MABA (sok-sokan) Menulis Tentang Mahasiswa.
Dari judul aja udah bisa ketebak ini tulisan ecek-ecek yang dibuat sama seorang mahasiswa yang baru banget terjun kedunia penuh tantangan ini. Tapi gapapa ya, entah kenapa gua selalu ngerasa perlu buat nulis apa yang gua pikirin saat ini. Tujuannya apa? Bukan buat provokasi, tapi buat coba ngasih tau orang tentang sudut pandang anak seumuran dan semodelan gua. Trus juga gua pengen jadiin tulisan-tulisan gua sebagai investasi gua berintropeksi dan improvisasi, sebagai salah satu parameter perkembangan diri gua pribadi. Gitu intiya.
Memasuki dunia perkuliahan, jujur ya banyak banget hal yang bikin gua (bahasa lebaynya) ternganga-nganga. Terutama tentang jenis-jenis pergerakan kemahasiswaan. Dan gua bener-bener ngerasain suatu keberagaman pandangan mahasiswa dalam menanggapi sebuah isu sosial yang berkembang di masyarakat. Yang terhangat perihal mahasiswa BEM SI yang ditangkep aparat pas lagi aksi tanggal 20 Oktober kemarin. Dan gua sebagai seorang maba yang kalau kata senior gua, “amatin dulu sampe lu tau mana yang menurut lu baik dan menurut lu kurang baik buat lu.” mulai perhatiin tuh macem-macem mahasiswa.
Gua pun menemukan sebuah kelompok yang gak tau kalau ada aksi itu plus gak tau juga kalau ada yang ketangkep. Jujur ini adalah kelompok yang paling gua hindari. Kelompok ini didominasi sama orang-orang yang sibuk terlarut oleh hedonisme. Entah itu hedonisme yang berorientasi agar menjadi mahasiswa “kekinian” (versi mereka) yang dimanjakan oleh berbagai fasilitas, ataupun hedonisme akademis yang menuntut dirinya agar menjadi terunggul soal urusan pelajaran. Ya intinya saking sibuknya sama kebutuhan dirinya masing-masing sampe lupa sama lingkungan sekitar.
Ada juga kelompok yang tau tentang berita ini, tau juga masalahnya apa, tau juga akhirnya berujung gimana, tapi seolah-olah gaada apa-apa. Gua gak tau golongan ini di dominasi sama anak-anak yang bisa gua juluki dengan sebutan apa. Tapi intinya adalah, kok bisa ya bersikap cuek-cuek aja? Padahal ini alarm keras loh buat mahasiswa klo ruang gerak kita dipersempit sama rezim. Tapi modelannya orang-orang dilingkaran ini kayaknya gak beda jauh sama kelompok sebelumnya, lebih bagus lah karena masih ada rasa ingin tau.
Selanjutnya adalah kelompok yang gara-gara mereka gua punya banyak pertanyaan. Gua nemuin banyak orang yang bilang “yailah fir, itu kan BEM SI yang ditangkep ngapain ikut-ikutan sih?” yaampun jujur ya, ini bener-bener bikin gua kaget. Adalagi yang bilang “ya biarin aja fir, kita kan gatau apa sebenernya tujuan mereka aksi dan didalangi oleh siapa mereka.” Aduhhh makin-makin puyeng lah gua. Sekali lagi gua tekenin, ini adalah tulisan opini seorang mahasiswa baru yang lagi mencoba memahami dan mencari jati diri mahasiswa ideal itu sendiri. Ini yang harus gua kaji lebih dalam, perbedaan BEM SI, BEMNas dan BEMNus. Dan bahkan kemarin sempet beredar tentang upaya rezim untuk membuat BEM RI. Dan apakah haram hukumnya bagi satu aliansi BEM untuk membela aliansi BEM lainnya? Ya biasanya orang-orang dikelompok ini adalah kelompok orang yang udah punya idealisme mereka sendiri. Ya baguslah, ini pondasi kuat yang harus dimiliki mahasiswa. Idealisme.
