Menemukan (kembali) buku ini membawa ingatan saya kepada circa tahun 2015, dimana rambut gondrong menjadi sebuah simbol pemberontakkan saya terhadap model rambut saya yang pendek lagi begitu begitu saja sejak dari SMP. Sebagai mahasiswa yang merasa rambut gondrong adalah simbol perlawanan atas diri sendiri, saya dibuat terkejut oleh isi artikel yang saya baca di media daring. Isi artikel tersebut menjelaskan secara singkat bagaimana praktik kekuasaan orde baru terhadap anak muda awal 1970-an, bagaimana rambut gondrong menjadi musuh besar sang penguasa selain komunisme. Selanjutnya artikel tersebut memberi rujukan kepada saya untuk membaca buku Dilarang Gondrong! Karya Aria Wiratma Yudhistira. Disini saya tertarik dan merasa harus mengetahui sejarah rambut gondrong di Indonesia ini, bagaimana ternyata urusan rambut, pemerintah kita pernah mengatur. Bagaimana ternyata anak muda seumuran saya pada 1970-an tidak bebas mengekspresikan dirinya, bahkan melalui rambut! Masih circa tahun 2015 dengan keinginan penuh memiliki buku tersebut, saya bersama kawan @sungulembu berangkat ke toko buku @kineruku dengan pengharapan buku yang dicari ada. Alhamdulillah, buku yang dicari ada. Astagfirullah, tapi tinggal satu eksemplar. Tak ayal dengan keinginan penuh yang sama, terjadilah adegan dramatis lagi sengit antara saya dan kawan Yusuf: Rebutan buku dengan suit menjadi penentu. Pada saat itu saya kalah, dan sang kawan membayar buku dengan perasaan menang. Saya iri, walaupun ditawari untuk boleh meminjam ia punya buku. Tapi ada perasaan lain bagi saya pribadi ketika membaca buku bukan kepunyaan sendiri. Rasa ingin memiliki agaknya boleh menjadi kewajaran dalam konteks ini. Dan akhirnya saya dipertemukan lagi dengan buku ini, dengan rasa memiliki yang penuh diantara tumpukan buku di lapakan buku bekas. "Lebih baik rebutan urusan buku, ketimbang rebutan urusan asmara." Kemudian jargon tersebut hadir untuk penenang hati sementara. ° ° #ariawiratmayudhistira #dilaranggondrong #ordebaru #marjinkiri (at Bandung)












