Pos 3 - Pos 4, 45 menit
Pos 4 ke Puncakk Bayangan, 90 menit.
Kami cukup beruntung malam itu, kami datang paling awal sampai di puncak. Pertamanya kami kira tempat ini sudah puncak dari Ungaran, karena ketika kami datang kabut sangat tebal kami mencari² jalan dan waktu itu kami sepakat bahwa itu adalah puncaknya. Angin belum kencang, hawanya juga tidak terlalu dingin, kami mencari dan beruntung mendapat tempat yang cukup strategis. Mendirikan tenda, makan, dan istirahat. Hingga akhirnya tak berselang lama beberapa pendaki lain menyusul kami mendirikan tenda. Banyak pendaki berdatangan, hingga ramai² sekitar pukul 1 dini hari, anginnya sudah mulai kencang, banyak pendaki yang mulai berisik karena gagal kesusahan mendirikan tenda. Angin kencang masih terus menerus datang, tapi kami masih berharap pagi harinya cerah. Sayangnya harapan tinggalah jaya saja.
Ketika mulai terang dan masih dalam serangan angin kencang kami mulai keluar melihat sekitar. Hampir semua pendaki ada di luar tenda. Bukan tanpa alasan, tenda mereka sudah porak poranda, ada yang frame-nya patah, layer luarnya hilang entah kemana. Tenda kami cukup kuat, Lafuma. Masih kami lapisi lagi dengan flysheet. Tidak ada kerusakan parah, hanya frame Naturehike yang bengkong, tali frame ada yang putus, dan tenda jadi kotor itu aja
Sebenernya tidak terlalu dingin, hanya angin yang kencang, sangat kencang. Saya sempat tidur tanpa sleeping bag sampai sekitar pukul 3 pagi kok
Dan pagi itu juga kami sadar kami belum sampai di Puncak Ungaran. Masih kurang sekitar 30 menit lagi. Dalam diam kami sepertinya bersepakat jika sampai jam 10 cuaca belum membaik kita turun. Dan begitulah, akhirnya sekitar pukul 10 kita mulai packing kilat karena pendaki lainnya sudah turun dan kami mulai merasa kesepian, terlebih Penjor yang terus berusaha menebar jala, sayangnya tak satu ikanpun tersangkut dalam cholifa bahtera cintanya.
Yah inilah hidup, terkadang kita harus merelakan sesuatu karena sesuatu itu belum bisa dicapai. Ingat, masih 'belum', masih ada kesempatan. Semangat!
Basecamp Mawar - Pos 1, 20 menit.
Banyak faktor atau alasan yang membuat para pendaki menjadi cepat lelah: kurang olahraga, betisnya kecil, nggak ada rekan wanita, hingga alasan-alasan nggak masuk akal seperti karena tidak menggunakan merk shampoo tertentu.
Hal paling menyenangkan adalah ketika mereka mulai saling ejek. Aku bukan tipe pendaki yang suka mengejek, aku terlalu baik untuk hal-hal semacam itu. Tapi tidak untuk mulut sampah semacam Dhany. Dia, yang notabene baru sekali mendaki Gunung dan itu langsung atapnya Jawa Barat (baca: Ciremai), dengan tenang dan mantab mengejek Penjor yang sudah cukup kawakan naik Gunung, walaupun tetep aja lemah. Aku lupa tepatnya, tapi sepertinya sebelum pos 1, Penjor sudah mulai tertinggal dari rombongan. Pada satu tanjakan kita berhenti sejenak, Dhany menoleh ke arahku, dalam satu tarikan nafas dia berkata "leh mas, deloken cah kae" sambil wajahnya menunjuk Penjor yang menunduk kelelahan di bawah sana.
