Surat ke-46 di penghujung Desember
Halo mas, apa kau masih menanti kata-kata yang akan membalas surat darimu?
Ku harap, kau masih menantikan itu, hingga akhirnya nanti kita memprasastikan tulisan antara kita.
Waktu berlalu, tetapi aku dan kamu kuharap semakin menyatu. Pagi ini, kala jalanan Ibu kota begitu menyenangkan, udara yang sejuk, langit yang teduh, tanpa kemacetan dan pengendara tertib dengan aturan yang berlaku. Banyak momen yang telah terlewati bersama denganmu.
Mungkin, satu tahun lalu saat kita masih berada di kota yang berbeda, tak pernah terpikir olehku langkah yang kita ambil saat ini ternyata sudah begitu jauh. Bahkan, pagi ini aku berbincang dengan sosok wanita yang paling kau sayangi, rindu rasanya. Beruntunglah kita, saat ini sangat terbantu bisa melakukan panggilan elektronik yang membuat jarak menjadi tidak begitu berarti.
Nanti, bantu aku menciptakan banyak kenangan bersamanya.Oh ya, esok, kala ada waktu, mari kita berkunjung kembali ke pusara mamahku, tak lupa untuk meminta restunya. Semoga nanti kamu diijinkan berbincang dengannya di antara lelapnya tidurmu.
Oh ya, terima kasih, atas traktiran nasi bebek madura, yang membuatmu sedikit kepedasan, tetapi menyenangkan, karena... membuka memori pada pertemuan pertama di Planet Namec. Dalam surat ini tak banyak yang kutuliskan, karena aku bingung mau memulai dari mana, lama sekali kita tak saling bertukar surat karena laman biru sempat tak bisa dibuka dengan mudah.
Mengenal dirimu mungkin tak pernah terlintas dalam pikiranku
Menambah lingkar pertemanan, itulah suatu tujuan
Bagiku, untuk keluar dari zona nyaman
Bertemu, kemudian menjadi dekat
Hingga akhirnya saling mengikat
Siapa yang tahu..Aku... dan Kamu... dipertemukan oleh semesta
Untuk tujuan yang masih kerap kita terka
Karena ini adalah rencana-Nya
Mari jalani sebaik-baiknya
Kepada angin yang berembus begitu kuatnya, sampaikanlah kabar rindu dariku yang sedang menunggu untuk dipimpin olehnya