Jajan-jajan di Makassar
Kuliner, adalah satu kata yang terlintas ketika menyebut Ujung Pandang atau Makassar. Dari panganan, makanan berat hingga pencuci mulut semuanya nampak menggoda lidah penikmat kuliner dari penjuru Indonesia. Semoga saja kalian sependapat dengan saya.
****
Setelah berhari-hari melaut, akhirnya kesempatan mendarat di kota Makassar dengan waktu kurang dari 24 jam menjadi waktu yang saya tunggu-tunggu. Betul, lidah saya sudah tidak sabar mencicipi beraneka sajian kuliner yang dijajakan di kota ini. Setelah perjalanan darat berjam-jam dari Bulukumba, akhirnya malam itu kami tiba di kota Makassar. Dengan perut kelaparan dan badan kelelahan, saya pikir menyantap Coto Makassar panas adalah pilihan tepat untuk mengembalikan energi kami yang banyak terkuras setelah menyelam dan menempuh perjalanan jauh.
Coto Makassar Gagak & Buras
Saya pun meminta Bapak supir untuk mengarahkan mobil sewaan kami ke salah satu kedai Coto Makassar di jalan Gagak. Segera saja, saya memesan coto daging tanpa campuran jeroan. Jujur saja, kala itu kali pertama saya mencicipi coto, jadi saya sedikit khawatir kalau-kalau rasanya tidak sesuai dengan lidah saya yang cukup pemilih ini. Setelah mencampur dengan jeruk nipis, sambal, dan kecap manis, saya pun menyeruput kuah coto perlahan dan mengecapnya. Spontan saya segera mengambil buras (sebutan ketupat di Makassar) dan mencampurnya ke dalam coto. Aahh, nikmat! Campuran rempah-rempah yang kaya dan daging sapi yang berlimpah sangat memuaskan sebagai hidangan penutup hari panjang yang baru saja kami lalui.
Untuk menikmati semangkuk coto, satu buah buras, dan es jeruk segar per orang dipatok 28 ribu. Untuk penilaian murah dan mahal itu relatif. Bagi saya tergolong tidak terlalu mahal mengingat kuantitas daging di dalam mangkuk yang berlimpah ruah tidak habis-habis sampai sendok terakhir. Es jeruknya juga murni dan segar luar biasa. Sayangnya, kadar kemanisan gulanya terlalu berlebih bagi saya.
Keesokan harinya, kami melanjutkan wisata kota Makassar sambil kulineran. Hanya saja, karena keterbatasan perut kami yang tidak seberapa ini, daftar panjang makanan yang ingin dicicip tidak semuanya dapat disambangi. Pagi itu kami mengawali kulineran dengan Nasi Kuning yang dijual di depan RRI Makassar. Awalnya tidak terlalu berniat membelinya, hanya saja olahan paru goreng yang tampak lezat dari lapak si penjual cukup menarik perhatian kami untuk akhirnya memberhentikan kaki di kedai itu dan membungkus satu porsi kecil nasi kuning lengkap, seharga 33 ribu, yang ternyata cukup mengenyangkan untuk disantap kami bertiga. Begitu bungkusan dibuka, kami dikejutkan dengan daging sapi berlimpah di sajian nasi kuning tersebut. "Paru, empal, gulai daging, dan abon. Hmmm... Bagaimana orang Makassar bisa bertahan dengan menu seperti ini setiap hari ya? Kalau kita begini terus bisa cepet mati gak sih??", demikian kelakar saya kepada Joice dan Sagita. Santapan pagi menjelang siang tersebut kami nikmati di salah satu sisi Benteng Rotterdam. Sambil duduk-duduk piknik, kami pun cekikikan bercerita sana-sini sambil tidak berhenti membahas betapa tidak pelitnya penjaja makanan di Makassar dalam memberikan kuantitas daging pada setiap dagangan yang dijualnya.
