Yesus berjalan ke Golgota disandangnya salib kayu bagai domba kapas putih. Tiada mawar-mawar di jalanan tiada daun-daun palma domba putih menyeret azab dan dera merunduk oleh tugas teramat dicinta dan ditanam atas maunya. Mentari meleleh segala menetes dari luka dan leluhur kita Abraham berlutut, dua tangan pada Bapa: – Bapa kami di sorga telah terbantai domba paling putih atas altar paling agung. Bapa kami di sorga Berilah kami bianglala! Ia melangkah ke Golgota jantung berwarna paling agung mengunyah dosa demi dosa dikunyahnya dan betapa getirnya Tiada jubah terbentang di jalanan bunda menangis dengan rambut pada debu dan menangis pula segala perempuan kota. – Perempuan! mengapa kautangisi diriku dan tiada kautangisi dirimu? Air mawar merah dari tubuhnya menyiram jalanan kering jalanan liang-liang jiwa yang papa dan pembantaian berlangsung atas taruhan dosa. Akan diminumnya dari tuwung kencana anggur darah lambungnya sendiri dan pada tarikan napas terakhir bertuba: – Bapa, selesailah semua! (Balada Penyaliban dari Ballada Orang-orang Tercinta, WS Rendra, 1957) #goodfriday #crucifixion #mysavior #loveiscross #hisfaithfulness #jumatagung #thegreatestlove (at @Gereja Bethany Wanea Plaza)












