Menikah dan Upaya Mengurangi Sampah
Hal pertama yang membuat saya khawatir saat memikirkan soal pernikahan tak lain adalah biaya.
Satu, tentu karena besar jumlahnya. Hanya untuk acara yang berlangsung tak sampai setengah hari, biaya ideal yang harus disiapkan adalah Rp 116 juta (menurut artikel ini). Sungguh, saya ketakutan dengan angka itu. Dengan pola menabung saya sebelumnya, uang sebesar itu baru akan berhasil saya kumpulkan setelah... wait-for-it... 19 tahun! Haha. Saya sempat gemetar saat membaca sebuah artikel dan seorang narasumber (yang seumuran saya) dengan entengnya menyebut biaya pernikahan yang dia butuhkan tiga kali lipat dari jumlah di atas. Mbaknya kerja apa kalau boleh tahu? :”
Kedua, perihal untuk apa biaya itu digunakan. Seratus juta dalam sehari untuk apa? Gunungan makanan yang belum tentu dihabiskan para tamu? Baju nikah berpayet berbordir berkilau yang cuma akan dipakai sekali lalu tersimpan selamanya di lemari? Cetak undangan mengilap yang hanya akan dilihat sekilas oleh penerima (lalu minta dikirimkan versi digital saja)? Bunga-bunga dekorasi di setiap sudut yang setelah acara hanya akan menjadi sampah? Kue pengantin setinggi atap yang hanya dimakan secuil? Betapa mahal harga yang harus dibayar untuk hal-hal yang setelah keriaan usai akan berubah menjadi benda tak terpakai dan sampah tak terurai.
Saya dan Fa memang bukan pegiat lingkungan yang paling suci. Sehari-hari, kami pun belum lepas dari kebiasaan menggunakan plastik, memboroskan kertas, atau menikmati energi cepat dari bahan bakar fosil. Kami hanya berusaha mengingatkan diri untuk melakukan hal kecil yang kami bisa: membuang sampah pada tempatnya, menghabiskan makanan di atas piring, membawa air minum dalam tumbler, mendayagunakan tote bag seminar agar bisa menolak plastik saat berbelanja di supermarket. Seperti itu saja.
Namun, ketika merencanakan pernikahan, kami tertegun saat menyadari betapa banyak sampah dan kesia-siaan yang akan kami sumbangkan pada bumi lewat acara yang konon akan menyempurnakan separuh agama itu. Tak heran memang, namanya juga memobilisasi ratusan hingga seribu orang untuk berkumpul di satu tempat, makan-makan, berpesta.
Kami belum menemukan penelitian yang dilakukan di Indonesia tapi menurut artikel ini (dan ini), di Amerika Serikat setiap pesta pernikahan menyisakan sampah sebanyak 182-272 kilogram. Itu untuk rata-rata pernikahan yang berlangsung 3-4 jam yang hanya dihadiri 300 orang. Resepsi pernikahan di Indonesia biasanya dihadiri tiga kali lipatnya.
Artikel itu tak merinci sampah apa saja yang biasa dihasilkan sebuah pernikahan di Amerika sana tapi saya bisa membayangkan di sini kira-kira akan berupa sisa makanan (“Ambil semua jenis makanan tapi ndak usah dihabiskan, yang penting icip semua,” begitu seorang kerabat pernah berkata pada saya tentang kebiasaannya saat menghadiri pesta pernikahan), sisa peralatan makanan (sampah Aqua gelas, styrofoam gubukan, dsb), bunga dan hiasan sisa dekorasi, sisa undangan cetak, pembungkus souvenir (dan souvenirnya sendiri bila tak begitu berguna), dan seterusnya.
Selain itu, emisi karbondioksida yang dihasilkan pada setiap pesta pernikahan mencapai 66 ton. Angka ini setara dengan emisi yang dihasilkan empat manusia dalam waktu satu tahun. Ya, anggap saja setiap tamu dan pasangannya naik motor atau mobil ke tempat acara, kalikan berapa ratus pasang tamu yang diundang.
Saya makin tertohok lagi saat menemukan berita yang menyebut terjadi rata-rata 2,2 juta hingga 2,3 juta pernikahan setiap tahunnya di Indonesia. Tentu saya turut berbahagia untuk dua jutaan pasangan itu dan mendoakan kebaikan dalam pernikahan mereka. Tapi bayangkan bila angka jutaan itu dikali dengan ratusan kilogram sampah dan puluhan ton karbondioksida. Dan pernikahan kami nanti akan menjadi satu dari angka statistik itu. Tak banyak, tapi turut menggenapkan.
Maka, kami berhenti sejenak dan melihat kembali rencana kami. Banyak item di dalamnya yang berpotensi menjadi sampah. Kami rinci lagi satu per satu, membaginya menjadi kelompok butuh-tak butuh atau butuh tapi perlu disiasati agar tak menjadi sampah atau butuh tapi setidak-tidaknya dikurangi sedikit nilai kesia-siaannya.
Selanjutnya adalah cerita tentang masing-masing item itu dan bagaimana kami sedapat mungkin membuatnya lebih ramah pada tanah.
21 Juli 2017
Sumber:
https://www.botanicalpaperworks.com/blog/read,article/718/a-look-at-wedding-industry-waste-eco-friendly-wedding-tips
http://www.huffingtonpost.com/carter-reum/the-secret-waste-that-weddings-leave_b_1439118.html









