Is it possible to want a person in your life but not the responsibility which comes with it?
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Sweden
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Australia

seen from Ukraine

seen from Australia

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Japan
Is it possible to want a person in your life but not the responsibility which comes with it?
Lately, the days seem to vanish before I can even breathe them in. The hours blur into one another, racing ahead as if mocking my attempt to keep up. The faster time runs, the tighter my chest feels like I’m chasing something I can no longer see.
Never Assume, Work Hard, Be Nice
Hari berganti hari, dan waktu yang berlalu seakan berlalu begitu aja. Nggak ada yang spesial. Bangun tidur-berdoa-mandi-ke kantor-kerja-pulang-tidur. Padahal, kalau kita merhatiin sebenarnya banyak banget yang bisa dipelajari dari waktu yang kita jalanin dari hari ke hari – baik dari kesalahan yang kita lakukan atau dari obrolan-obrolan santai tapi serius menyoal kehidupan. Nah, dalam rangka mengasah kemampuan tulis menulis, gue dan Nicea bikin challenge menulis. Temanya adalah lesson learned selama satu minggu kemarin. Harusnya dipost hari SENEN MINGGU LALU, tapi karena seminggu ini hecticnya luarrrr biasa (Hayati lelah, Bang) terpaksa baru (finishing) dan diposting MALAM MINGGU. *ketauan banget jomblo, malam Minggu malah nulis tumblr*
If I should conclude some lessons that I learnt last week, they are: never assume, work hard, and be nice. Mari kita bahas satu persatu. Yang pertama, never assume. Kejadian ini muncul ketika gue udah bikin rilis untuk media lalu minta approval Pak A melalui Pak S. Pak S ngasih masukan dan bilang ok, lalu gue berasumsi kalo udah ada approval dari Pak A tanpa mastiin. Tuh kan, kebiasaan males nanya dan jadi berasumsi. Dengan pede udah gue kirim ke 12 media, lalu Pak S bilang “Mbak, minta approval Pak A lewat Pak K ya.” Gubrak. Alhasil gue nelp dan smsin wartawan-wartawan ampe jam 12 malem, untuk hold rilis. Nasib ya bok, Cuma gara-gara gue berASUMSI. Ngomong-ngomong asumsi ini emang sesuatu banget deh, karena banyak hal di kehidupan gue yang jadi kacau gara-gara asumsi. Misalnya berasumsi cowo X gak punya pacar gara2 suka galau di path, ngajakin gue jalan mulu, tau2 pas ketemu di kali yang keempat doi bilang “gue baru putus”. Lah selama beberapa date ini jadi gue adalah….. pelarian? Makanya nanya, Rhem, jangan dibiasain asumsi – mulai dari kerjaan ampe personal.
Lalu yang kedua adalah tantang diri lo sendiri untuk melakukan tugas-tugas yang di luar jobdesc lo – supaya lo tambah pinter dan punya kemampuan lebih. Kesimpulan super ini berawal dari obrolan gue dengan salah satu teman yang baru aja resign dan pindah ke tempat baru. Gara2 ngobrol soal ekowisata dan segala tetek bengeknya, doi akhirnya curhat kenapa doi resign. Singkat cerita (sungguh, sebenarnya aku ingin cerita di sini, tapi sayang ceritanya confidential) – dari kisah resignnya yang cukup drama itu gue nanya “Apa sih mas yang bisa lo jadiin lesson learned?”. Lalu dia bilang begini “Believe in your ability. Percayalah kalau sekarang kemampuan lo disia-siain, yakin aja ability lo bakal berguna. Makanya kalau kerja harus benar-benar diasah kemampuannya. Jangan cuma kerjain apa yang disuruh bos. Disuruh atau gak disuruh, kalau itu penting buat kapasitasmu sendiri, kerjain.” Pembicaraan yang cukup kontemplatif dan menginspirasi di tengah malam yang absurd. Selama ini – atau mungkin satu tahun terakhir – gue ngerasa gue gini2 aja. Gue nggak tahu kenapa, awalnya gue semangat setengah mati kerja, lalu, poof, all spirit just gone away like that. Gue mulai nggak terlalu excited bekerja sehingga yang gue kerjain Cuma sekedar menuhin tenggat waktu dan target capaian – that’s it. Gue jadi gak terlalu maksimal, apalagi ngerjain hal-hal yang di luar apa yg seharusnya gue kerjain. Mungkin aja ini terjadi karena: 1) overload pekerjaan sehingga demotivasi atau 2) gue merasa kurang diapresiasi. Ya anyway, terlepas dari itu, gue harus bisa memotivasi diri sendiri sih, karena sumber kebahagiaan dan semangat yang hakiki harus dari dalam diri. Amin.
