selembar cerita dari kota pahlawan
selembar cerita ini dimulai dari aksi nyata dari suatu rencana yang seringkali gagal dengan suatu pertimbangan yang matang, :D. yah, kita memang kadang sok tahu lupa bahwa sebaik apapun rencana sebesar apapun ikhtiar tanpa doa kita terlihat begitu sombong dan tak tahu diri, seakan lupa kita ciptaan dari sang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.
mulai kamis malam, dikota malang yang sedang teduh teduhnya diselimuti hawa dingin dan genangan air hujan yang bahkan sulit memastikan besok apakah hari akan cerah untuk berjemur rendaman selimut hari itu. aku dan kedua temanku sepakat untuk tidur sekamar saja, jaga jaga dengan suasana musim hujan kali ini bisa bablas tidur sampai pagi dan ketinggalan kereta seperti yang sudah-sudah, alhamdulillah kabar baiknya aku tidak tidur, dan mba ii uring-uringan karna sudah jadwalnya tamu bulanan. kabar luar biasa lainnya aku sempat-sempatkan menjemur selimut dan kami berangkat ke stasiun kota malang ditemani sinar matahari yang malu-malu, iya hangat dan tetap sejuk. malang kota bunga.
menuju kota pahlawan kami tempuh dengan menggunakan kereta api kelas ekonomi dengan durasi 3 jam dari stasiun malang kota baru ke stasiun gubeg. dari semua stasiun, kami memilih stasiun gubeg karena dekat dengan destinasi tujuan pertama kami ke galaxy mall lebih tepatnya untuk sedikit konsultasi mengenai rencana mba din keluar negeri dalam waktu dekat ini. happy...aku dari kota kecil dibuat terkagum-kagum dengan design galaxy mall yang menurutku kota pahlawan ini sangat cocok untuk destinasi wisata mall mewah. ada beberapa gambar aku ambil, untuk mengabadikan momen kami bersama di galaxy-nya “orang kaya” hihi. misi pertama done. dengan menggunakan grab kami selanjutnya melanjutkan ke tujuan selanjutnya, mba ii rumah sakit kanker yang paling direkomendasikan disurabaya, RS Onkologi.
kali pertama dalam hidupku bisa langsung mengunjungi rumah sakit yang memang dikhususkan untuk menangani kanker. alasan kami kesini karena sepupu mba ii menginap kanker darah dan akan dilakukan kemo dan pemberian opsi. setidaknya dari sedikit yang bisa aku tau dari obrolan singkat kami dikereta. setibanya kami disana kami disambut dengan hangat oleh tante mba ii dan anaknya, sangat sehat bahkan aku ragu kalau dia ternyata sudah menjalani 27 kali kemoterapi, badannya tegap, matanya bersinar, rambutnya hitam lebat dan hitam. sangat sehat. bahkan awalnya aku kira ibunya jika memang dibandingkan dengan tampilan fisik saja.
setelah melakukan registrasi kami pindah ke lantai dua, mba ii dan keluarganya kembai melakukan registrasi untuk daftar tunggu dengan dokter yang sebelumnya memberikan opsi perawatan lanjutan. selepas itu kami duduk berjejer, mba din-aku-mba ii-keluarganya, sesekali aku bersandar pada pundak mba din sambil memandang sekeliling sekiranya menurutku mereka entah keluarga dan ada pula pasien di sekeliling tidak menampakan wajah gusar dan bahkan aku merasa kucel sendiri karena yah, hampir 18 jam lebih belum tidur. untuk mengusir ngantuk sesekali mba ii menggelitik dan kami kemudian saling gelitik sampai kami ditegur oleh tante mba ii dan tatapan seorang wanita berumur tapi stylenya sangat modis menatapku dengan tatapan tidak biasa. salting dengan spontan aku menyapa “Maaf, bu mau duduk”. wanita itu tersenyum dan duduk lima kursi dari jarak bangku kami.
