Semesta Kita Adalah Dunia Matriks
Semua entitas di dalam semesta ini saling berhubungan dan memberi pengaruh satu sama lain.
Belum lama ini, dalam sebuah konferensi teknologi di california, Elon Musk menyatakan bahwa peluang kita, manusia, berada dalam sebuah dunia matrix, dunia yang saling terhubung satu sama lain adalah 99,999999999%.
“Kita berada dalam sebuah sistem AI maha besar yang selalu berkembang maju. Jika tidak, tentulah sudah lama manusia dan makhluk yang lainnya musnah disebabkan berbagai hal. Entah itu peperangan, wabah penyakit, atau penyebab lainnya.” Pendapat Elon Musk dikutip di salah satu artikel yang dimuat di situs independent.co.uk.
Apa yang dikatakan Elon Musk sepertinya merujuk pada perkembangan riset Artificial Intelligence. Dalam Artificial Intelligence sejumlah dataset disediakan untuk diolah dan diproses oleh mesin. Dari sinilah mesin belajar mengambil keputusan. Ini meniru pada apa yang dilakukan oleh otak manusia yang mencoba belajar dari pengalaman yang telah lalu.
Jika seseorang seperti Elon Musk berkata demikian, tentulah hal ini tak bisa diabaikan begitu saja. Pasti ada berbagai kondisi dan argumen yang menjadi latar belakangnya. Dalam hal ini Elon Musk sebenarnya tidaklah sendirian. Kalau kita telusuri dunia sains kebelakang, ada beberapa ilmuwan yang pendapatnya, menurut hemat penulis, meskipun tidak sama persis, memiliki kecenderungan yang sama. Dalam artikel ini, penulis mencoba menelusuri jejak-jejak ini ke tahun-tahun sebelumnya.
Butterfly Effect
Kita mulai awal dekade 1960-an. Tepatnya pada tahun 1961, Edward Lorenz, seorang peneliti cuaca, menjalankan sebuah model komputasi numerik untuk memprediksi cuaca. Alih-alih menggunakan angka inisial 0,506127, Lorenz hanya memasukkan nilai yang telah dibulatkan yakni 0,506. Hasil akhirnya di luar dugaan berbeda dengan skenario awal yang menggunakan nilai inisial dengan ketelitian 6 desimal, 0,506127.
Edward lorenz kemudian mempresentasikan hasil kajiannya ini dalam sebuah paper yang kemudian ia beri judul Does the flap of a butterfly’s wings in Brazil set off a tornado in Texas?. Mungkinkah sebuah variabel kecil yang dianalogikan dalam kepak sayap kupu-kupu di hutan Amazon memicu sebuah tornado di Texas?. Teori ini kemudian lebih dikenal dengan nama butterfly effect.
Grand Unifying Theory of Everything
Pada dekade 1990-an, melalui buku yang ia kerjakan sejak tahun 1992 hingga 2002, A new Kind of Science, Stephen Wolfram menyimpulkan bahwa bentuk semesta secara alamiah adalah digital, dan ia berjalan di atas sebuah hukum dasar yang bisa dijelaskan dengan sebuah program sederhana. Pendapat Wolfram ini didasari pada teori fractal. Sebuah teori yang menggambarkan bagaimana bentuk-bentuk yang kompleks tersusun dari banyak bentuk geometri sederhana seperti segitiga misalnya. Mungkin bisa dikatakan salah satu obsesi Stephen Wolfram adalah merumuskan sebuah teori yang disebut Grand Unifying Theory of Everythings.
Selain Stephen Wolfram, kita juga mengenal Stephen Hawking. Dalam salah satu buku karyanya, The Grand Design, Stephen Hawking ingin mengatakan kepada kita semua bahwa Tuhan tak ikut campur dalam proses penciptaan alam semesta. Sekilas, ini seperti memberi penafsiran tentang ketidakberadaan Tuhan. Akan tetapi, ini juga tidak serta merta menihilkan keberadaan Tuhan itu sendiri. Dalam Grand Design, Stephen Hawking, menurut penafsiran penulis, hanya ingin menyingkirkan entitas bernama Tuhan ini keluar dari pembahasan sains.
Kalau kita menengok kembali pada karya sebelumnya, Theory of Everything, Stephen Hawking sepertinya berasumsi bahwa ada satu teori yang bisa digunakan untuk menjelaskan semuanya. Ini sejalan dengan apa yang ingin disampaikan Stephen Wolfram dalam Grand Unifying Theory of Everything.
Semesta dalam sudut pandang spiritualis
Kisah tentang kesatuan semesta tidak hanya menjadi otoritas kaum sains semata. Dunia mencatat pada abad pertengahan, salah satu sufi terkemuka islam, Shams Tabriz, Guru spiritual sang penyair Maulana Jalaludin Rumi,dalam salah satu kaidah cintanya menyatakan bahwa, “Semesta adalah satu kesatuan. Setiap makhluk saling terhubung dalam jalinan kehidupan tak kasat mata yang membentuk sebuah kisah.”
Pada salah satu dari 40 kaidah cinta ini, Shams Tabriz ingin menyampaikan bahwa apapun perilaku kita pada semesta, ia akan memberi pengaruh baik secara langsung maupun tidak kepada diri kita dan semua entitas yang ada di semesta.
Jika Shams Tabriz mewakili kategori spiritualis timur tengah, maka pendapat Osho bisa digunakan sebagai wakil dari spiritualis yang lahir dari budaya hinduisme India.
“I am not an individual destiny — destiny belongs to the universe, I belong to the universe” — Osho













