Desember
kemarin tanggal 13 Desember, tepat 3 bulan saya ada di tanah sulawesi. disini sama dengan di banyak tempat lain di Indonesia, hujan sedang banyak-banyaknya. cuaca menjadi lebih sejuk, bila tengah hari langit sudah mendung, atau setelah dzuhur mulai turun gerimis. rasanya seperti di rumah.
beberapa hari yang lalu ada cerita,
pada tahun 2000 pertengahan, sekitar 2003 sampai 2007, sinyal selular disini masih sulit ditemukan, hanya ada di beberapa titik, entah itu dipojok pintu, dekat jendela, atau di lantai 2, belum ada jaringan lain selain t*lkomsel, (padahal sampai sekarang masih t*lkomsel yang lebih stabil dibanding yang lain), jangankan jaringan internet.
Setiap hari, listrik diberi jatah, listrik hanya akan hidup pada jam-jam tertentu, orang-orang terbiasa jika listrik mati. Televisi pun hanya dimiliki beberapa orang, kalau mau menonton televisi, Tv punya si empu nya ini akan dibawa ke teras, dan para tetangga akan berbondong-bondong ke rumah tersebut, menonton bersama di teras rumah, mirip nonton layar tancap, sangat kekeluargaan. Siaran televisi nya pun masih TVRI.
Sampai sekarang, menonton acara televisi disini masih harus bayar, kalau TV nya mau punya acara lain selain TVRI, harus bayar 20.000. menyambung parabola, dan voila… kita punya siaran Indosiar untuk menonton D’Academy, SCTV dan RCTI untuk menonton sinetron. Itulah mengapa saya tidak keberatan untuk tidak punya TV disini, dan tidak keberatan juga dengan tidak menonton TV.
Mendengar cerita diatas, saya membayangkan ibu saya sedang bercerita. Diceritakan karena saya tidak pernah mengalami hal tersebut. Sewaktu saya bercerita pada ibu saya mengenai hal tersebut, ibu saya mengatakan, bahwa hal tersebut ibu saya alami di pertengahan tahun 80an, mungkin sekitar 1985an..
kamu kembali ke 30 tahun yang lalu na, bahkan umur mu saja belum sampai 30
Untuk urusan media sosial, whats app mulai ramai digunakan sejak 1 tahun terakhir, sebelumnya bila ada berita penting, mereka akan menggunakan pesan berantai. Media sosial lain yang digunakan disini adalah facebook, here.. everybody is going on facebook. Sesuatu yang sebenarnya sudah saya tinggalkan sekitar 6 tahun yang lalu, dan akun nya sempat akan saya hapus. Sekarang kehidupan masyarakat muda disini tidak jauh dari facebook, orang akan meng upload foto liburan mereka di facebook, menyiarkan secara live acara makan-makan, pesta pernikahan, atau acara lari pagi sekalipun lewat facebook, curhat di facebook, siaran banjir juga di facebook, bahkan masalah sosial seperti perlakuan yang tidak mengenakan dari petugas publik pun akan ramai di facebook.
Untuk urusan transaksi keuangan, cieee. ATM yang tersedia hanya ATM Bank Sulselbar. Sekitar 100 meter dari tempat saya tinggal ada Bank BRI, dengan 1 teller, 1 costumer service, tanpa nomor tunggu, tidak ada sistem online, dan Tanpa ATM. Mirip Bank BRI di kampung saya pada tahun 90an. syukurnya, sewaktu di Bandung saya Sudah mengaktifkan internet Banking
Tiga bulan disini, saya mulai terbiasa. Terbiasa malam hari dengan suhu udara 34 derajat, (suhu bandung malam hari sekitar 19-22 derajat), terbiasa untuk mengisi power bank, terbiasa mengisi penuh bak mandi sebelum listrik mati, terbiasa mengangkat air dari sumur kalau listrik mati dalam waktu yang lama, mulai terbiasa dengan aksen Mandar, terbiasa dengan angin laut dan debur ombaknya, dan sunset yang bisa saya saksikan tiap sore kalau mau.
Ada waktu 3 bulan lagi sebelum kontrak saya disini habis, semoga banyak hal baik bisa saya ambil :))
Pagi hari di Malunda - 141217