Ketiga, gue belajar bahwa pinter bukan segalanya. Gue nggak pinter, tapi selalu berusaha jadi orang yang pinter (meskipun seringan failnya daripada berhasilnya). Gue selalu kagum sama orang-orang pinter, tapi seiring berjalannya waktu, gue belajar kalau kepintaran itu bukan hal utama dalam dunia kerja – terlebih lagi dalam kehidupan. Awalnya, gue berdiskusi ringan sama salah satu teman, tapi ketika pembicaraan makin serius, gue ngobrol mengenai organisasi & leadership. Yang gue pelajari dari apa yang gue alami dan juga pembicaraan itu, bahwa organisasi nggak akan jalan dengan baik kalau nggak ada leadership yang kuat – nggak peduli seberapa banyak orang pinter yang ada di situ. Dan di dalam leadership ini sebenarnya ada banyak elemen-elemen penting seperti bagaimana memimpin sekaligus mengapresiasi anak buah, mengetahui keadaan psikologis organisasi atau departemen, mendengarkan masukan dan keluh kesah bawahan, dan lain sebagainya. Selain mengenai leadership, gue juga bisa menyimpulkan bahwa menjadi orang yang punya intelegensia di atas rata-rata itu penting, tapi lebih penting lagi kita bisa jadi orang yang bisa menghadapi orang lain dengan baik. Pada akhirnya, gue yakin kita dihargai bukan semata-mata karena ilmu dan pengetahuan kita, tapi juga karena sikap dan tingkah laku kita. Mau sepinter apapun, kalau ngeselin, sombong, dan semaunya sendiri, siapa yang tahan sih?
Sebenarnya gue yakin sih, masih banyaaak lagi lesson learned yang bisa diambil dalam minggu kemarin, tapi sayang banget gue nggak selalu mencatat apa yang gue dapatkan dan juga gue lagi cukup rempong di kantor. Semoga di lain waktu gue bisa lebih memperhatikan hal-hal kecil yang bisa menjadi pembelajaran buat gue dan kehidupan gue di masa yang akan datang. Ngomong-ngomong, gara-gara poin 2 & 3, gue jadi sadar kalau gue suka banget ngobrol dan dengerin curhatan orang, hehe.
Keep being blessed and be a blessing, folks!
Lose Some Get Some!
Bekasi, May 16 2015
Woke up with no wifi. What a start of a day! But at least I now have a chance to write something in here.
When I was a little girl, I really looked forward to grow up, to be in college, to have a career, to have my prince charming with a horse and to have an easier life. Now that I am 23 years young, and life seems way beyond books I had ever read. No one ever told me that in this age, you have to choose between Kate Spade or SQ tickets, and there is no such thing as “you can have it all” option anymore. And that is not yet the saddest thing. Remember just now I have mentioned I dreamed to find my prince charming? Well, no books ever told me that prince charming and another prince charming can now marry and live happily ever after! Now that is sad. My dream has just crushed into pieces! (Ladies, it is GAME ON between us and the gays, GAME ON! LOL)
However, as I am getting older, I have to accept the fact that I can no longer have it all like I used to. There will be things that I have to give up as I grow. And this can be such a pain in the ass. But it always feels less painful when I write, when I have some beers with friends, and much more less painful when I buy couples of new dress, HA!
This is pretty much about me on dealings with tough options that life offers. Hopefully it is all worth whatever I have given up for. After all, you only live once, and that is why it is important to have not only a worthy destination, but also a wonderful journey along the way.
Until next post! xo