Cerita di Tahun 1990-2018
Mari mulai membicarakan hal terfenomenal 2018: Dilan 1990. Tidak dapat dipungkiri bahwa saya pun terhisap dalam fenomena ini sebagaimana rakyat Indonesia telah menderita hal yang sama.
Tidak pernah terpikirkan sedikitpun akan membahas topik hampir-enam-juta-umat ini di tumblr, tapi malam ini, pukul 01.22 dini hari di tanggal 15 Februari 2018, setelah merampungkan kembali buku “Milea, Suara Dari Dilan”, saya seperti menggebu-gebu.
Mari biarkan saya bercerita mengapa menjadi menggebu-gebu.
Dulu sekali, sekitar tahun 2011, seorang teman membagikan tautan sebuah tulisan di blog melalui BBM dengan note singkat darinya: “Baca deh, lucuk”. Yang kemudian setelah dibaca sangat saya akui bahwa tulisan itu—yang ternyata sebuah cerita—sangat menyenangkan untuk dibaca. Dan membuat berbunga-bunga. Itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan seorang laki-laki bersama Dilan. Kenalannya di angkot, soalnya saya bacanya pasti di angkot, selalu dalam perjalanan pulang kuliah. Lumayan, jadi lebih menjiwai adegan Dilan dan Milea pulang bareng naik angkot. Hehe.
Seinget saya, dulu cerita Dilan ini di-upload sebagian sebagian. Kalau nggak salah dulu dipakai nomer dan kalau nggak salah dulu berhenti di chapter no. 27. Sebenarnya ceritanya sama, hanya secara lebih singkat. Saya ingat sekali, setiap habis baca unggahan terbaru cetitanya, betapa dulu saya sangat menanti kisah Dilan dan Milea yang selanjutnya. Tapi coba tolong dibenarkan ya apabila ada yang salah dalam ingatan saya di atas.
Dulu, rasanya berbunga-bunga. Mesem-mesem. Dan, karena pada dasarnya saya amat sangat melankolis dan sensitif (baca: gampang banget nangis), saya juga sedih bacanya. Karena: 1. Pengen ada cowok kayak Dilan, 2. Nggak ada cowok kayak Dilan dalam dunia nyata saya. Haha. Sedih ya?
Jadi, sewaktu saya tahu kalau buku ini akan diterbitkan (waktu itu diumumkan di blognya kalau ceritanya dihentikan sementar karena proses transformasi menjadi buku), saya senang sekali! Berkali-kali saya kunjungi blog tersebut hanya untuk mencari tahu apakah bukunya sudah terbit atau belum. Meski berkali-kali tidak beruntung, akhirnya bukun itu terbit juga. Masih terasa perasaan senang saat memasuki Gramedia dan mendapati novel bersampul biru itu sudah memajangkan dirinya dengan begitu percaya diri, mungkin juga karena ilustrasi Dilan di sampulnya terlihat begitu. Percaya diri.
Buku ‘Dilan: Dia Adalah Dilanku 1990’ terlahap tidak sampai satu hari. Cepat sekali. Mungkin karena sudah tahu juga, atau mungkin karena memang sangat nyaman untuk dibaca. Perasaan berbunga-bunga itu masih ada, bahkan bertambah banyak. Menulis tulisan kali ini pun membuat berbunga-bunga.
Dan seperti di atas tadi telah disebutkan, betapa melankolisnya saya ini, membaca buku Dilan yang pertama ini membuat saya sedih lagi. Masih dengan alasan yang sama dengan di atas. Kesian ya? Hehe.
Ingat sekali ketika akhirnya buku itu dipinjam teman dan ikut menyebarluas di lingkungannya. Senang bisa kenalin Dilan ke orang-orang. Sedih karena jadi banyak yang tahu Dilan. Memang begitu, orang Minang kan agak pelit wkwk.
Singkat cerita, sampailah pada akhirny buku kedua: ‘Dilan: Dia Adalah Dilanku 1991’ dirilis. Bagaimana bukunya? Hmm. Nggak terlalu suka. Lebih banyak emosi bacanya. Emosi dengan Milea yang posesip (huppp). Emosi dengan Dilan dan Milea yang sama sama nggak mengalah. Jadi, pada intinya sama. Kedua buku itu sama-sama mengerontangkan segala logika saya dan tanpa ampun menculik perasaan Si Melankolis ini.
Lucunya, meskipun nggak terlalu suka karena buku kedua ini kurang romantis, tapi di bagian-bagian akhir sisi melankolis saya terciduk dan saya mengakhiri buku kedua dengan air mata. Wk.
Kali ini alasan menangisnya lebih kompleks: saya merasa sama. Pernah jadi Milea? Akhirnya ketemu dengan Dilan di dunia nyata? Nggak, sih. Nggak pernah. Tapi tahu rasanya menunggu. Kala itu, saya dalam fase yang cukup memporakporandakan perasaan dalam rangka mencintai Kak Khasmir. Jadi, bukan dari sisi hubungan merekalah saya kerasukan, tapi dari bagaimana saya sangat paham atas perasaan Milea yang tidak bisa hilang meski sudah bertahun-tahun lamanya.
