sementara jakarta dikerumuni marah-bahaya
kapal seberangi tuju sumatera
merak-bakauheuni, 23 mei 2019
almost home
dirt enthusiast

Discoholic 🪩
RMH
AnasAbdin
hello vonnie
Claire Keane

Product Placement
Sade Olutola

Kaledo Art
One Nice Bug Per Day
will byers stan first human second
$LAYYYTER

Love Begins
ojovivo

Andulka

No title available

No title available

PR's Tumblrdome
noise dept.

seen from Indonesia

seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from Greece
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Pakistan
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
@silautemaram
sementara jakarta dikerumuni marah-bahaya
kapal seberangi tuju sumatera
merak-bakauheuni, 23 mei 2019
So, if you could be that kind of person would you be happy then? – Michael Lipsey
Tanda tanya
Bagaimana cara jauh dari media sosial seperti Instagram? Bagaimana cara jauh dari rasa ingin menjadi orang lain? Bagaimana cara menjadi diri sendiri, mengendalikan emosi diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri?
01.39
Pertanyaan yang akan selalu memburu pertanyaan. jika kehendak banyak masih mendominasi laku hidup, jawabnya adalah pernyataan yang akan selalu mengendap di titik nadir...
Sudah lama saya berada di satu masa di mana keinginan untuk membawakan ulang lagu musisi idola, berbanding tidak lurus dengan kemampuan saya dalam bernyanyi maupun memainkan alat musik. Saya adalah saya yang buta nada, yang kalau mau gonjreng gitar lagu musisi idola, harus buka chordfrenzydotcom dulu buat liat kunci gitarnya. Dan sial bagi saya jika lagu yang dimaksud tak tersedia di sana. Yaudah, senderin gitar lagi saja kalau sudah begitu. Atau, mainkan tungneng tungneng "Semua Tentang Kita" nan legendaris itu.
Lagipula, untuk membawakan kembali karya yang sudah mapan, akan sangat beresiko bagi saya yang kompentensi musikalitasnya berada sangat jauh di dalam kotak resonansi, (gema-gemanya saja saya ini.)
Maka dari itu, sebagai yang hidup harus bersiasat, saya akhirnya berani-berani saja mencipta lagu sendiri, yang bisa bebas saya eksekusi dan interpretasi bentuk akhirnya seperti apa. Saya yang pegang kendali, atur batas, bablas aturan, atas apa yang saya ciptakan. Tagar #kumahaaing pun akhirnya bisa saya implementasikan lewat cara ini. Menyenangkan! Dan ini kini serupa candu. Meski instrumen dan pola yang saya gunakan adalah sama semua, toh yang penting saya bahagia. Hehehe.
Di masa di mana kebahagiaan adalah sesuatu yang langka, sedang kesedihan dieksploitasi habis-habisan dan dirayakan, saya mengapresiasi usaha saya yang memercik bahagia ini.
Sila kalau berkenan mendengarkan. SoundCloud: soundcloud.com/marahdian, atau kunjungi tautan yang ada di bio.
Tabik!
21 Maret 2018: Kata Pak Sapardi, Puisi Itu Bunyi
laku tirakat membawa luka
aku anagram daripada kau
sadari rasa yang dasari
selasa itu kisah selesai
Lelaki Itu Memilih Golput
Soal:
Pada suatu hari di tahun 2014, seorang lelaki yang baru menginjak usia 17 tahun diketahui berada dalam fase dilematis. Selain karena pada saat itu adalah pemilu pertama yang ia ikuti, juga karena ia hanya dihadapkan pada dua pilihan pasangan calon presiden dan wakil presiden, yang sejauh wawasannya, tidak begitu memuaskannya.
Tapi pada akhirnya ia memutuskan memilih jua, karena narasi "mencegah yang terburuk agar tak berkuasa" para bani anti-golput begitu mengganggu kehidupan awal 17 tahunnya.
Syahdan, pasangan pilihan lelaki itu menang dan menjabat sebagai presiden dan wakil presiden.
-
