Luhde
Aku masih sangat ingat, dulu ada dua kubu pembaca novel Perahu Kertas.
Kubu yang percaya bahwa Keenan memang seharusnya bersama Kugy. Dan kubu yang diam-diam merasa Luhde lebih pantas dipilih. Perdebatan itu selalu muncul di dunia maya, setiap kali novel itu dibicarakan.
“Kugy itu soulmatenya Keenan.”
“Tapi Luhde jauh lebih dewasa.”
“Keenan sama Kugy itu takdir.”
“Iya, tapi Luhde yang benar-benar menenangkan dia.”
Dulu aku termasuk kubu yang pertama.
Aku pertama kali membaca novel Perahu Kertas saat masih kuliah. Novel itu bukan punyaku, tapi pinjaman dari temanku. Aku membacanya pelan-pelan di kamar kos. Kadang sambil rebahan. Kadang sambil mendengarkan lagu dari ponsel. Ada beberapa bagian yang membuatku berhenti cukup lama sebelum lanjut membaca.
Beberapa tahun setelahnya, aku menonton adaptasi filmnya dari file bajakan yang kusimpan di laptop. Resolusinya bahkan tidak terlalu bagus. Kadang suaranya sedikit tidak sinkron dengan gambarnya. Tapi aku tetap menontonnya sampai selesai.
Saat itu, menurutku Keenan memang seharusnya memilih Kugy. Orang yang membuat hari-hari terasa lebih berisik, lebih tidak terduga. Cinta memang seharusnya seperti itu. Dan ternyata, setelah hidup berjalan cukup jauh, pandanganku tentang cinta berubah pelan-pelan.
Saat kemarin membaca ulang novel perahu kertas, aku langsung teringat sosok Luhde.
Ada sesuatu dari cara Luhde hadir yang terasa mirip dengan istriku.
Istriku bukan perempuan yang pandai membuat hidup terasa dramatis.
Ia tidak seunik Kugy. Tidak penuh kejutan. Tidak punya cara bicara yang membuat orang terus penasaran.
Tapi ia seperti rumah. Tenang, hangat, dan selalu ada.
Istriku juga bukan perempuan yang membuat dunia terasa berputar cepat, tapi perempuan yang membuat seseorang ingin berhenti berlari.
Aku tentu pernah bertanya pada diriku sendiri. Kalau aku ada di posisi Keenan, siapa yang akan kupilih?
Dulu jawabanku pasti Kugy.
Tapi sekarang berbeda. Aku akan memilih Luhde.
Bukan karena Kugy buruk. Bukan juga karena cinta Keenan dan Kugy tidak nyata. Aku hanya merasa, seiring bertambahnya usia, hidupku tidak selalu membutuhkan seseorang yang membuat jantung berdebar paling kencang. Aku hanya membutuhkan seseorang yang tetap tinggal saat versi terbaikku sudah habis.
Dan istriku melakukan itu. Ia selalu ada di hari-hari paling biasa dalam hidupku. Saat aku pulang kerja dengan wajah lelah. Saat isi rekening sedang tidak baik-baik saja. Saat aku lebih banyak diam daripada bercerita.
Ia tidak selalu punya kata-kata hebat. Kadang bahkan yang ia tanyakan hanya:
"Udah makan belum?"
Kalimat sederhana yang mungkin tidak akan pernah bisa menyaingi percakapan-percakapan indah dalam novel.
Saat masih muda, aku sempat jatuh cinta pada orang seperti Kugy. Orang yang membuat dunia terasa lebih hidup dan Lebih berwarna. Tapi semakin dewasa, aku mulai mengerti kenapa banyak orang akhirnya memilih pulang kepada seseorang seperti Luhde.
Karena hidup ternyata panjang. Menjalani hidup panjang bersama seseorang jauh berbeda dengan sekadar merasakan jatuh cinta.
Lucunya, dulu aku sempat merasa ending Perahu Kertas sedikit mengecewakan. Aku ingin Keenan memilih ketenangan. Aku ingin ia berhenti mengejar sesuatu yang rumit. Tapi sekarang aku sadar mungkin memang ada orang-orang yang ditakdirkan mengejar Kugy. Ada juga orang-orang lain yang memilih menjaga Luhde. Tidak ada yang salah. Karena setiap orang membawa kebutuhan hidup yang berbeda.
Tentu saja aku bukan Keenan. Hidupku juga tidak seindah novel. Tapi kalau boleh jujur, aku bersyukur. Karena dalam hidup yang biasa-biasa ini, aku ternyata tidak sedang mengejar Kugy. Aku sedang hidup bersama seseorang yang selama ini diam-diam menjadi Luhde untukku.
Dulu aku sering mengira cinta terbaik adalah cinta yang paling menggetarkan.
Sekarang, bagiku cinta terbaik adalah yang membuat seseorang bertahan, pulang, dan tetap tinggal.
Iya, memang tidak selalu membuat dunia terasa luar biasa, tapi membuat hidup terasa cukup. Dan semakin dewasa, aku mulai sadar: rasa cukup mungkin memang salah satu bentuk cinta yang paling tenang.