Adalagi kelompok yang lebih memilih buat bergerak dengan pena. Bisa dengan mengkritisi rezim lewat pemerintah, ataupun mencoba membangun bangsa lewat akademik. Cakep nih yang begini, udah punya orientasi dan berusaha berkontribusi bagi kemajuan bangsanya. Kurangnya adalah mahasiswa digolongan ini cenderung menentang keras bentuk-bentuk aksi. Bagi mereka, kata akan lebih keras dibanding toa. So, mereka punya kelompok yang bersebrangan yaitu kelompok mahasiswa yang kelasnya pindah ke jalan. Bagus juga mahasiswa kayak gini, berani dan peka. Mereka punya aksi nyata dan “kekeuh” demi kemajuan bangsanya. Tapi, parahnya adalah klo semua hal serba dibuat aksi sampe mereka lupa kalau aksi bukan satu-satunya solusi. Dua golongan ini bagus, mereka mencoba mengkritisi dengan caranya masing-masing.
Jadi yang baik yang mana?
Sekali lagi gua tekenin, ini cuma tulisan seorang mahasiswa baru yang lagi mencari tau tentang banyak hal. Sebagai seorang pengamat, ealoh bahasa gua pengamat wkwkwkwk intinya satu. Jangan bungkam! Gua greget aja gitu sama yang diem-diem aja seolah bangsa ini baik-baik aja. Jujur gua tipe orang yang lebih suka negosiasi atau menyampaikan aspirasi lewat jalur yang lebih kooperatif, tapi kadang-kadang gua juga ngerasa kalau pemerintah itu butuh digertak. Bener kata para mahasiswa yang berkecimpung didunia akademik dan pers klo aspirasi bisa disuarakan dengan tulisan, kalau hal ini bakal nunjukin citra kita sebagai kaum berpendidikan. Tapi klo mau kita inget-inget lagi minat bangsa dalam membaca udah sebagus apa? Apakah sekalipun tulisan-tulisan itu bagus menurut versi kita, itu bisa dengan mudahnya diekspos media besar hingga viral dan dibaca sama banyak orang? Dan apakah kita ingat kalau media-media besar tersebut udah ada yang mengintervensi saat ini? Coba kembali kita renungi.
Aksi memang bukan satu-satunya solusi, tapi bagaimanapun aksi bisa menjadi solusi. Dengan aksi yang nekad seperti itu bukan berarti mereka tidak dipayungi hukum. Aksi yang selama ini kita lihat di TV adalah aksi-aksi yang legal dang mengantongi izin. Tujuannya aksi apa? Jelas disamping untuk menyampaikan aspirasi adalah agar disorot media cetak maupun elektronik. Viral dimana-mana, membuat orang bertanya-tanya “sebenarnya ada apa?”. Mereka mencoba menggugah hati nurani kita, simpati dan empati kita, kesadaran kita, bahwa sebenarnya KITA SEDANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA. Ini sisi positif yang gua dapet dari aksi, walaupun gak jarang aksi-aksi ini bikin banyak orang ngerasa sebagai bentuk disintegritas.
Sekali lagi gua ingetin, ini cuma sebuah tulisan seorang mahasiswa BARU yang lagi mencoba mencari tau tentang mahasiswa ideal itu seperti apa? Intinya tadi, jangan bungkam! Setiap individu mahasiswa punya tanggung jawab besar bagi bangsanya. Disebut-sebut sebagai generasi penerus bangsa. Sehingga mau bagaimanapun memiliki kontribusi bagi kemajuan bangsa adalah wajib. Caranya? Terserah. Setiap orang tau dan punya caranya masing-masing. Mulailah dari sekarang. Apaun latar belakang kita, dan bagaimanapun cara berjuang kita, yang penting adalah satu, kebangkitan bangsa ini. Hilangkan pola hubungan antagonistik, itu kuno, sebuah pola yang laku ketika dulu bangsa ini masih merangkak atau bahkan ngesot(?). Saling mencurigai dan berprasangka buruklah justru awal disintegritas kita. Mulailah membangun pola hubungan resipokal kritis dan pada akhirnya menjadi akomodatif.
Mari saling bahu-membahu membangun negeri, menjadi mahasiswa independen yang memiliki idealisme tanpa radikalisme. Karena mau tidak mau mahasiswa dituntut untuk menjadi penyambung lidah rakyat, yang tidak hanya sekedar beretorika tapi juga memberi aksi nyata. Ohiya, ada satu lagi yang harus gua tekenin. Disamping hiruk piruk pergerakan mahasiswa, kita punya sesuatu yang lebih penting. Kita punya kontrak perjanjian dengan diri kita sendiri, dengan orang tua, dan dengan Tuhan. Sehingga semua hal harus balance. Antara kebutuhan akademik, kebutuhan fisik, kebutuhan umat, dan kebutuhan rohani.
Sekian.


