Karma itu ada anak muda, mungkin ini karmanya Penjor yang sok²an ngejek anak² yang baru pertama kali mendaki di Gunung Semeru pertengahan tahun lalu
Treseme, It's Work
Sore itu kita langsung turun ke ke Ranu Kumbolo, beristirahat semalam lagi disana. Malam itu semuanya tertidur lelap, sepertinya rasa lelah mengalahkan dinginnya hawa disana. Malam itu juga aku tidur dengan bahagia, aku bersama orang-orang yang sedang bangga dengan pencapainnya. Mereka yang pada kali pertama, kedua, dan ketiga akhirnya berhasil menaklukkan puncak jawa. Semangat terus, kalian luar biasa, perbanyak olahraga ya. 😉
Di Kalimati semuanya langsung istirahat, tapi kami kehabisan air (untuk masak) masih ada 2 botol Aqua buat summit. Jadi mau nggak mau harus ada ada yang ambil air di Sumber Mani. Endar, Ghanong, dan Okky yang berangkat. Aku nyiapain makanan untuk mereka, sekalian masak dan siapin bekal buat Summit. Pulang² dari Sumber Mani Endar & Ghanong pamit nggak ikut summit karena kondisi fisik. So cuma kami ber-8: Aku, Okky, Risky, Rahma, Tika, Binar, Atul, dan Puput.Â
Sebenarnya malam itu aku juga ngantuk parah, memang malam sebelumnya tidur cukup di Ranu Regulo, tapi sepertinya belum cukup untuk recovery 24 jam tidak tidur untuk perjalanan pulang-pergi naik motor Magelang - Gunung Kidul - Tulungagung - Malang - Ranupane. Dan lagi, aku juga belum sempat tidur sebelum summit itu. Tapi karena Endar & Ghanang udah absen duluan buat summit, so mau nggak mau aku harus cabs.Â
Kita start summit attack pukul 01:30  (ya cukup 'kesiangan' sih. Masih 1/3  jalan menuju batas vegetasi, semuanya terlihat masih 'kaget', ada yang boker-boker dan muntah². Jujur pada saat itu aku berharap mereka ada yang memutuskan untuk mengurungkan niat, dan aku dengan senang hati kan mengantar turun ke camp di Kalimati, so aku bisa tidur dan istirahat (kan aku udah pernah muncak, jadi nothing to lose, haha). Tapi tekad mereka sangat kuat, itu membuat rasa kantukku segera pudar. Jadi ayo kita taklukkan Mahameru!Â
Sampai di batas vegetasi pas subuh, dari sana aku perjelas lagi "paling cepet sampai puncak 3 jam, lanjut?" Semuanya lanjut. 1/3 trek pasir kita disambut sunrise, semuanya istirahat dan mulai terlihat kepayahan. Perbekalan makanan cukup, tapi air terlalu boros di awal, perkiraanku hanya cukup sampai puncak saja, turunnya harus bisa menahan dahaga, semuanya siap. 1/2 perjalanan semakin kendor fisiknya, tapi terlihat siapa yang tekadnya masih kuat. Aku biarkan mereka mengatur tempo langkah kakinya bertahan dari trek pasir ini. Okky, Risky, Binar, dan Rahma mulai jauh meninggalkan kami. Sepertinya mereka aman di depan. Puput, Atul, dan Tika mulai terlihat ingin menyerah. 3/5 jalan, mereka mulai mengungkapkan keputusasaan. Atul,"Kak, tak tunggu kene ae ya", Arantika,"Aku sampai sini aja ya" Puput tidak banyak berkata, tapi setelah pulang dia bilang ke Endar,"Aku jane arep omong mas Benny arep sampe kene ae, tapi mukane mas Benny wes koyok wong anyel ngono". Hahaha. Enggak kok Put. Tapi ya intinya, kalian nggak boleh nyerah, waktunya masih cukup walaupun mepet. Sorry kalo aku banyak ngasih perkiraan yang salah, karena itu tergantung fisik juga, mulai dari bakal sampe puncak jam 7, trus jam 8 aku bilang kurang sejam, jam 9 aku bilang paling lama setengah jam ✌.Â
Â
Lagian kalo udah segitu, rugi dong, kalo nyerah dari batas vegetasi, seperti yang tadi aku bilang, dengan senang hati tak anter balik ke Kalimati. Aku komando setiap langkahnya "Yo jalan" "break" "jalan lagi" dst. Akhirnya, sampai benar² kurang 30 menit dari puncak, udah pukul 9, udah bener² keliatan puncaknya, mereka terlihat udah kepayahan banget, banyak dari pendaki di bawah kami juga memutuskan untuk turun. Mereka (Atul, Puput, Tika) udah ikhlas misal gak sampai, akhirnya aku keluarkan kartu As, Nata De Coco! Mereka makan dengan lahap, aku sisakan separuh untuk yang udah sampai atas duluan (Okky, Rizky, Rahma, dan Binar sampai sekitar pukul 8). Setelah makan nata, mereka tak kasih atensi terakhir "Ayo, puncak wes, kudu teko iki yo, kurang titik tenan, tapi teko puncak raiso suwi-suwi, leren dilut, foto, trus mudun." Mereka diam mengangguk mengiyakan, kemudian mulai melangkah lagi, sedikit demi sedikit, dengan pasti dan mantab. Akhirnya mereka sampai Puncak tertinggi di pulau ini, tepat pukul 09:45. Batas aman di Mahameru cuma sampai pukul 10:00, jadi tak ada waktu lama, nikmati sebentar kemudian turun. Tujuannya masih dan selalu sama, sampai rumah, sehat, selamat!