Juga takut sekali menjadi seperti Milea: menunggu sampai harus menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Karena saat itu saya sangat ingin Dilan versi Ranie: Kak Khasmir😂
Hampir saja lupa dengan karakter Dilan dan Milea, buku ketiga muncul agak lama dan di pertama kali baca, hanya setengah buku berhasil ditelan. Saya nggak suka. Buku ditutup.
Saya lebih suka membolak-balik lagi cerita-cerita di buku pertama. Mungkin karena pada saat itu, saya membutuhkan cerita-cerita yang menyenangkan.
Kemudian, datanglah berita yang sangat ramai ini:
BUKU DILAN AKAN DIFILMKAN!
Saya cukup antusias menanggapinys walaupun sedikit ditutup-tutupi karena kadung pesimis dengan film cinta bioskip Indonesia. Lama sekali sejak film bagus yang beredar—tapi AADC 2 bagus juga. Lalu kabar selanjutnya beredar lagi: Iqbal CJR akan memerankan Dilan.
Saat itu, saya menampik. Ya, saya termasuk salah satu orang yang ditampar habis-habisan oleh pembuktian Iqbal. Oke, nanti dibahas ya. Jadi, saya tidak terima karena menurut saya Iqbal terlalu imut dan Dilan kan harus agak galak. Saat itu saya berpikir “Kayaknya Adipati lebih cocok” dimana saat itu belum pernah dengar kabar sedikit pun tentang film Teman Tapi Menikah.
Jadi yaaa, ketika filmnya mulai tayang, saya sama sekali nggak bersemangat dan bersikap sangat apatis terhadap film ini.
Tapi ternyata respon masyarakat terhadap film Dilan 1990 luar biasa, ya. Saya menemukan banyak sekali meme yang bertebaran di media sosial, juga review-review para youtubers yang notabene menyukai film Dilan 1990—bahkan sangat suka! Di sini iman saya mulai goyah, tapi toh prinsip boleh dong diprioritaskan?😂 Jadi saya bersikukuh untuk tidak tertarik.
Kalau adik iparku yang perempuan, Khana namanya, nggak tiba-tiba pulang dengan wajah berbunga-bunga lalu bilang “Ya Allah Iqbal ganteng banget jadi Dilan, bagusss” mungkin seumir hidup saya nggak akan pernah nonton film Dilan. Serius, pada akhirnya, review dari adik sendiri lah yang menggoyahkan iman. Dan membuat semua serta merta menjadi. Kakak yang tiba-tiba (akhirnya) mau diajak nonton. Tiket nonton yang tiba-tiba dibeli. Dan perasaan berbunga-bunga saat menontonnya yang sampai terbawa pulang bahkan sampai sekarang!!!
Saya sampai nangis saat menontonnya saking terharunya karena cerita yang dari dulu penuh perjuangan untuk bacanya ini akhirnya difilmkan dengan sangat manis. Film ini dibuat apa adanya sebagaimana bukunya ada: sederhana tapi berharga. Dan menjadi cukup fenomenal juga dalam rumah tangga kami karena akhirnya saya menjadi kedilan-dilanan dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan😂
Lalu, setelah menonton filmnya, saya baca lagi buku pertama yang membuat saya semakin berbunga-bunga lagi. Lalu saya baca lagi juga buku kedua yang diakhiri dengan tangis yang semakin kejer lagi. Saat itu alasannya sudah bukan karena baper lagi (susah memang untuk baper kalau sudah memenangkan orangnya, wk) tapi karena kasihan sama Dilan😂😂 #mamakmudapembeladilan
Lalu malam ini saya mencoba untuk merampungkan novel ketiga—dengan membunuh rasa malas yang tahu-tahu ada sebelum saya sempat memulainya. 1/4 halaman pertama berhasil dilalui dengan napas terengah-engah karena nggak seruuu😭 Mungkin kangen buku pertama yang sedari awal memang cuma fokus di permasalahan Dilan dan Milea. Tapi karena penasaran, dan ingin tahu perasaan Dilan, saya memaksakan diri.
Nggak sampai sehari buku ini dibaca, 3/4 dari buku ketiga ternyata sedih ya... saya nangis sesenggukan lagi😂😂😭😭 Asli sesenggukan, jam 1 dini hari, sampai suami yang sudah tidur pun bangun karena kaget. Kali ini saya menangis atas beberapa hal:
1. Kasian Milea, kok tega sih Pidi Baiq,
2. Kasian Dilan, kok tega sih Pidi Baiq,
Dulu, saya begitu takut akan kehilangan Dilan sebagaimana Milea kehilangannya. Dulu, saya begitu takut akan menyia-nyiakan Dilan sebagaimana Milea menyia-nyiakannya. Saya terlalu takut dengan ending-ending yang tidak sesuai harapan—dimana saat itu keadaan sangat memungkinkan hal yang sama untuk terjadi terhadap kami.
Membaca buku Milea membuat saya menjadi tahu perasaan Dilan saat itu. Membaca buku Milea membuat saya harus bernostalgia lagi dengan perasaan itu. Membuat saya ingat bagaimana rasanya berharap bertahun-tahun lamanya. Membaca buku Milea membuat saya harus mengingat-ingat lagi perasaan sedih yang tidak pernah mau lagi untuk dirasakan.
Jadi, mari kututup review ini dengan mata yang mulai mengantuk—mungkin karena bengkak, hasil menangis membaca Milea. Semoga tidak ada lagi yang bernasib sepahit Dilan dan Milea.