setelah hampir 30 menit menunggu akhirnya, sepupu mba ii dipanggil hampir semua masuk menemani kecuali aku karena mataku sudak berkunang-kunang tak tahan kantuk. kira-kira lima menit memejamkan mata, seorang wanita separuh baya duduk tepat disampingku yang sebelumnya ditempati mba din. rambutnya jarang sudah beruban semua duduknya tak tegap dan masih menggunkana baju pasien. dengan senyum, aku coba terlihat baik baik saja menahan ngantuk tak karuan. beliau bertanya sudah antrian berapa, “ini antrian ke tiga bu, barusan masuk ibu kalau saya boleh tau nomer berapa?”. jawab beliau dengan nada lirih “Enam, lama nggak ya nak?”. jawabku cepat dengan menggeleng dan tidak tau, ku perhatikan sesekali beliau sangat-sangat terlihat tidak nyaman dengan duduknya aku tawarkan agar berpindah bangku yang aku duduki lebih nyaman dengan spons, namun beliau menolak dengan halus lebih nyaman duduk dengan kursi keras biar belakangnya bisa lebih tegap. “saya kena kanker payudara nak, sebelah kiri...” jawab beliau lirih.
kantukku perlahan-lahan hilang dengan pernyataan beliau, beliau menunjuk dada bagian kiri yang terlihat lebih bidang dari sebelahnya. “setlah enam kali kemo untuk kanker payudara, perut bagian kanan saya sering sakit ketika diperiksa ternyata sudah menyebar ke sini...(menunjuk perut bagian kanan) tapi yang dioprasi itu tulang belakang saya.. nggak masuk akal ya nak ya..”. beliau memperbolehkanku untuk memegang jika mau. beliau adalah seorang bidan, berdasarkan pengakuan beliau tidak ada gejala yang berarti sampai suatu ketika dada beliau sering keram dan sakit ketika diperiksa berkali-kali dengan beberapa dokter yang berbeda diketahui beliau mengindap kanker payudara stadium 2 barulah dikemoterapi hingga pengangkatan payudara.
tak lama berselang, wanita yang membuatku salah tingka tadi duduk berjarak satu kursi disampingku dan ikut bercerita. ternyata wanita modis itu berusia 65 tahun dan datang kerumah sakit onkologi untuk chek up rutin atas kanker payudara yang diderita beliau beberapa tahun kemarin dan sudah dinyatakan sembuh, perjuangan beliau tidaklah mudah berawal dari pengangkatan payudara kiri, kemoterapi rutin dan jelang dua tahun payudara kanan beliau juga diangkat. setelah kemoterapi yang tak terhitung banyaknya beliau dinyatakan sembuh dan tetap harus kontrol. tidak tanggung-tanggung beliau menunjukan bekas oprasi dan ada seperti benjolan entah apa sebutannya dalam tubuh beliau ditanam semacam almunium yang fungsinya untuk mempermudah dalam chekup dan pengobatan pencegahan sel kanker tersebut untuk tumbuh lagi.
“percaya bu, saya sehat ibu juga pasti bisa tak masalah kalau diangkat fungsinya sudah memang segitu masanya semua kan ada eksplayernya” canda beliau kepadaku dan pasien disampingku. dua pasien diantaraku ini saling membagi cerita mengenai terapi dan kemo yang mereka jalani, alhamdulillah Allah swt memang maha baik sebelumnya aku sedikit mengelu dengan perjalanan ini tapi setelah berada diantara kedua orang luar biasa ini membuka pikiranku, sudah 23 tahun dikasih nikmat sama Allah tubuh sehat ini sudah aku gunakan untuk apa? apakah aku masih dikasih kesempatankah untuk menggunakan badan sehat ini untuk hal-hal berguna? dan berbagai pertanyaan muncul dalam benakku. jujur, berada disituasi saat itu dan dikelilingi dengan orang-orang kuat disekelilingku membuat perasaanku campur aduk, ibah, marah, takut, senang bercampur tak karuan kemudian lamunanku buyar saat tangan dingin itu mengelus bahuku dan berkata. “Apalagi kamu mba, masih muda pulihnya jauh lebih cepat”. dengan senyum wanita 65 tahun itu menatap mataku dalam-dalam. GUBRAAAAK! hampir tersungkur kedepan.