Mendekati akhir masa jabatan sang presiden terpilih, kejahatan dan kekacuan yang terjadi kadung menjadi keburukan sang presiden. Tak ubahnya keburukan pasangan calon yang pada saat itu tidak ia pilih karena dianggap sebagai "yang terburuk".
Setelah rumah dan sawah milik keluarganya dirampas paksa negara pertengahan tahun lalu, ia didiagnosa mengidap post-traumatic stress disorder. Lebih-lebih karena apa yang menjadi pilihan dan keyakinannya pada masa kemarin, hari ini seumpama kesalahan dan omong kosong saja.
-
April 2019 nanti, lelaki itu kembali dihadapkan pada kondisi dilematis yang serupa. Pilihan hanya dua. Dengan kandidat yang serupa buruk namun tak sama.
Sementara trauma yang mendera sebab pemimpin dan kejadian-kejadian masa lalu masih menguasainya, narasi yang dibangun bani anti-golput masih sama dan semakin membuat ia tertekan dan menderita.
-
Pertanyaan:
Bodoh, just stupid, psycho-freak atau benalu yang bodoh kah lelaki itu jika memutuskan untuk mengambil langkah politis dengan golput?
Bandung, 13 Maret 2019
*gambar dari instagram Saut Situmorang
"tidak! Tuhan pun tidak mau mendengarkan doa orang yang tidak bahagia..." lirihnya isak dirasuki Electra
__
cumbu lagi jemari ini,
tiupkan hangat desahan itu pada kepekaan perabaan
lalu titipkan sebuah kutukan
bukankah sekali dulu yang terucap di ujung basah hanya kebahagiaan?
yang mana sesaat seumpama suatu persinggahan?
kutuklah,
kutuk 'tuk keabadian!
dari padanya ada syukur musabab bahagia
dan jiwa yang berdosa ini bisa senantiasa lagi berdoa:
"ya, Tuhan, jika Murakami berhenti merokok sebab tak ingin kerepotan kalau-kalau tengah malam ia kehabisan,
maka aku pun juga: ingin tak mengenal cinta saja jika kehilangannya hanya akan menjadikan semua berantakan bin merepotkan...
dunia berantakan tanpa cinta kasih!
sesederhana itu, ya!
amiin...."
bandung, 23 februari
Sarapan Pagi Penuh Dustak
tv menyajikan semangkuk omong kosong lengkap dengan taburan benci
hujan sibuk menubruk secangkir kopi hangat-hangat mimpi
alarm sialan berketukan konstan telat bangun:
"dustak-dustak-dustak-dusdustak-dustak-dustak..."*
adunya kepada waktu yang tak peduli pada apapun
kenyang!
*"dalam tidur aku tertawan kenangan pukul tiga pagi lagi...."
Kepada Pengarang Maroeli Simbolon
Oh, Pak Maroeli
Benarkah cinta itu memberi
bukan sebaliknya?
-
Oh, Pak Maroeli
Benarkah yang lebih iblis dari iblis¹ adalah dia yang mencampakkan setelah merasa memiliki segala apa yang dipersembahkan:
Yang mempercayai cinta sebatas nonsens belaka?
-
Oh, Pak Maroeli
Benarkah judul buku kau ini² pemberian Pak Sutardji?
Sebab aku juga kepingin meminta saran satu pilihan di antara bincacak, bajingan atau sialan, untuk judul (puisi) makianku nanti
-
Oh, Pak Maroeli
Semoga para iblis lekas menyadari:
adalah cinta yang menjaga hidup ini
Bandung, 6 Januari 2018
¹Terinspirasi dari cerita mini Maroeli Simbolon berjudul Segalanya Untukmu
²Judul kumpulan cerita mini Maroeli Simbolon 'Sepasang Luka Lama' (Jalasutra) yang dalam Avant-Propos dijelaskan adalah pemberian penyair Sutardji Calzoum Bachri
adakah epigraf yang layak(?)
epigraf semacam apa yang mungkin untuk: burung-burung yang kicaunya laksana ibadah baginya?
epigraf semacam apa yang mungkin untuk: bunga-bunga yang semerbaknya laksana ibadah baginya?
epigraf semacam apa yang mungkin untuk: manusia-manusia yang menghakimi sesama laksana ibadah baginya?
bdg/22 des 2018
Kalimat Satu
binar adalah mata kanak-kanak yang polos pengetahuan atas kalimat satu yang kau pendam di sela desahan
