Ramadhan Tragis Di Negeri Minor
By Esthi Utami Saat ini kita sedang tengah menjalani ibadah puasa Ramadhan 1438 H. Puasa kali ini, kaum muslimin di tanah air tengah dihadapkan berbagai ujian, dimulai dari kriminalisasi para ulama ulama kita yang notabene vokal ketika adanya kasus penistaan Al Quran di tahun lalu. Selain para ulama kita, ormas-ormas yang juga vokal dalam mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendzalimi rakyatnya juga tengah di kriminalisasikan. Islam di negeri ini tengah dihadapkan dengan kebhinekaan yang didengung-dengungkan oleh pemerintah dan media. Di tengah ujian-ujian yang menempa kaum muslimin di Indonesia, patutlah juga kiranya kita mengetahui apa yang terjadi kepada ummat ini di berbagai belahan dunia yang lain. Penduduk Somalia menganggap puasa Ramadhan bukanlah sebagai sesuatu hal yang istimewa. Kemarau panjang sejak empat tahun terakhir berdampak pada krisis pangan. Menurut Jaringan Sistem Peringatan Dini Kelaparan (FEWSNET) dan Unit Analisis Gizi dan Keamanan Pangan (FSNAU), yang dikelola Organisasi Pertanian dan Pangan PBB (FAO), jumlah warga Somalia yang memerlukan bantuan telah naik menjadi lima juta sejak September 2016 hingga awal tahun ini. Dampak terbesarnya adalah malnutrisi bagi anak-anak. Laporan UNICEF pada awal Mei lalu bahkan menyebutkan bahwa 1,4 juta anak di Somalia diperkirakan menderita gizi buruk akut tahun ini. Selain krisis pangan, muslim Somalia masih harus menghadapi teror dari Al Shabaab—artinya “Kaum Muda”—sebuah kelompok jihadis Salafi yang berafiliasi dengan organisasi Islamis militan al-Qaeda, yang menguasai sejumlah kawasan perdesaan Afrika Timur. Kelompok ini terlibat dalam perang sipil Somalia, pemberontakan al-Qaeda di Yaman, perang sipil di Yaman, dan terorisme global. (tirto.id 07/06/2017) Dari rfa.org 08/06/2017, tidak berbeda dengan tahun lalu, pemerintahan China melarang warga muslim untuk berpuasa di bulan Ramadhan, terutama pada daerah Uyghur, Xinjiang. Pemerintahan Xinjiang bahkan memperketat penjagaan di tiap rumah rumah muslim Uygur untuk mencegah mereka dari berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan ini. Selain itu pula, pemerintah Xinjiang memerintahkan kepada restauran restauran untuk tetap buka di siang hari, dan mempersulit akses ke masjid masjid, demikian pula yang terjadi di Hetian China. Masyarakat muslim di Hetian dan Uygur dipaksa untuk menandatangani surat yang menjamin mereka untuk tidak berpuasa dan beribadah selama bulan Ramadhan, dengan menandatangi surat ini, mereka juga berjanji untuk mencegah semua anggota keluarganya dari berpuasa dan beribadah selama Ramadhan. Dari Timur Tengah, UN telah menerima laporan bahwa 231 masyarakat sipil di Mosul, Irak tewas terbunuh oleh ISIS ketika mereka berusaha melarikan diri dari Mosul sejak 2 minggu yang lalu. Kurang lebih 204 masyarakat sipil diantaranya dipercaya telah ditembak mati oleh ISIS. Badan HAM UN menyampaikan bahwa mereka telah mendokumentasikan bahwa IS telah menggunakan masyarakat sipil sebagai tameng hidup dan membunuh siapa saja yang berusaha melarikan diri, semenjak terjadinya operasi merebut Mosul yang dilakukan oleh pro pemerintah yang dibantu Amerika Serikat dari ISIS Oktober tahun lalu, dan grafik korban yang meningkat drastis. UN mengatakan kurang lebih 2.174 masyarakat sipil yang terbunuh dan 1.516 terluka di Ninaveh semenjak operasi perebutan Mosul dimulai. (Bbc 08/06/2017) Menengok apa yang terjadi di Palestina, Israel mulai dengan rencana mereka untuk memperluas pemukiman mereka terutama semenjak Presiden Trump terpilih. Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman mengatakan kepada wartawan dan menteri pada awal sebuah pertemuan kabinet bahwa, sejauh tahun ini, rencana telah diajukan untuk 8.345 rumah di Tepi Barat yang diduduki. Sekitar 600.000 pemukim Israel sekarang tinggal di Tepi Barat dan Yerusalem timur, di samping sekitar 2,9 juta warga Palestina. Pemukiman dipandang ilegal di bawah hukum internasional dan permasalahan utama menuju perdamaian karena dibangun di atas tanah yang dilihat Palestina. Demikian hanyalah beberapa potret kecil, kondisi umat Islam di berbagai wilayah, tercerai berai di dzalimi dimanapun mereka berada. Permasalahan-permasalahan yang tengah mendera kaum muslim saat ini sebetulnya terjadi karena institusi terbaik mereka tidak ada lagi. Pelindung serta penjaga kehormatan mereka sudah tidak ada lagi. Semenjak diruntuhkan pada 3 Maret 1924, Khilafah tiada dan tanpa tahu kapan akan bangkit lagi. Selama Khilafah tidak ada, maka selama itu pula, persoalan kaum muslim tidak akan kunjung selesai. Padahal, dulu sebelum khilafah diruntuhkan, mereka menjadi umat yang terbaik (Khairu Ummah) dari umat-umat yang lain. Selama tiga belas abad, kaum Muslim menikmati kemakmuran yang tak tertandingi melalui penerapan aturan-aturan Islam. Baca selengkapnya : http://muslimah-voice.com/ramadhan-tragis-di-negeri-minor/












