Disforia.
Kamu melakukannya lagi, ya?
Duduk di sini, tapi pikiranmu ada di tempat lain. Membangun skenario di dalam kepalamu. Kamu mulai berbicara. Bukan dengan suara, tapi dengan diam yang lebih lantang dari kata.
Kamu tahu persis apa yang akan ia katakan sebagai jawaban. Bersama sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyum yang kamu hafal.
Kamu memutar adegan itu. Lagi dan lagi. Memperbaiki dialogmu di bagian yang terasa canggung, menambahkan jeda agar terasa lebih nyata.
Kamu merasakan dadamu menghangat, sebuah perasaan nyaman yang palsu. Kamu tersenyum pada dinding kamarmu, pada langit-langit, pada kehampaan. Untuk beberapa menit yang berharga, semuanya terasa benar.
Lalu, sesuatu menyeretmu kembali. Entah suara jam dinding yang berdetak terlalu kencang, dinginnya lantai di telapak kakimu, atau mungkin hanya beratnya kebohongan yang kamu ciptakan.
Ruangan di kepalamu memudar. Sosoknya menjadi transparan, lalu lenyap. Kau mencoba membangkitkannya kembali, namun gagal. Kehangatan di dadamu hilang, digantikan oleh rasa hampa yang dingin dan akrab. Senyummu luntur.
Ruang yang tadi terasa ramai kini berbalik sesak. Bukan karena penuh, justru terlalu kosong. Mengundang sesuatu yang hangat mengalir turun dari sudut matamu. Kamu tidak perlu menyentuhnya untuk tahu apa itu.
Itu adalah harga yang harus kamu bayar untuk perjalanan singkat tadi.
Roni. | 8 Agustus 2025