-
bertanya seumpama kesalahan;
dihakimi sorot yang menelanjangi seorang pesakitan
yang merana di tiang gantungan
ada tanya yang tak melulu berujung jawab
(mu)
ruang adalah sebentuk tempat berlangsung sesuatu
sedang jarak adalah sebentuk kontrol objektivitas
begitu narasi terbangun;
adakah keberpihakan tidak semestinya dalam cinta?
ah, kata itu lagi
HAHA;
sudahkah ada arti pasti?
sedang di altar itu terpampang: TUHAN ADALAH CINTA
Bandung/6Desember2018
Hujan Pada Waktu Ini
nafasku terikat nafasmu,
saling
mengikat pada jarak yang selembar bulu mata
hujan pada waktu itu seumpama nada yang menggairahkan asmaragama... namun kita alpa
ketelanjangan adalah kelahiran dan keberpulangan kita,
ujarmu menahan desah
dan puting susu adalah perlambang kehidupan,
tambahmu menyodorkan hangat puncak kehidupan
...
merintik lagi hujan
yang pada waktu ini seumpama kesalahan
Bandung/4Desember2018
Rasa Adalah
Rasa adalah cerita
Rasa adalah cerita tanpa tanda baca
Rasa adalah cerita tanpa tanda baca yang membingungkan pembaca
Rasa adalah cerita tanpa tanda baca yang membingungkan pembaca yang hidup penuh tanda tanya
Rasa adalah cerita tanpa tanda baca yang membingungkan pembaca yang hidup penuh tanda tanya dalam pencarian makna
Rasa adalah cerita tanpa tanda baca yang membingungkan pembaca yang hidup penuh tanda tanya dalam pencarian makna di dunia yang gila
Bandung/4Desember2018
melangkah ke seberang
pada bulan yang setengah
aku di geladak menengadah
angin yang gusar permainkan rambut
yang dengungkan bait kabar dari laut:
di tubuhku ada luka sekarang,
bertambah lebar juga, mengeluar darah,
di tempat dulu kau cium napsu dan garang;
lagi aku pun sangat lemah serta menyerah.
kalutku mengigil
ditemani chairil
merak-bakauheni, 10 juni 2018
Sebuah Fragmen Tentang Seorang Perempuan Yang Mati Untuk Kedua Kalinya
Cuaca bulan Februari kali itu, terlalu kejam untuk seorang perempuan yang sedemikian rupa, telah dipatahkan hatinya. Perempuan itu, pernah berniat bunuh diri di malam yang lebih panjang, dan dingin yang menyelinap lebih pedih daripada biasanya. Namun lantas ia urung. "Mengapa aku harus mati, untuk suatu hal yang sejatinya sudah lebih dahulu mati?" Ucapnya retoris seraya batal menyemprotkan racun nyamuk ke dalam mulutnya.
-
Malam ini, dingin dua kali lipat lebih pedih daripada yang sekali kemarin, sementara petir sambar-menyambar tiada henti. "Blues agaknya cocok untuk menggantikan gagasan bunuh diri kemarin dulu." Ujarnya seraya menyesap coklat panas lantas meraih salah satu piringan hitam B.B. King.
-
Belum lagi needle pada turntable yang ia beli satu tahun lalu di pasar barang bekas, sempat menyentuh piringan hitam, petir menyelinap dari jendela kamar yang setengah terbuka, menyambar perempuan itu hingga terjerembab kujur. "Ternyata ada yang lebih tiba-tiba tak terduga ketimbang cinta, ialah maut. Ia datang tanpa aba-aba untuk bebenah." Gumamnya sesaat sebelum maut erat mendekap.
-
Turntable lamat-lamat mengalunkan 'The Thrill Is Gone'.
Sekali.
Dua kali.
Berulang kali.
Mengiringi kematian tokoh perempuan kita, untuk yang kedua, dan terakhir kalinya.
*Rampung*
Fragmen
"Aruna, tahan dulu pertanyaan-pertanyaan retorismu itu,
pikiranku sekarang sedang sibuk mencari alasan dan pembenaran apa sekiranya yang tepat, untuk kopi dengan gelas plastik seharga duaribulimaratus rupiah yang senantiasa beraroma kamu sekalipun telah dingin ini."
