Jodoh (-)
Beberapa hari yang lalu, saya mendatangi sebuah acara pengajian. Ya, pengajian rutin bulanan. Namun, kemarin berbeda dari biasanya. Saat pihak acara mengumumkan pembagian ruangan berdasarkan tingkat pendidikan, aku mulai berfikir akan ada sesuatu diacara ini, kali ini. Dan benar saja.
Pembicara mulai membuka obrolan. Iya memilih dua orang, laki-laki satu dan perempuan satu dari audience yang hadir malam itu. Ia melontarkan pertanyaan yang simple.
“Apa kamu ingin hidup?”
Kedua audience itu menjawab dengan cepat dan tegas.
“Ya, saya ingin hidup.”-- jawaban yang sama seperti yang aku lirihkan.
Kemudian speaker tersenyum seraya berkata. “Untuk pertanyaan saya yang kedua ini saya yakin kalian akan cukup berpikir.” Ia menjeda sebelum akhirnya kembali melontarkan pertanyaan.
“Sejak kapan kalian ingin hidup?”
Keheningan pun mulai dirasakan. Masing-masing kami mulai berfikir hingga akhirnya pertanyaan itu dijawab sendiri oleh speaker.
“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan hidup. Tidak ada. Lalu siapa yang menginginkan hidup? Dia. Dia Alloh yang menginginkan kita hidup. Karena Dia yang menginginkanmu hidup, Dia juga yang mengatur hidupmu. Segala hal yang kamu jalani di dunia. Perihal jodoh misalnya. Mungkin iya sekarang masing-masing diantara kalian sudah menyimpan nama seseorang di dalam hati kalian atau bahkan membuat daftar nama untuk kemudian mencoba melamar mereka satu-satu. Sebagai cadangan kalau-kalau ditolak sama yang pertama. Pft*
Tapi kemudian apa? Nyatanya perihal jodoh, Alloh lah yang menentukan. Ibarat paket hemat di KFC, begitulah Alloh menyatukan kita dengan seseorang yang telah dituliskan dalam takdir hidup beserta rizky-rizky yang kita peroleh bersama dirinya. Sesimple itu. Jadi, tidak perlu lah kita menyenangi seseorang berlebihan-yang entah akan menjadi teman hidup atau tidak.”
Dari situ aku mulai berfikir. Benar juga. Selama ini kita terlalu dibuaikan dengan hawa nafsu. Dengan prasangka-prasangka yang bermodus rasa cinta, akhirnya malah membuat diri sendiri terpuruk dan akhirnya merusak akal, pikiran serta hati. Aku pernah membaca sebuah kutipan:
“Mencintai orang yang akan kita nikahi adalah hal biasa, namun mencintai orang yang kita nikahi itulah yang luar biasa.”
Kutipan itu menjelaskan bahwa sudah menjadi hal yang wajar apabila seseorang mencintai seseorang dan akhirnya memutuskan untuk menikahinya, karena mereka sudah mempunyai bekal rasa cinta sendiri. Lain halnya dengan mencintai orang yang telah dinikahi. Ibarat samudera, kita baru menemukannya dan baru berusaha untuk menyelaminya. Menikahi bukan karena nafsu belaka, melainkan untuk menghidup-hidupkan sunnah Rosul dan menjaga agama. Mencintai karena Alloh.
So here, Guys the conclusion is don’t like to indulgence love. Bilang kalau suka sama Mbak ini, ama Mas itu ke semua orang. Biar apa sih? Toh, kalau ga jadi dengan Mas-nya atau Mbak-nya yang malu kan diri sendiri. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha. Tentu saja kita tidak bisa pasrah, leha-leha sampai jodoh datang sendiri ke rumah, tidak. It takes a lot of effort. Gimana usahanya? Berdo’a, tentu saja. Introspeksi diri, mawas diri. Ingat, jodoh adalah cerminan diri sendiri. Dan terakhir, carilah seseorang dengan mendahulukan sisi agama sebagai kriteria jodoh kita. Minta restu pada keluarga utama (ayah, ibu, saudara kandung) juga sanak family terdekat. Semoga diakhirnya perjuangan kita menemukan hasil yang manis. Amiin ^^













