Sejak pemerintah yang baik menutup akses Tumblr, saya jadi malas menulis. Tentu saja, menyalahkan pemerintah adalah cara paling mudah untuk membenarkan kemalasan. Berhubung aksesnya kembali terbuka dan pemerintah juga sudah tak perlu lagi disalah-salahkan karena kelewat sering bikin salah sendiri, mari kita sapu sawang dari sudut-sudut blog ini.
Saya ingin berusaha menulis tentang hidup beberapa bulan terakhir. Saat berbagai status baru datang bersamaan: istri, ibu, pelajar.
Saya hendak mengingat suatu malam saat saya menerima surat elektronik yang diawali kalimat, "Moyang tersayang, kami senang mengabarimu bahwa...". Surat yang membawa saya yang waktu itu pada saya malam ini yang sedang berkelumun selimut tebal karena pemanas tak sanggup mengusir suhu 6 derajat di luar yang terus menelusup masuk lewat celah-celah dinding.
Itu malam Ramadan. Saya terbangun untuk menyusui Sinau yang waktu itu belum genap satu bulan. Ipang sedang sahur di ruang makan. Sambil menyusui, tentu saya tak bisa menahan diri untuk tak mengintip Instagram. Upa, teman saya yang sedang di Birmingham, baru saja mengunggah Insta-cerita. Kalau tidak salah dia sedang kilas balik pertama mendapat pengumuman kelulusan dari Chevening. Dia unggah tangkapan layar paragraf awal surat elektronik bertanggal tepat setahun sebelumnya yang dimulai dengan kata-kata, "Wan sayang, kami senang mengabarimu bahwa..."
Saya ingat berpikir merasa bangga pada Upa lalu tiba-tiba tergerak untuk mengecek kotak masuk saya sendiri yang saat itu harus diseret manual baru pesan-pesan terbaru bisa masuk karena penyelaras otomatisnya tak bekerja.
Satu per satu surat masuk, yang kebanyakan adalah siaran pers atau undangan liputan yang tak akan saya datangi. Lalu, di situ lah ia. Baris teratas. Surat dengan kalimat pertama serupa. Surat yang membuat saya menarik napas panjang lalu memandangi bayi di pangkuan. Pintu terbuka. Ipang masuk kamar mendapati saya yang tertegun.
"Fa, saya lulus Chevening. Gimana, nih?"
Begini. Saat saya mengunggah aplikasi Chevening pada hari terakhir tenggatnya, saya sudah tahu saya sedang hamil. Tapi, hamilnya masih muda dan kesadaran bahwa saya segera jadi ibu juga masih tipis saja. Belum tentu lulus, pun, pikir saya.
Begitu lah, maka aplikasi pun saya masukkan, lalu saya lupakan. Waktu berjalan, perut membesar, saya semakin sadar akan kehidupan kecil di dalam saya yang harus diutamakan. Saya juga cenderung menggeser pikiran akan kuliah lagi ke belakang.
Sampai kemudian pengumuman pertama datang. Saya lulus ke tahap wawancara. Reaksi pertama saya adalah panik. Idealnya, saat hadir untuk wawancara, aplikan sudah mengamankan nilai kemampuan bahasa Inggris dan tempat di kampus tujuan. Saya belum melakukan dua-duanya.
Saya datang wawancara dengan perut melendung hamil tujuh bulan dan dengan keyakinan panelis pasti akan menanyakan bagaimana saya bisa kuliah kalau nanti punya bayi juga ketidakyakinan bahwa saya akan dipertimbangkan untuk lulus. Saya terkejut ketika wawancara berjalan lancar dan sama sekali (sama sekali!) tidak ada ketertarikan pada perut saya dan apa rencana saya terkait isinya. Semua pertanyaan begitu objektif, mengacu pada apa yang saya tulis di esai, tak ada tendensi apapun untuk menyenggol urusan personal. Sungguh mengesankan, walau saya tetap tidak yakin lulus. Saya bertemu dua aplikan lain saat wawancara yang dua-duanya terlihat sangat antusias, bahkan sudah memegang surat diterima oleh kampus di tangan. Saya merasa kecil dibanding mereka.
Setelah wawancara, saya tak lagi begitu memikirkan beasiswa ini. Hari perkiraan lahir mendekat dan saya hanya ingin memusatkan diri pada itu. Kalau pun lulus, pikir saya, nanti bisa tes IELTS atau daftar kampus setelah bayinya lahir. Kan masih cuti, pasti banyak luang. Betapa lugunya.
