Satu Semester, Banyak Cerita: Belajar, Berproses, dan Berkembang di PGSD
Capek?IYA. Berkesan?BANGETTTTTTTTT.Cerita satu semester PGSD UMPWR
Awalnya kami pikir semester ini akan sama seperti biasanya—datang ke kelas, duduk, mencatat, lalu pulang. Ternyata kami salah. Semester ini membawa kami ke banyak tempat, banyak cerita, dan banyak pelajaran yang tidak selalu datang dari papan tulis. Dari perjalanan bersama saat PDLM, momen reflektif di Hari Guru, hingga langkah-langkah kecil menyusuri ruang gelar karya, semuanya perlahan membentuk cara kami memandang dunia pendidikan. Inilah cerita kami—cerita tentang belajar yang tidak selalu terasa seperti belajar.
PDLM PGSD: Dua Hari Penuh Cerita, Tawa, dan Kebersamaan
PDLM PGSD yang dilaksanakan pada 25–26 Oktober 2025 menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama semester ini. Kegiatan ini bukan sekadar agenda kampus biasa,melainkan ruang nyata untuk belajar,bertumbuh,dan menikmati kebersamaan sebagai mahasiswa PGSD. Dari semua rangkaian kegiatan, hari kedua PDLM menjadi momen yang paling kami nantikan.
Pagi-pagi sekali, di tanggal 26 Oktober sekitar pukul 07.00,kami sudah siap berangkat menuju Dolan Ndeso,Kulon Progo,Yogyakarta.Perjalanan kami tempuh menggunakan empat bus,dan kami duduk bersama bertiga di bus nomor empat. Sejak awal keberangkatan, suasana sudah terasa hangat dan penuh canda.Sepanjang perjalanan,mata dimanjakan oleh pemandangan yang indah,membuat waktu terasa berjalan begitu cepat.Cemilan, obrolan ringan,tawa lepas,dan cerita acak menjadi teman perjalanan kami. Rasanya benar-benar menyenangkan dan membahagiakan.
Sesampainya di lokasi, kami disambut dengan ramah oleh kakak-kakak HIMA serta pemandu wisata Dolan Ndeso.Sejak saat itu, suasana terasa semakin hidup. Dari awal hingga akhir, kegiatan berlangsung meriah dan penuh semangat. Kami mengikuti berbagai aktivitas seru, mulai dari outbound, arung jeram, hingga permainan kelompok lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga melatih kerja sama, kekompakan, dan keberanian. Meski tubuh terasa lelah, keseruan yang kami rasakan jauh lebih besar daripada rasa capek itu sendiri.
Menjelang akhir kegiatan, kami menikmati makan bersama yang sederhana namun sarat makna kebersamaan. Suasana semakin ramai saat acara pemilihan King and Queen PGSD dimulai. Tawa, sorak sorai, dan tepuk tangan memenuhi area kegiatan. Sebagai penutup, dilakukan penyerahan sertifikat dan hadiah kepada peserta terpilih. Setelah itu, kami berpamitan dan berjalan kembali menuju bus untuk pulang. Hari itu meninggalkan kesan yang begitu mendalam—bukan hanya tentang serangkaian kegiatan, tetapi juga tentang kebersamaan dan kenangan yang tercipta bersama.
Kesan dan Pesan Kami bertiga
Kesan Keysya
"PDLM menjadi pengalaman yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Mulai dari berangkat sampai kembali pulang, semuanya terasa berkesan seru dan penuh tawa. Kegiatan di Dolan Ndeso membuka mata saya bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas. Melalui dari outbound dan arung jeram, saya belajar tentang kerja sama tim, keberanian, serta menikmati setiap proses. Rasa lelah yang muncul terasa sepadan dengan kebahagiaan dan kenangan yang tercipta bersama teman-teman."
Kesan Nanda
"Bagi saya, PDLM adalah momen yang membuat saya semakin merasa menjadi bagian dari keluarga besar PGSD. Perjalanan bersama, canda di dalam bus, hingga kebersamaan saat bermain di Dolan Ndeso benar-benar mempererat hubungan antar teman. Kegiatannya menyenangkan, suasananya hangat, dan yang paling berharga, saya pulang membawa cerita serta pengalaman yang tidak hanya seru, tetapi juga penuh makna."
Kesan Riana
"PDLM kemarinn menjadi salah satu cara terbaik untuk sejenak melepas lelah dari rutinitas di dunia perkuliahan. Menjadi salah satu momen yang paling saya ingat adalah kebersamaan kami,mukai dari perjalanan pagi yang dipenuhi tawa bahagia hingga sampai acara penutup yang sangat berkesan. Semua kegiatan yang kita lakukan bersama terasa terasa asik dan sangat menyenangkan. PDLM bukan hanya tentang aktivitas fisik, tetapi tentang kenangan dan rasa kebersamaan yang akan selalu saya ingat."
