Saya bukan perokok. Jadi bisa saja judul ini tidak relevan buat saya, karena secara pribadi saya tidak tau secandu apa rokok itu. Bapak saya dulu perokok berat, sejak 17 tahun yang lalu sudah berhenti karena ada tumor di tiroidnya. Mungkin ini pendapat yang sangat subjektif, tapi berawal dari pengalaman itu saya bisa tau bahwa merokok itu berbahaya.
Satu minggu yang lalu saya diperkenalkan dengan kalimat ini. Sitting is the new smoking. Telinga saya langsung menangkap suara Dita Guritno ketika ia menyebutkan kalimat tersebut. Pada saat mengatakan kalimat itu, ia sedang menceritakan pengalamannya di tempat ia bekerja dulu. Dita Guritno pernah bekerja sebagai Content Specialist & Community Manager di Google California. Budaya di sana mengharuskan mereka untuk bergerak ketika ide-ide di kepala mereka mulai macet. Sunbathhing, gaming, hangout dan aktifitas lain yang bisa merangsang kreatifitas dilakukan, kecuali hanya duduk dan stuck dengan pekerjaan. Ada cerita yang menarik yang ia alami ketika bekerja disana. Saat itu ia dan timnya dari berbagai negara diminta untuk mencari konten-konten apa yang sedang menjadi trend di negera mereka masing-masing. Ketika negara-negara lain dengan mudahnya menemukan konten di negara mereka, Kak Dita ngadet, ia tidak bisa menemukan apa-apa di Indonesia. “Indonesia = rare good quality content.” jawab Kak Dita ketika semuanya cukup bertanya-tanya tentang apa yang menjadi penyebab.
Ada satu hal yang membuat saya tertarik untuk melihat dari sudut pandang kalimat “Sitting is the new smoking” tadi. Duduk sudah jadi budaya di negeri ini. Duduk dalam arti menunggu wangsit datang dengan sendirinya. Terlalu malas berkarya dengan alasan ‘orang lain sudah ada yang buat’ atau ‘ahh! keduluan dia, jadi nggak orisinil deh’. Kalau alasannya memang itu bahkan karya Quentin Tarantino sekalipun tidak ada yang benar-benar orisinil, scene film Kill Bill diambil dari potongan-potongan film yang sudah pernah ada sebelumnya. Lalu apa lagi yang menjadi alasan? Pada akhirnya duduk bisa sama mematikannya dengan merokok. Mungkin bukan mematikan secara jasmani, tetapi karakter orang Indonesia akan mati sebagai suatu bangsa dan juga akan mati dari penglihatan dunia, karena memang kita hanya duduk dan menikmati apa yang disugguhkan negara lain. Bagaimana kalau mereka menyuguhkan racun?
Kualitas konten yang baik bukan hanya permainan sosial media, tapi menjadi faktor keberhasilan people development, mental revolution dan masa depan Indonesia sendiri. Kita boleh marah ketika Awkarin dengan aktifnya menghasilkan konten-konten yang katanya ‘merusak moral bangsa’, tapi apakah kita sendiri sudah menghasilkan konten-konten yang ‘memperbaiki moral bangsa’. Agak mustahil rasanya kalau kita hanya berusaha membasmi konten-konten negatif tanpa menghasilkan konten-konten yang positif. Sama saja seperti melarang anak anda jajan dipinggir jalan karena kotor dan berbahaya, tapi anda juga tidak memberi makanan sehat sama sekali untuk anak anda. Dan anak anda mati kelaparan. Balancing out. Ini jalan keluar yang dianjurkan Dita Guritno.
Berhentilah duduk. Duduk itu berbahaya. Boleh berjalan, boleh berlari, boleh juga berenang. Asal jangan duduk. Jadi, selamat berkarya, ya!