Mahasurya (S1E02 - Menjadi)
Setelah lika-liku persahabatan yang nggak murni-murni banget (😂😂), suatu hari Kak Khasmir end up dengan pertanyaan, “Nikah yuk?” Karena saat itu status kami masih menjadi sahabat (yang nggak murni-murni banget itu), saya menanggapi dengan ketawa.
Saat itu pikiran saya malah sibuk mundur ke satu tahun sebelumnya, dimana pernah terucap dari lidahnya, “Dua tahun lagi gue mau ngelamar lu, bikin kerajaan sama lu, gausah dijawab karena gue ga nanya, gue cuma mengutarakan. Kita gini aja dulu kayak biasa” sederet kalimat tanpa jeda yang membuat melongo. Yang saat itu tidak saya hiraukan karena hubungan kami terlampau samar untuk sekedar mengiyakan atau mengenggakkan. Karena nggak murni-murni banget😂
Pertanyaan “nikah yuk” itu pun membuat saya menimbang-nimbang. Berbagai pertimbangan pun bermunculan dengan sendirinya. Saat itu, saya memilih untuk kembali tidak menghiraukan. Lebih tepatnya, tidak menunjukkan kegelisahan saya atas pertanyaannya yang semakin lama semakin sering dipertanyakan. Sampai pertimbangan-pertimbangan itu membuat keki dan berkali-kali dijawab tidak. Anehnya, dia terus bertanya dan saya terus berkata tidak.
Alasanku padanya: tidak, karena prinsip hidupnya yang sangat idealis. Tidak, karena pikiran kritisnya yang membuat jauh dari Tuhan—dimana ternyata ini cukup mengganggu, ya. Tidak, karena sepertinya kami tidak akan bahagia kalau bersama. Tidak, karena Khasmir dan Ranie tidak pernah cocok untuk bersama dalam sejarah.
Anehnya, setiap berkata tidak, saya seperti melepas sesuatu yang ingin saya miliki. Kenapa selalu ragu padahal ribuan pertanyaan sudah dilontarkan kepada-Nya?
(Speaking of doa, ternyata bisa ya membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tapi harus berdoa selama 8 tahun🤣)
Suatu hari, Kakak akhirnya bertanya “Mau nggak nikah sama gue? Kalau nggak mau nggak apa-apa, kita jalani hidup masing-masing. Gue harus jalan, lu juga harus jalan. Gue nggak mau maksa.” Yang terjadi kemudian adalah, saya tercekat dan lidah saya terkunci. Ada rasa tidak percaya bahwa hal ini harus serius dijawab sebagaimana serius nyatanya. Tidak ada satu pun kata yang keluar untuk 5 menit setelahnya. Tapi saya menangis sesenggukan. Saya kesal karena jawaban yang mampu saya berikan adalah kata tidak. Tanpa tahu kenapa. Padahal tidak tahu kenapa. Jawaban Kakak saat itu, “Yaudah kalo nggak bisa jangan dipaksa. Let’s face the world dan tutup buku. Kita ga bisa gini terus. Ayo jalan ke depan.” Memang bukan sebuah happy ending ternyata. Kami pun memutuskan untuk “tidak”, dengan perasaan yang sama-sama biru.
Keputusan yang terasa seperti diputus pacar. Yang membuat keesokan harinya menjadi Hari Senin paling berat yang pernah saya jalani karena semua terasa lamban dan konsentrasi saya tidak pada tempatnya. Kepala saya ada di kantor tapi otak dan hati saya bersekongkol untuk tidak menjadi logis. Setiap menit berlalu dengan perasaan menyesal dan menyalahkan diri sendiri atas keputusan yang terlalu apatis. Saya pun memutuskan untuk pulang setengah hari dan pergi entah kemana di Bogor, tanpa arah yang pasti. Untuk pertama kalinya, saya ingin menarik lagi kata tidak yang sudah diputuskan itu.
Hari-hari, bagi saya, kemudian terasa sangattt getir karena merasa telah membuat keputusan yang sangat salah.
Kemudian saya berpikir, “Kalau kamu takut karena dia sedang begitu jauh dari Tuhan, kenapa kamu nggak temani sampai menjadi dekat? Kalau kamu takut karena idealismenya, kenapa kamu nggak jadi stopper-nya? Kalau kamu takut kalian nggak bahagia, kenapa nggak kamu ciptakan bahagia itu sendiri?” Terkadang kita terlalu takut untuk menjadi berani. Terkadang kita terlalu suka menghabiskan waktu untuk apa-apa yang tidak pasti.
Sampai suatu hari, entah malaikat apa berbisik apa, Kak Khasmir kembali melontarkan pertanyaan aneh “Kita nikah nggak ya nanti?” yang dijawab oleh saya, dengan mantap dan khidmat, tanpa pertimbangan yang terlalu banyak dan mengganggu, “Kayaknya nikah, deh.” Setelah itu, kami tercenung beberapa saat. Kami bingung, juga terkesima. Takut, ragu, ingin, semua beraduk seperti bibimbap dengan nasi hangat. Melumer di hati, menjelma menjadi “Mungkin ini ya jawaban Allah. Oke, mantapkan.”
Sebuah pertanyaan pun terlontar dari bibirnya:
K: Jadi kita gimana? Gue maunya nikah. Nyokap bokap lu emang mau kalo lu nikah sama gue? Nggak pacaran dulu?
R: Yaudah jalanin dulu aja
K: Gue maunya nikah ga mau pacaran
R: Kita jalanin, arahnya ke nikah. Kan lu gak tau gue gimana kalo pacaran, kayak lu pernah bilang ke gue kalo gue ga pernah tau gimana lu kalo pacaran
Kami pun mulai menjadi.