HARI GURU "MENGAPA KAMI MEMILIH JALAN INI"
DOKUMENTASI SEMINAR HGN2025
Hari Guru : Sebuah Pengingat Mengapa Kita Memilih Jalan Ini.Di era di mana informasi dapat ditemukan hanya dengan satu sentuhan pada layar , peran seorang guru sering dipertanyakan . Mesin pencari dapat menjawab soal matematika dalam hitungan detik, kecerdasan buatan dapat menulis esai, dan bahkan meringkas buku dalam waktu singkat . Namun, di tengah derasnya perkembangan teknologi ini , Hari Guru menjadi pengingat mengapa guru tetap tak tergantikan .Pada hari ini , perayaan Hari Guru bukan hanya upacara tahunan .Bagi kami, para mahasiswa PGSD , ini adalah momen untuk refleksi yang lebih mendalam . Dunia pendidikan kini ibarat lautan informasi —luas , cepat , dan tak terbatas . Tanpa bimbingan yang tepat , siswa mungkin akan tersesat dalam lautan data , fakta, opini, dan bahkan berita palsu . Di sinilah peran seorang guru telah berubah , bukan lagi hanya sebagai sumber pengetahuan , tetapi sebagai penunjuk jalan . Di era AI , guru bukanlah mereka yang bersaing dengan teknologi , melainkan mereka yang dapat berjalan beriringan dengannya .Guru mengajarkan cara memilih informasi , menumbuhkan pola pikir kritis , dan membentuk karakter agar teknologi digunakan dengan bijak . AI mungkin memberikan jawaban, tetapi gurulah yang mengajarkan makna di balik jawaban tersebut — tentang etika, empati , dan tanggung jawab. Melalui berbagai kegiatan Hari Guru , kami menyadari bahwa menjadi seorang guru berarti siap menghadapi perubahan zaman .Seorang guru tidak hanya mengajarkan apa yang perlu diketahui , tetapi juga membimbing cara belajar sepanjang hayat . Dalam menghadapi kekuatan kecerdasan buatan yang terus berkembang , guru berperan sebagai pembimbing agar siswa tidak hanyut terbawa arus , melainkan dapat berenang dengan kesadaran dan tujuan.Hari Guru telah menjadi lebih dari sekadar perayaan .Ini telah menjadi pengingat akan jalan yang kita pilih—menjadi seorang pendidik yang adaptif , manusiawi , dan visioner. Sebuah jalan untuk berdiri di depan kelas , bukan sebagai seseorang yang memiliki semua jawaban , tetapi sebagai pendamping setia yang membimbing generasi berikutnya melalui lautan informasi dengan kompas nilai dan hati nurani . Di era AI , peran seorang guru menjadi semakin bermakna . Seberapa jauh pun kemajuan teknologi , manusia tetap membutuhkan seseorang yang dapat membimbing, menginspirasi, dan menanamkan kebijaksanaan. Dan pada Hari Guru ini , kita diingatkan : inilah mengapa kita memilih jalan ini .
Kesan Keysya
"Hari Guru bikin aku benar-benar mikir ulang tentang alasan kenapa aku milih jalan ini. Di zaman sekarang, apa-apa bisa dibantu teknologi, bahkan AI. Tapi dari momen ini aku sadar, sepintar apa pun teknologi, tetap nggak bisa gantiin peran guru yang ngerti perasaan murid, yang mau sabar membimbing, dan ngajarin mana yang benar dan mana yang perlu dipertanyakan. Hari Guru ini ngingetin aku kalau jadi guru itu bukan cuma soal ngajar, tapi soal menemani."
Kesan Nanda
"Buat aku, Hari Guru terasa beda. Di tengah teknologi yang makin canggih, aku justru makin yakin kalau guru itu tetap penting. AI bisa kasih jawaban cepat, tapi guru yang ngajarin kita cara berpikir, bersikap, dan jadi manusia yang lebih baik. Dari peringatan Hari Guru ini, aku ngerasa makin dekat sama cita-citaku sendiri—jadi guru yang nggak cuma paham teknologi, tapi juga paham muridnya."
Kesan Riana
"Hari Guru jadi momen refleksi buat aku. Terkadang kita sibuk sama tugas, nilai, dan teknologi, sampai lupa siapa yang selama ini membimbing kita. Dari sini aku sadar, guru itu seperti penunjuk arah—nggak selalu ngasih jawaban, tapi ngasih arah supaya kita nggak tersesat. Hari Guru ini bikin aku makin yakin kalau kelak jadi guru, aku pengin jadi sosok yang hadir, peduli, dan bisa dipercaya murid-muridku."
