Linthong. Namanya Ratih, perempuan seperempat abad yang membenci keramaian. Selalu menandaskan letih pada kedai - kedai kopi yang sepi. Karena keletihan bukan untuk dibagi, katanya. Dia tak pernah membagi seteguk kopi pada meja yang sama. Sama halnya dengan kisah hidup yang ia jalani. Otaknya bekerja lebih keras, walau pemahamannya terhadap kopi tak sehebat para barista. Tapi hatinya begitu cepat menyelami kedalaman mata setiap barista yang ia temui. Ratih gagal mencerna keramaian, tapi ia tak gagal mencerna ruang yang barista itu sediakan. Matanya berbinar saat barista itu menghampiri dan meluangkan banyak waktunya untuk Ratih bercerita. Tentang linthong yang ia teguk dan biji papua yang ia kunyah ampasnya. Hingga secangkir linthong kandas, Ratih telah lebur bersama mata barista yang ada di hadapannya. Ia tak sadar bahwa ada hati yang tersangkut. Matanya menerjemahkan lain. Setiap barista tak pernah benar benar tulus padanya. Sebab banyak linthong yang disuguhkan untuk para penikmat kopi. Malam menjadi larut dan kembali dalam kesia siaan. Ya, Ratih telah sia sia menumpahkan perasaannya. Karena linthong tak lagi dia rasakan frasanya dari barista itu. Barista yang beberapa saat lalu duduk dan menggenggam tangannya. Cirebon, 15 Maret 2017. #bukanbaikburusarana #bukangegapgempita #ochamencerna #linthong












