Satu per Empat dari Seratus
22 Maret 2018
Bersama denganmu aku terus belajar untuk menjaga harapan, saling memahami dan bertahan dari segala rintangan yang dihadapi
Apa yang sedang terjadi dengan dirimu? Kejenuhankah ? Aku rasa kamu butuh suasana baru sejenak saja, merehatkan otakmu dari segala aktivitas dan perihal yang mengambil alih sebagian besar pemikiran. Setidaknya, setelah rehat akan memunculkan motivasi dan suasana baru yang mendukungmu dalam mengerjakan segala sesuatu.
Janganlah dirimu merasa aneh dengan sikapku akhir-akhir ini, aku hanya ingin mencairkan suasana, menyamakan sedikit frekuensi yang sering tidak sejalan. Ingin mencubit? Silahkan, tapi hanya virtual dalam lamunan mu, karena saat ini kita masih memenangkan jarak. Oh ya perihal beberapa hal, ketika fluktuasi hormonal mendukungku untuk memiliki ketidakseimbangan suasana hati, semoga hatimu dan pikiranmu tidak lelah dalam memahami yang terjadi. Selama semua hal itu masih dalam batas kewajaran, diri kita pasti bisa mengaturnya dengan baik.
Menjadi bagian dari ceritamu tidak pernah ada dalam benakku sebelumnya, hingga pada akhirnya kita dipertemukan dalam sebuah wadah komunikasi yang sama. Pernah merasakan bagaimana derasnya rindu yang membuncah hanya dari dua pertemuan? tidak akan pernah masuk dalam bayanganku sebelumnya. Hingga akhirnya memutuskan untuk menjalani sebuah komitmen dengan satu tujuan didepan, akan menjadi soal ujian yang akan kita hadapi.
Selayaknya makhluk Tuhan pada umumnya, rasa yang timbul tidak dapat dipersalahkan, itu adalah anugerah. Tapi, kita dapat mengaturnya, saat ini jagalah, karena sesuatu yang berlebih tidaklah baik, akan ada efek samping setelahnya. Sedikit demi sedikit kian bertambah, wajar, menambah semangat untuk memupuk harapan tetapi berbanding lurus dengan ketakutan kehilangan. Aku masih ingat kata darimu, setiap pertemuan yang terjadi harus selalu mempersiapkan kehilangan setelahnya.
Aku dan kamu tahu, di dunia ini tak ada yang abadi. Tetapi aku memiliki harap, semoga kita tidak ditakdirkan hanya untuk di dunia, tetapi juga bersama di akhiratNya, dalam tempat terbaik tentunya, semoga dikabulkan. Rencana Tuhan selalu yang terbaik bukan. Kita saat ini hanya dapat terus berusaha, memaksimalkan banyak langkah yang disetujui olehNya, memperkuat keyakinan karena kelak kamu yang akan menjadi nahkodanya.
Akhir kata yang ingin kusampaikan dalam surat malam ini. Aku setuju, perihal janji harus ditepati. Aku tidak memerlukan banyak janji yang terucap manis, hanya ingin realistis yang diwujudkan dalam tindakan yang pasti, dengan penuh keyakinan. Karena kita pernah merasakan asam dan pahitnya janji yang terabaikan.
Salam untuk lelaki yang pernah diajak mengembara saat masa kecilnya