menggeleng dengan cepat aku menjawab, “terima kasih banyak bu, maaf alhamdulillah saya kesini hanya menemani keluarga teman berobat”. beliau terkekeh, dari awal beliau bertutur saat bertama kali melihatku terasa ibah dan senang aku masih bisa tertawa dan diantar keluarga untuk berobat mau ngajak kenalan penasaran gadis muda sepertiku menginap kanker apa. terungkap sudah mengapa dari awal rasanya risih ada yang memerhatikan, jelang beberapa menit kemudia mba ii dan rombongan keluar dan kami pamit turun ke lantai satu untuk administrasi dan obat-obatan.
hujan ternyata ikut jalan-jalan menemani hari kami bukan hanya dikota bunga sekarang hujan juga dikota pahlawan, setelah menyelesaikan administrasi mba ii dan mba din membantu tante mba ii dan anaknya untuk mengurus beberapa prosedur dan lagi-lagi aku memilih tinggal saja selain ngantuk perasaanku tak karukaruan setelah dikira pasien kanker tadi. hehe. sebaiknya memang mengoles sedikit pelembab untuk memberikan warna. diubin kamar mandi, ada bayangan seseorang dengan kepang rambut sebelah saja, kanan tampak lemas turun. setelah memoles lipsik sesekali aku melirik kenapa orang dalam kamar mandi itu tidak keluar.
“maaf, apa masih lama?” sahutku dan sekali mengetok. lima detik sesudahnya seorang gadis kecil dengan seragam coklat rok krem keluar. “maaf mba..rok saya susah ditarik” dengan wajahnya yang menggemasakan ku coba menawarkan diri membantu gadis kecil itu tampak bersahabat, setelah memperbaiki rok aku coba menawarkan untuk mengepang rambutnya dan memulai pembicaraan. “yang sakit mama, mba kena kanker sumsum tulang belakang aku sama abang kesini nemenim papa disingapor”/ “kamu nggak bosan nunggu lama ya?” jawabku dia menggeleng cepat. “aku bawa crayon, kata papa nggak boleh bosan soalnya mama sudah mau dipanggil tuhan”. jawabnya dengan tanpa beban, kemudian menatap kaca dan ternyum lebar. “makasih mba, didalam tisunya abis soalnya tadi aku nggak sengaja jatoin”. matanya melebar dan sedikit cemas. aku menggeleng tanda bahwa tidak masalah, masih ada tisu ditas jawabku dia kembali tersenyum dan keluar.
alasanku untuk tidak ikut mengurus administrasi memang sudah jalan Allah swt untuk mempertemukanku dengan tiga cerita baru dalam hampir belum sehari dikota pahlawan ini. setelah selesai aku kembali ke ruang tunggu dekat kantin. tak jauh disana satu meja berisi wanita dengan dress berwarna merah dengan style tionghoa, anak laki-laki dengan seragam sma dan gadis kecil tadi yang sedang asik mengoreskan crayon merah digenggamanya. simpulanku itu ibu dan abangnya. wanita itu tampak sehat dari depan dan sangat jelas menggunakan rambut palsu berwarna coklat gelap. ah, lagi perasaan itu muncul, haru-ibah-senang-takut.
jika setiap kejadian dimuka bumi ini tidaknya terjadi tanpa alasan, maka apa yang coba yang maha kuasa hendak ingin sampaikan kepadaku? kiranya perjalanan ini beberapa kali tertunda tanpa sebab yang pasti pertama karna niat, kedua karna jadwal ujian, ketiga, keempat, kesekian barulah terjadi kesempatan serta kemudahan perjalananku dan teman-teman sampai dikota pahlawan ini tanpa hambatan sedikitpun, konspirasi apa yang hendak semesta ingin sampaikan kepada kami, mungkin aku?
kota pahlawan masih diguyur hujan saat itu 10 Januari, tepat pukul 15.55 wib, kami meninggalkan rumah sakit onkologi. banyak cerita disini dan aku sangat berharap tidak akan kembali kesana dan ke rumah sakit apapun dengan sakit apapun, dan kalaupun memang harus kesana aku sangat berharap itu tidak diperkenankan semesta. tak mengapa jika berkunjung dan menemani :) tapi tidak sebagai pasien disana. tak ada kabar dari tokoh tokoh diatas terkecuali mba din dan mba ii, hari ini aku melepas mereka kembali dikampung halaman mereka sudah tuntas pendidikan mereka di kota bunga. aku harap kalian sukses dan sehat selalu.
Malang, 16 Januari 2020












