Awal januari ini ada agenda yang sudah lama saya tunggu, yaitu pulang.
Saya menjadwalkan sekitar satu minggu untuk kembali ke pulau jawa dan mencoba kembali ke kehidupan saya sebelum bertugas, menyetir ditengah kemacetan dan sebagainya. Sampai pada suatu titik di tengah kepulangan ini saya menyadari, sepertinya saya harus kembali pada niat awal saya mengabdi sejauh ini.
Ada banyak hal yang nampaknya mulai meredup, seperti ketulusan, kesabaran, kebahagiaan. Hal-hal tersebut memudar seiring dengan keruhnya niat, entah karena saya yang memang rindu pulang, entah karena beberapa masalah yang muncul, entah karena apa. Keindahan mengabdi nampaknya semakin layu dengan rasa syukur yang semakin berkurang…
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu minggu di kampung halaman terlewat sudah, saya akan terbang sore hari itu….
(ini ceritanya agak panjang :p)
Sebetulnya masalah perjalanan tidak perlu menjadi hal yang luar biasa, Bandung-Bandara, selesai. Yang saya pikirkan begitu, tapi nyatanya tidak begitu.
Saya pergi dari rumah diantar oleh kakak ipar saya yang baru :) akhirnya saya bisa lebih mengenal kakak ipar saya ini. Naik kereta di stasiun Bandung, dan turun dari kereta di stasiun Gambir di Jakarta. Mengapa naik kereta ? karena Bandung-Jakarta memiliki banyak spot macet yang sulit diperkirakan.
Saya membawa koper yang cukup berat, dan ternyata turun dari stasiun ke jalan raya ini tidak ada lift atau pun escalator. Baru beberapa anak tangga saya sudah kerepotan, lalu ada seorang laki-laki yang menawarkan saya bantuan, saya ragu dan khawatir akan merepotkan, tapi dia tanpa ragu mengambil koper saya dan mengatakan,
‘ayo mbak, ga apa-apa, saya bantu’
Saya bersyukur sekali atas bantuan itu.
Sampai di depan stasiun, saya mencari taksi agar bisa sampai ke stasiun Sudirman Baru, agar bisa sampai di stasiun bandara secepatnya. Setelah di taksi, saya agak heran, kenapa supir taksi nya malah membawa saya ke jalanan protokol yang super macet, dan jauh dari tempat tujuan. Setelah ditanya, ternyata beliau tidak tahu tempat tujuan saya, si stasiun tersebut, jadilah kita terjebak di kemacetan kota yang tidak bisa diprediksi.
Akhirnyaa, karena saya ingin marah tapi tahu ga boleh marah, saya istighfar banyak-banyak, tidak masalah supir taksi nya tahu saya kesal, yang penting saya tidak marah dan tidak ada perkataan saya yang menyakiti perasaan Bapak supirnya.
Dengan bantuan aplikasi, akhrnya saya sampai di stasiun dan memilih kereta paling cepat agar segera sampai di Bandara.
Di perjalanan di kereta menuju bandara, saya menelfon customer service dan diberi tahu bahwa kemungkinan saya sudah tidak mungkin check-in pesawat. Nangis iya, tapi usahakan tetap tenang, dan tetap berpikir jernih. Saya tiba di stasiun Bandara, dan masih harus menunggu skytrain agar bisa sampai ke terminal keberangkatan.
Seorang Bapak di depan saya juga nampak terburu-buru, ternyata penerbangan nya hanya beda 15 menit dari saya. Beliau melapor ke security dan disarankan naik shuttle yang sudah disediakan skytrain untuk kondisi darurat seperti ini. Tidak lama, kami pun dibantu oleh pihak skytrain dan diantar ke terminal keberangkatan.
Drama banget memang, lihat saya yang setengah berlari, saya segera dibantu oleh petugas security check di pintu masuk agar bias segera ke counter check in. dan saat hendak check in………
Sesuai perkiraan, saya sudah tidak bisa ikut penerbangan ini karena sudah boarding. Mau nangis pun rasanya saya sudah kehabisan tenaga. Saya disarankan ke counter informasi dan setelah pertimbangan sekitar setengah jam, akhirnya saya memutuskan untuk terbang esok harinya, karena kalau saya ikut penerbangan selanjutnya, dan tiba tengah malam di makassar, bis malam yang akan membawa saya ke Malunda sudah tidak ada.
Saya memang tidak bisa terbang saat itu, tapi betapa banyak nya orang yang telah membantu saya di hari itu, yang mempermudah satu hal ke hal lain nya.
And I feel so blessed, sedih iya, kesel iya, tapi tidak boleh lama-lama, harus move on dengan segera. Bila kehilangan sesuatu atau harus mengorbankan sesuatu, ibu saya selalu bilang, biar itu menjadi penolak bala, mungkin itu belum cukup baik, bahwa kita hanya makhluk lemah yang tidak tahu apa-apa.
Kepulangan kali ini memang memberikan saya banyak pelajaran, mulai dari mobil yang kehabisan aki, lalu ada orang lewat yang membantu, macet dari dago yang benar-benar menguji kesabaran saya dan dia, tiba-tiba wawancara di Hermina, penerbangan yang tertunda, hingga penerbangan dengan cuaca buruk yang membuat saya ingin sujud syukur segera setelah landing.
Saya ditularkan banyak hal baik, dan kejadian penuh hikmah selama kepulangan ini, semoga kembali kesini pun, saya bisa membawa dan menularkan hal-hal baik selama bertugas.
p.s. pelajaran yang teramat penting buat siapa pun, jangan pernah abaikan opsi online check in.
Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar, 18-01-18