Nasi kuning, paru, abon, empal, dan gulai daging yang tidak terpotret
Hari sudah menjelang makan siang ketika kami tiba di Pantai Losari setelah berjalan kurang lebih satu kilometer dari Benteng Rotterdam. Sayang, selasar Pantai Losari sedang digunakan untuk pameran lokal, jadi pemandangan Pantai Losari yang saya harapkan tidak dapat dinikmati. Kecewa, namun apa boleh buat. Kami pun melanjutkan makan siang di Konro Karebosi. Adalah hidangan iga bakar dan sup iga dengan bumbu khas Makassar yang kental dengan rempah. Karena belum tahu rasanya seperti apa, kami pun memilih memesan dua menu tersebut untuk makan tengah. Setelah menunya keluar, kami dibuat terbelalak kembali. Alamak, iganya besar-besar tiada tara. Untung saja untuk makan tengah, kalau tidak, belum tentu satu porsi akan habis dimakan sendiri. Berbicara tentang harga, dibandingkan dengan yang sudah-sudah santap siang kami saat itu terbilang agak mahal. Satu menu dipatok 50 ribu rupiah. Akan tetapi, apabila dibandingkan dengan harga di Jakarta, banderol harga yang diberikan menjadi tidak terlalu berarti dengan kualitas dan kuantitas sajiannya. Mantep!
Setelah makan siang kami turun, kami pun melanjutkan perjalanan ke menu penutup mulut sebelum bertolak ke Bandara Sultan Hassanudin. Adalah es pisang ijo dan es pallu butung di Rumah Makan Bravo yang menjadi sasaran kami. Konon es di tempat ini cukup legendaris dan rasanya enak. Jadilah, saya dan teman-teman mampir ke toko ini untuk menyantap menu pencuci mulut kami. Setibanya di lokasi, dan melihat porsi dessert yang lebih cocok untuk menu sarapan itu, kami pun menjadi tidak percaya diri dengan kekuatan perut masing-masing. Akhirnya, kami memutuskan membeli satu buah es pisang ijo dan satu buah es pallu butung untuk bertiga. Nyes... manis dan adem. Enak dan legit, meskipun rasanya lagi-lagi terlampau manis untuk saya. Berbeda dengan kedua teman saya yang memilih pisang ijo sebagai hidangan yang lebih digemari, kali ini es pallu butung terasa lebih cocok di lidah saya. Mungkin karena sudah kekenyangan, jadi dessert yang ringan namun legit lebih terasa menggigit. Meski demikian, saya masih coba-coba memesan otak-otak untuk dicicip karena kabarnya Makassar terkenal dengan otak-otaknya. Setelah mengecap, ternyata saya kurang suka. Saya pikir rasanya akan sama dengan otak-otak dari Serang. Ternyata berbeda, bumbunya pun terbuat dari tau co yang kurang cocok di lidah saya.
Es pisang ijo, jajanan andalan di Makassar
Meski daftar wisata kuliner di Makassar masih tersisa panjang untuk dicentang, apa boleh buat waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Artinya, saya dan Sagi harus bersiap ke bandara untuk pulang ke Jakarta demi mencari uang saku untuk berpetualang. Lain hari, saya pasti mampir lagi, kota Makassar. Sampai saat itu tiba akan saya ingat di indera pengecap saya betapa nikmatnya menyantap hidangan Angin Mamiri di kotamu.
15 Makanan Yang Perlu Dicoba di Makassar:
Coto Makassar
Pallubasa
Sop Konro
Konro Bakar
Sop Saudara
Nyuknyang (bakso)
Nasi Kuning
Mie Titi
Otak-otak
Pisang epe
Es Pisang Ijo
Es Palubutung
Gogos
Papeda
Es Kelapa Muda khas Makassar
Catatan Untuk Pembaca:
Untuk berkeliling kota Makassar banyak kendaraan yang bisa digunakan termasuk taksi online.
Jarak pusat kota dengan bandaa sekitar 30-40 menit.
Biaya taksi online dari pusat kota ke bandara kurang lebih IDR 60K-70K sudah termasuk biaya tol.
Taksi online tidak ada di bandara, jadi pilihannya adalah taksi bandara atau Bus Damri
Bus Damri dapat diakses di depan RRI Makassar dengan waktu keberangkatan setiap 30 menit. Biaya satu kalo perjalanan IDR 27K
Fort Rotterdam gratis biaya masuk.
Pantai Losari dapat diakses dengan jalan kaki dari Fort Rotterdam.
Sayur mayur susah ditemukan dalam setiap menu makanan khas yang dijajakan.















