Jangan pulang sebelum dijemput, ya?
Pasca kabar kehilangan di malam 29 ramadhan kemarin aku jadi banyak merenung. Malam itu aku cukup ketrigger karena banyak alasan. Bagaimanapun, aku terlalu takut untuk sekedar membayangkan ada di posisi mereka yang memutuskan untuk pergi dan mereka yang merasa ditinggalkan.
Jadi aku putuskan untuk menuang kegundahan itu dalam bentuk tulisan, entah bisa disebut hanya sebuah celoteh harian atau surat, tapi aku berharap kelak teman-temanku sayang berkenan untuk baca.
Seperti sebelum-sebelumnya, kematian, bagi siapapun yang ditinggalkan, akan selalu menjadi hal yang menakutkan dan meninggalkan ruang kosong yang akan selalu diisi kenangan indah sekaligus luka paling menyayat. Dan kita gak perlu jadi keluarganya, temannya, kekasihnya, pemujanya, atau apapun itu untuk ikut berduka. Kita cukup menjadi manusia untuk sedikit saja mengerti rasa sakit yang pernah mereka alami dan memiliki sedikit rasa hormat untuk mereka yang merasa kehilangan.
Kematian, seperti apapun prosesnya, tetaplah kematian. Bukan seperti tersesat yang kita bisa kembali dan ditemukan, bukan seperti koma yang kita bisa bertemu keajaiban untuk kembali. Kematian berarti pergi selamanya. Dan mereka yang paling putus asa terisak ingin mati mungkin sebenarnya adalah mereka yang paling lantang teriak ingin hidup. Kita mungkin terlewat dan khilaf, dengan hanya melihat kebahagiaan sebagai POV dari kita tanpa POV dari mereka yang ada di sekeliling kita.
Behind closed doors, we don’t know what they are going through. And somehow ironically, people could only see the beautiful part from the outside without knowing the pain behind that beauty.
Teman-teman sayang, kalau hari ini kalian merasa gundah, melakukan banyak kesalahan, diliputi banyak kekecewaan, dan selalu gagal selepas usaha yang telah kalian lakukan, mungkin kalian sedang berada pada suatu titik permulaan untuk sesuatu yang besar.
Kalau kalian merasa lelah, merasa segala yang diperjuangkan sia-sia, merasa masalah-masalah itu tak ada habisnya, merasa kesulitan meraih segala yang dimimpikan, mungkin memang usaha kita terbatas namun percayalah bahwa do'a-do'a itu tak ada batas.
Terima kasih banyak ya karena sudah mencoba banyak hal, sudah mau menerima, sudah mau untuk mengerti. Terima kasih karena mau untuk selalu bertumbuh dan belajar. Terima kasih karena sudah dan masih mau untuk bertahan.
Terima kasih ya, terima kasih sudah jadi orang baik. Terima kasih sudah hadir dan jadi bagian berharga dalam kisahku. Tapi teman-teman sayang, boleh ya aku minta tolong lagi?
Tolong, tolong jangan pulang sebelum dijemput, ya?
Bahkan kalau aku bisa berlomba dengan takdir, aku ingin jadi yang selalu jemput kalian kapanpun dan dimanapun kalian memutuskan untuk pulang. Akan aku usahakan pulangnya kalian itu ke aku, bukan ke rumah yang 'dijanjikan' Sang Maha, tapi kembali ke rumah yang pernah kita bangun. I hope I can also save you, someone who saved me. Tapi apa daya, we're only human after all. Jadi sebelum waktunya tiba, boleh ya aku minta jangan buru-buru.
Di tengah badai yang sedang kalian hadapi, aku gak mau jadi yang paling maksa kalian untuk jadi baik-baik aja. Tapi yang paling penting, aku selalu percaya, sekeras apapun usaha dunia untuk bikin kalian lemah, you, yes you, will finally land safely on your ground again. Aku selipkan harap agar kalian bisa selalu mengokoh untuk waktu yang lama. I hope everbody can heal from everything that hurts them to live their lives as much as they want.
Benar, cinta adalah sebuah anugerah yang mungkin gak bisa direngkuh oleh setiap anak-anak manusia, tapi kehilangan satu cinta bukan berarti kamu akan tersungkur tak berdaya.
Sebab dicintai selalu bisa datang dari mana pun kakimu melangkah pergi.
Please take care of yourself as much as you could ya teman-teman sayang. Berbaiklah kepada diri sendiri, maka di sana cinta akan selalu menghampiri. Baik-baik, hiduplah dengan nyaman. Semoga kalian selalu dalam pelukan.
Aku sayang kalian, kalian mau kan ya disayang sama aku?