Alhamdulillah. Meski tidak sempat menulis secuil kisah di akhir 4 Oktober 2020, setidaknya, dini hari saat ini menjadi kesempatan baik untuk menulis kisah tentang kemarin.
Ada beberapa buku yang kurencanakan untuk dibaca kemarin, tapi tanggal sebab lebih suka mendengar ilmu secara audiovisual. Aku jadi berpikir, mungkinkah buku yang tidak sempat kubaca bisa kuganti dengan nateri yang sama namun bersifat audiovisual?
Tidak mungkin, pikirku lagi. Mana ada bentuk audiovisual yang melisankan seluruh isi buku? Hm, ternyata memang perlu penyeimbangan kualitas. Perlu ada upaya lebih untuk penyeimbangan nutrisi bagi tiap indera.
Selain itu, hari kemarin juga menyadarkanku betapa sangat pentingnya mengkubukan segala list to do dengan kubu prioritas dan nonprioritas. Sebab kita jadi paham, mama yany perlu kita dahulukan. Sehingga misal ada rencana nonprioritas tidak terlaksana, itu lebih ringan menyesalnya dari pada kegiatan prioritas yang tidak terlaksana.
Nah, pelajaran penting lainnya lagi, aku disadarkan tentang sangat urgennya "waktu". Menyiakan-nyiakan waktu dua jam sebab tidak sengaja tertidur itu membuatku cukup sadar bahwa nikmat waktu luang itu benar-benar kesenangan yang penuh ujian. Itu belum dengan kesia-siaan lainnya, seperti main sosial media lebih dari satu jam.
Ya... Pada akhirnya segala kesalahan mengajarkan tentang kebaikan. Dan kesadaran yang baik adalah kesalahan yang tidak diulangi untuk kedua kalinya. Jadi untuk list to do for today, aku sudah membedakan mana prioritas dan nonprioritas. Tapi itu bukan apa-apa kecuali jika aku mampu mengamalkan dengan baik. Terlebih, pada kesia-siaan waktu.
Kuharap, semoga ini juga bisa jadi pelajaran untukmu, yang sedang membaca. Sebab segala untaian disini, tidak lain hanya sekadar kontemplasi yang memiliki percikan harapan menebar manfaat untuk orang lain. Semoga bermanfaat ya!
Sumenep, 5 Oktober 2020

