"Rasa kehilangan yang teramat memang begitu, kadang mencipta sebuah imaji semu sebagai pelipur." Ujar seorang kawan yang sepertinya membaca narasi kegalauan dalam benakku. Aku tidak menyadari kedatanganya dan bagaimana ia telah menyesap tandas kopiku. Yang kusadari, barusan ia menyodorkan sebatang kretek lengkap dengan geretan, dan aku kembali meneruskan narasi dan berdamai dengan imaji.
Fyuuhhh
"Bukan, bukan rasa kehilangan yang teramat kurasa yang menjadi sebab. Aku ingat, sekali waktu pada pertemuan singkat yang berakhir di bawah pendar temaram peron, aku dan dia sengaja merapatkan dekapan untuk beberapa saat, agar bisa menghirup sebanyak mungkin aroma masing-masing. Untuk tabungan rindu katanya. Ya, aku ingat, paru-paruku terasa penuh dengan aromanya saat itu. Ini murni intervensi memorabilia berarti." Dengan lancar aku mengatakan itu, tujuan kalimat itu tentu saja seorang kawanku tadi. Tapi sama ajaibnya, ia lenyap dan meninggalkan jejak satu batang kretek lagi lengkap dengan geretan.
Kretek kusulut. Fyuuhhhhh. Asap mengaburkan pandangan sesaat.
Sekarang, apakah aromaku juga menyeruak dari dalam cangkir coklat yang senantiasa hangat dalam genggamannya itu? Entah, aku seorang yang tidak pintar menerka. Narasi kuteruskan, dan tampaknya belum akan bertemu titik.
Selalu begitu. Seolah tak mau pergi. Mau sampai kapan kau terus bersemayam disini?
Bukankah pergi hanya sebuah alasan agar bisa kembali menjenguk apa yang pernah ditinggalkan? Bersemayam-diam dalam kamu, aku melupakan tanggal dan waktu. Nyaman.
Bukan sekadar pergi untuk kembali. Tapi, Aku ingin pergi dan tak untuk kembali.
Jika itu inginmu, aku tak mengapa, Sayang. Biar nanti ku titip rindu pada sejuk embun pagi jika agonia mendera setiap langkah kakimu menjauh.
Aku hanya tak ingin terus menanti, jika itu tak pasti.
Kau bukannya tak ingin, hanya sedikit tak sabaran. Selalu begitu. Memang tidak ada yang pasti, kepastian hanya milik kematian dan ketidakpastian itu sendiri. Selagi hidup, kita bernafas bersama berbagai macam abu-abu ketidakpastian.
Mungkin kau benar. Aku hanya sedikit tak sabaran. Tak sabar menunggumu menghampiriku secara pasti setelah bilangan tahun kian bertambah, dan aku pun dihadapkan oleh pilihan lain yang telah menghampiriku secara pasti
Selain tak sabaran, kau juga tidak sadaran. Rumah dimana aku setiap hari pulang adalah kau. Bagaimana kau tidak menyadari hadirnya aku setiap hari di ruang hatimu? Hanya, aku seorang yang mencinta dalam diam. Jika diam bagimu adalah ketidakpastian yang memuakkan, aku insaf. Tidak setiap orang mengerti dan mampu mencinta dalam diam, Sayang.
Bagaimana aku mau mengerti jika kau hanya diam. Aku bukanlah Dia yang mengetahui segala isi hati dan pikiran. Aku hanyalah manusia biasa. Yang memiliki banyak keterbatasan
Aku insaf, kau benar. Tapi, segala hal tidak melulu harus terang bukan? Sikap dan lakuku agaknya telah menjelaskan lebih jelas dan lebih terang dari kalimat apapun yang mampu aku sitir. Jika segala sesuatu mesti dijelaskan dengan sitiran kalimat, tidakkah nanti perasaan kita akan tumpul dan manja? Tidak lagi dapat meraba-merasa?
Ya, mungkin kau benar, tingkahlakumu yang membuatku ingin bertahan. Namun egois menyelimutiku untuk meminta penguatan darimu
Penguatan seperti apa agaknya yang egomu butuhkan? Terus teranglah. Kamu mengerti, aku seorang yang tak pintar beretorika, apalagi untuk merepresentasikan rasa ke dalam kata bak seorang pujangga.
Aku tak ingin menggadaikan cinta ini kepada kalimat mesra. Aku tak ingin cintaku ini menjadi semacam metafora jika diobral lewat kata. Ia utuh untukmu, tanpa perantara.