(Masih) Edisi Kangen Air Asin
Video ini diambil satu tahun yang lalu, tepat pertama kali saya mencoba diving.
Diving dulu bukan pilihan olahraga yang ingin saya geluti. Bukan, bukan, bukan karena tidak bisa berenang, urusan yang satu ini mah saya jago, tapi jujur saja ini lebih karena saya takut berenang di laut. Alasannya sangat lucu (mungkin bagi mereka yang menganggap lucu), saya takut dimakan ikan hiu. Sudah titik. Boleh ketawa hlo, karena kamu bukan orang pertama yang mentertawakan saya karena mendengar alasan itu.
Sampai suatu ketika di tahun 2014. Sahabat saya selalu happy dan berbinar-binar ketika bercerita mengenai komunitas diving-nya yang menyelami berbagai laut di Indonesia. Dia pun meracuni saya dengan cerita-cerita penyelaman yang waktu itu masih saya anggap sebagai hal yang mengada-ada. Bayangkan, menyelam kok sengaja cari apa itu ikan besar yang bentuknya aja serem… campuran Paus dan Hiu, iya itu, ituu, Whaleshark. Atau malah malem-malem, gelap-gelap menyelam hanya untuk liat kapal karam. “Halah ra pengen, Mik”, begitu kata saya kepada sahabat saya itu. Kemudian dia tetap saja bercerita acap kali kami bertemu tanpa mempedulikan tanggapan saya. Bahkan, dia tidak pernah pernah lelah mengingatkan saya kalau di Indonesia itu banyak sekali tempat bagus yang harus dikunjungi, apabila saya mulai menawarkan ajakan traveling ke luar negeri. “Nggg… snorkling di Kho Phi Phi ini gak ada apa-apanya tau dibandingkan di Labuhan Bajo. Karangnya rusak, ikannya gitu doang, gak menarik.” Begitu katanya kepada saya sehabis langsir pulau di salah satu pulau termasyur di Thailand yang dulu pernah menjadi tempat shooting film “The Beach” yang digawangi Leonardo Di Caprio. “Mosok???”, begitu cibir saya. Saat itu saya sendiri tidak snorkling, hanya cipak cipuk berenang di laut dan lekas-lekas naik, karena lagi-lagi phobia Hiu melanda meskipun saya sudah membulatkan tekad untuk melawan rasa takutnya di negara Gajah Putih ini. “Coba sana kalo gak percaya.”, jawabnya. “Moh ah, aku takut ikan Hiu.”. Dan kemudian dia tertawa.
Satu tahun kemudian di penghujung 2015, di salah satu kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan, saya kembali diracuni diving oleh salah satu sahabat saya yang lain lagi. Kalau dia memang diver yang sudah dapat lisensi. Jadi, jurus meracuninya pun lebih dahsyat. Ketika lagi-lagi saya urung diajak menyelam gara-gara takut dimakan ikan Hiu, lagi-lagi pula saya ditertawakan. Kemudian sahabat saya ini menjelaskan bahwa Hiu itu tidak akan menyerang orang menyelam karena mereka terlihat seperti ikan. Justru Hiu akan menyerang surfer karena mereka bergerak dengan cepat dan menarik perhatian si Hiu. Katanya lagi, dalam sejarah perselaman, hampir tidak ada diver yang dimakan ikan hiu gara-gara menyelam. “Jadi, ikut aku ke Sabang besok Maret.”, begitu ajaknya sedikit menantang. “Kampret! Gak bisa nih tantangan begini ditolak”, batin saya. “Ok, I am in. Tapi kamu jangan ngetawain aku hlo, kak. Aku cemen kalo udah ketakutan.”, jawab saya. Padahal dalam hati saya menyesal menjawab “I am in”. “Paling-paling juga ketagihan.”, kelakarnya sambil tertawa.
Singkat cerita, akhirnya saya menyelam di Aceh untuk pertama kalinya. Rasanya apa? Takut, seneng, bahagia, kagum, takjub, campur jadi satu. Jatung saya berdegub kencang sekali ketika sesi diving from shore entry dimulai. “Duh piye iki Gustiii, kalo saya gak bisa bernafas pakai regulator. Trus kalau ujug-ujug ada ikan Hiu aku kudu piye ikiii Gustiii. Hla wong teriak juga gak bisa. Gendeng ini gendeng. Ya Allah, saya masih belum mau mati muda hlo ini.”, begitulah celotehan-celotehan khawatir dari dalam diri saya. Sampai akhirnya saya sudah berada diantara ikan-ikan dan karang-karang Indah bersama Dive Master didadampingi Dive Buddy saya. Seketika saya memasukkan kepala ke dalam air, secara otomatis insting survival saya menghirup regulator yang sudah saya kulum sejak di permukaan. “Alhamdulillah, aku masih hidup.”, teriak saya dalam hati. Saya terus berusaha meyakinkan diri saya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan saya akan kembali ke penginapan dengan selamat. Karena masih sangat newbie tidak jarang saya menghirup regulator terlalu dalam yang mengakibatkan tubuh saya naik ke atas dengan cepat. Karena terlalu sering tidak stabil buoyancynya, akhirnya si Dive Buddy meminta saya untuk mengamit tangannya. Dan benar saja, saya lebih bisa bisa menguasai keadaan.
45 menit berjalan sempurna. Saya berjalan menuju pantai dengan semua peralatan masih terpasang di badan. “How was it?”, teriak sahabat saya, yang rupanya menunggui sesi saya selesai setelah dia kembali dari fun dive, kepada sang Dive Master. “It was good, she was good beginner.”, jawab si Dive Master. “Ah mbel, paling-paling mau nyenengin saya biar diving lagi besok pagi”, guman saya dalam hati sumringah karena senang.
Meskipun telinga saya gagal equalizing di sesi awal Discovery Scuba Dive, rupanya nyali saya masih cukup berani untuk mencoba satu sesi lagi sebelum kembali ke Aceh keesokan harinya. Dan, benar saja, setelah sesi terakhir, sebelum kembali ke permukaan, saya membuat janji di dalam laut Aceh kalau akhir tahun 2016 saya harus punya sertifikat “Open Water”. Kalau mereka (orang asing) mengatakan bahwa laut Indonesia itu indah sekali, mengapa saya orang Indonesia tidak menikmatinya juga. “Baiklah, laut Indonesia, tunggu saya menjelajah kedalamanmu dan mengagumi ciptaanNya yang Maha Indah di dalam sana. Saya janji akan kembali”, begitu kira-kira janji yang saya ikrarkan.
Demikianlah akhirnya saya mempushed diri saya untuk keluar dari zona nyaman. Mungkin kalau tidak ada racun-racun dari sahabat-sahabat saya, hari ini saya masih takut berenang di laut dengan alasan "takut dimakan ikan Hiu". Mungkin juga, saya jadi gak jalan-jalan kemana-mana di Indonesia. Dan sungguh, alam Indonesia itu cantik! Jeng... jeng, dan di bulan Desember tahun lalu (2016) saya resmi menyandang gelar “Open Water Diver”. Sah!! Nah, karena lisensi resmi sudah di tangan dan janji yang sudah diucapkan adalah hutang kepada diri sendiri maka, tahun ini saya akan menepati janji tersebut untuk kembali menyelami laut Indonesia. Rasanya sudah tidak sabar untuk untuk membenamkan diri kedalam air asin dan menikmati aquarium alami yang luar biasa indah.
“Hiiii Laut Indonesia, I’ll see you soon!!!” ___________________________________________________ 📷 Juru kamera: @jojosimo ✂️ Penyunting gambar: saya sendiri








