue rasa ya kaya gitulah bagaimana kebanyakan pernikahan berjalan, hehe. Terkadang lo mikir lo tuh mau hal yang sama, tapi kemudian ada beberapa sandungan di depan mata, dan lo berakhir di sebuah persimpangan yang dimana akhirnya maksa elo dan pasangan buat kudu cari jalan keluarnya. Perang saraf? Banget. Piring2 pecah? Pilihan. Apapun itu, pokoknya gak bisa dihindari. Sikon gue sebagai perempuan yang udah nikah dan punya dua anak membuat nonton film ini sebagai letupan internal. Ada saat dimana gue aselik pro-Anya banget karena karakternya ngeluarin kata2 yang (mungkin) agak malesin untuk beberapa perempuan buat ngomong ke pasangannya. Kemudian ada momen dimana gue mau puk-puk-puk Ale karena dese udah berusaha pragmatis banget nge-handle bininya yang keras kepala. Jujur saat nonton ini, bagian yang paling nyata banget buat gue adalah saat yang terkait dengan Aidan, anak mereka. Sebagai emak2 yang mengalami pendarahan saat hamil 4 bulan dan saat itu udah pasrah sama yang terburuk, gue ngerasa banget segala darah, keringat dan air mata yang sukses diproyeksikan oleh Adinia. Satu2-nya hal baik yang terjadi pada gue ketimbang karakter Anya adalah gue gak mengalami nasib yang sama kek dese dalam adegan YANG AMAT NYATA ITU. Amit2. Na'udzubillah min dzalik. Seriusan, tontonlah Critical Eleven di bioskop. Pengalamannya sangat sepadan.