Yang saya tidak tahu waktu itu adalah: ternyata tidak ada celah luang saat mengurus bayi merah. Saya tenggelam dalam kesibukan, kebahagiaan, dan kelelahan ibu baru. Mandi saja hampir tidak sempat, konon lagi belajar dan tes IELTS. Sampai datang lah pesan penentu itu, "Moyang tersayang..." ketika saya sedang tidak siap-siapnya.
Sejak pesan itu diterima, saya punya waktu kurang lebih sebulan untuk menggenapkan persyaratan agar keputusan beasiswanya final. Artinya, dalam sebulan saya harus tes IELTS, dapat skor memadai, mendaftar kampus, dapat LOA. Sama sekali tidak sederhana karena waktu itu sudah dekat lebaran dan jadwal tes IELTS terdekat baru ada setelahnya. Selain itu butuh dua minggu lagi setelahnya untuk tahu skor. Bagaimana pula kalau skornya tak mencukupi? Belum lagi pendaftaran kampus yang biasanya makan waktu 3-4 pekan. Saya sudah ingin menyerah saja dan menarik diri dari beasiswa.
Tapi, Ipang bilang, "Usahakan saja."
Lalu, Upa datang dengan serangkaian langkah taktis, "Tes PTE aja, hasilnya 3 hari keluar. Daftar kampus dari sekarang, kirim pesan biar skor bahasa Inggris bisa disusulkan."
Itu pertama kali saya dengar tentang tes bahasa Inggris lain selain TOEFL dan IELTS. Tes PTE ternyata juga diterima dan hasilnya lebih cepat keluar. Jadwal tes terdekat dua hari setelah lebaran. Segera saya mendaftar tanpa memikirkan betapa saya belum tahu format tesnya seperti apa atau bagaimana saya bisa belajar sementara mengurus Sinau. Aplikasi ke kampus juga segera saya siapkan.
Selanjutnya adalah hari-hari tak menentu. Sebisanya saya mencuri waktu untuk belajar. Saat Sinau tidur, saya menyegarkan ingatan akan aturan kalimat bahasa Inggris. Saat Sinau bangun, saya gendong sambil nonton YouTube tentang simulasi tes PTE. Waktu membacakan cerita untuk Sinau saya jadikan latihan pengucapan. Di antaranya, Sinau harus dilatih minum susu lewat botol karena untuk tes PTE nanti, saya harus meninggalkannya setengah harian.
Saya kira drama sudah cukup sampai hari tes PTE di depan mata. Kami baru pulang dari mudik lebaran ke rumah ibu di Pekanbaru. Jadwal tes adalah hari berikutnya. Sinau belum mau minum dari botol susu. Dengan berbagai cara, kami mengajari Sinau pakai botol. Tidak bisa. Dia hanya menangis kencang saat disodorkan dot. Kami khawatir bagaimana bila Sinau saya tinggal lalu dia kelaparan.
Tengah malam sebelum hari tes, Ipang dengan ragu-ragu meminta saya untuk menunda tes. Hal yang juga sudah saya pikirkan seharian. Pagi datang, saya mantap tidak jadi berangkat.
Jadwal tes berikutnya dua pekan setelah itu, yang sangat rapat dengan tenggat dari Chevening. Kampus juga belum memberi kabar. Keraguan saya sudah terlalu tebal. Tapi sudah kepalang tanggung, lakukan saja apa yang bisa dilakukan.
Jadi, maka jadi lah, kata Tuhan. Apa artinya keraguan dibanding ketetapan.
Dua pekan berikutnya, Sinau pelan-pelan menerima dot. Saya berangkat tes dengan persiapan belum matang dan doa agar Sinau tenang. Pikiran buruk ini selalu saja berkata saya akan gagal. Nyatanya, keesokan harinya, skor PTE langsung keluar dan saya dapat skor mencukupi. Segera saya kirim ke kampus yang juga langsung mengumkan balasan bahwa saya diterima.
Tiga hari sebelum tenggat Chevening, saya berhasil melengkapi semua persyaratan. Beasiswa itu final. Kami akan berangkat. Ke Inggris.
Kendal Grove, 26 Januari 2019, sedang mengenang.