DATANG TANPA KARYA TAPI PULANG DENGAN INSPIRASI
DOKUMENTASI GELAR KARYA 2025
Gelar Karya yang diadakan pada 18 Desember 2025 di Ruang Auditorium Kasman Singodimedjo, UMPWR, menjadi salah satu penutup semester yang memberi kesan tersendiri. Kami datang bukan sebagai peserta yang menampilkan karya, melainkan sebagai penonton yang diminta untuk mengamati, belajar, dan mengapresiasi. Meski begitu, pengalaman yang kami dapatkan justru terasa sangat bermakna.Begitu memasuki auditorium, suasana langsung terasa hidup. Ruangan dipenuhi berbagai media pembelajaran, baik digital maupun non-digital, yang ditata dengan rapi dan menarik. Setiap sudut menyajikan ide dan kreativitas yang berbeda, membuat kami tak sekadar berjalan berkeliling, tetapi benar-benar berhenti, melihat, dan memperhatikan satu per satu.Dalam kegiatan ini, kami juga mendapatkan tugas mata kuliah TIK dari Bapak Barep untuk membuat video vlog tentang media pembelajaran digital yang ada di Gelar Karya tersebut. Tugas ini membuat kami lebih fokus dan teliti dalam mengamati setiap karya. Kami tidak hanya menonton, tetapi juga mencoba memahami bagaimana media-media itu dirancang dan digunakan dalam pembelajaran.Beragam media pembelajaran digital kami temui di sana. Ada komik digital yang dikemas menarik untuk membantu siswa memahami materi dengan cara yang lebih menyenangkan. Ada pula animasi interaktif matematika yang membuat konsep hitung terasa lebih mudah dan tidak membosankan. Selain itu, terdapat kuis seni budaya yang interaktif, serta media pembelajaran tentang perubahan wujud zat dan kalor yang disajikan secara visual dan komunikatif. Dan tentu saja, masih banyak media digital lainnya yang menunjukkan bahwa pembelajaran bisa dibuat kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Dari kegiatan ini, kami menyadari bahwa media pembelajaran digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana guru mampu menyampaikan materi dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Gelar Karya ini membuka wawasan kami bahwa kreativitas guru sangat berperan dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.Kami benar-benar datang tanpa membawa karya, tetapi pulang dengan banyak inspirasi. Gelar Karya ini bukan hanya menjadi ajang pameran, melainkan ruang belajar yang mengajarkan kami untuk terus terbuka terhadap ide-ide baru. Sebagai calon guru, pengalaman ini menjadi bekal penting untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan dunia pendidikan yang terus berkembang.
Kesan Keysya – Quiz Seni Budaya
"Waktu lihat quiz seni budaya, aku langsung ngerasa media ini cocok banget buat anak SD. Bentuknya seperti permainan, jadi nggak bikin tegang atau bosan. Pertanyaannya ringan tapi tetap nyambung sama materi. Menurutku, media ini bisa bikin siswa lebih berani jawab dan lebih tertarik sama pelajaran seni budaya. Dari sini aku sadar, pelajaran yang sering dianggap sepele atau membosankan ternyata bisa dibuat seru kalau gurunya kreatif."
Kesan Nanda – Animasi Interaktif Matematika
"Media animasi interaktif matematika jadi salah satu yang paling bikin aku berhenti lama buat lihat. Biasanya matematika terasa ribet, tapi lewat animasi ini, konsepnya jadi lebih kebayang. Gerakan dan visualnya bikin penjelasan terasa lebih jelas dan nggak bikin pusing. Aku ngerasa media seperti ini bisa bantu siswa yang selama ini takut sama matematika jadi lebih percaya diri dan berani belajar."
Kesan Riana – Perubahan Wujud Zat dan Kalor
"Pas lihat media perubahan wujud zat dan kalor, aku langsung mikir, “Oh, ternyata bisa dijelasin sesimpel ini.” Materi yang biasanya susah dibayangin jadi lebih mudah dipahami karena ditampilkan secara visual. Media ini ngebantu banget buat anak SD supaya nggak cuma hafal, tapi benar-benar ngerti prosesnya. Dari sini aku belajar kalau teknologi bisa jadi teman guru buat menjelaskan hal-hal yang sulit."
Ketika semester ini akhirnya sampai di penghujung, kami sadar bahwa yang paling berharga bukan hanya nilai di KHS, tetapi cerita-cerita yang kami kumpulkan di sepanjang perjalanan. Kami belajar tertawa bersama, belajar menghargai peran guru di tengah kemajuan teknologi, dan belajar membuka mata terhadap kreativitas yang lahir dari karya orang lain. Semua pengalaman ini menjadi bekal kecil dalam perjalanan panjang kami menuju dunia pendidikan. Kami mungkin masih belajar menjadi guru, tetapi semester ini telah mengajarkan satu hal penting: belajar bisa terjadi di mana saja, asal kami mau membuka diri dan berjalan bersama prosesnya.