Ketika Muslim Bekerja Sama
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Qs. Asy-Syura : 13)
Allah SWT tidak hanya memberikan petunjuk pada tingkat individu, Dia juga menawarkan petunjuk bagi kita pada tingkat masyarakat. Sehingga, peran kita baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, sebetulnya sudah ada panduannya di dalam Alquran.
Ketika kebutuhan dasar telah terpenuhi, kita pun mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat, apapun itu bentuknya. Kita merasa perlu untuk mulai memperjuangkan sesuatu di luar kepentingan kita pribadi. Tidak hanya kepada sesama muslim, tapi juga untuk seluruh manusia. Tujuan utamanya adalah kita ingin agar Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin dapat tersebar luas dan dirasakan kebermanfaatannya oleh seluruh manusia di seluruh penjuru dunia.
Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya manusia yang paling patut dijadikan teladan. Setiap perkataannya adalah Alquran, Amalan-amalan wajib dan sunnahnya menjadi rujukan kita dalam beribadah. Beliaulah orang yang paling banyak memberikan kebermanfaatan. Tapi uniknya, Allah justru memintanya untuk berkata "Aku tidak kuasa memberi manfaat kepadamu, dan aku tidak kuasa untuk mencelakaimu." Dari kondisi ini, kita belajar bahwa Allah ingin menyampaikan pada kita, bahwa segala hal yang kita lakukan dan perjuangkan kepada orang lain, dalam rangka menegakkan Dien Islam, maka sesungguhnya buah dari kebaikan tersebut akan berbalik untuk kita sendiri. Dan apabila ada manfaat yang bisa diambil dari sikap kita tersebut, maka yakinilah bahwasannya semua itu atas kehendak dan kuasa dari Allah SWT. Sikap semacam inilah yang perlu ditumbuhkan pada diri kita.
Hari ini, sebagian masyarakat menganggap bahwa agama adalah persoalan pribadi. Semua orang berhak memilih dan memutuskan kepercayaan mana yang akan mereka anut. Lantas bagaimana Islam memandang pemahaman semacam ini? hal pertama yang perlu kita pahami adalah, bahwa Islam tidak hanya menyangkut diri kita sendiri. Islam bukanlah agama individu. Islam mengajarkan kita untuk menyebarkan keyakinan ini kepada seluruh umat manusia. Tidak hanya shalih untuk diri sendiri, tapi juga menshalihkan orang lain. Keimanan dan nasihat-nasihat baik ini, tidak hanya berhenti pada diri kita, tapi bagaimana itu semua bisa terus bergulir kepada seluruh manusia.
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Qs. Al-Asr : 03)
Hari ini, kita juga dihadapkan pada fakta bahwa Islam memiliki keberagaman cara pandang intelektual. Kepada siapa kita belajar, dimana kita belajar, maka akan terjadi ijtima dan konsep berpikir yang berbeda. Selama masih dalam satu payung besar Islam, Ahlussunnah wal jama'ah, sehingga sikap terbaik kita dalam memandang hal ini adalah menghargainya, mendukung dan menolongnya dengan sepenuh hati, kenapa? karena bukankan sekelas para sahabat Rasulpun juga memiliki perbedaan pendapat? tapi mereka tetap saling menyayangi dan menghargai satu sama lain.
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Qs. Al-Maidah : 02)
"Ta'aawanaa" biasanya diartikan sebagai kerja sama. Jadi ayatnya berarti Bekerjasamalah dalam kebaikan dan takwa. Namun dalam bahasa Arab kata "Ta'aawun" berasal dari "'Awun" yang artinya bantuan dalam konteks yang serius, bukan sekedar bantuan kecil. Dan ini adalah akar kata yang sama dalam Fatihah saat kita mengatakan, "Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin." Kata selanjutnya adalah "Al-biir" ini adalah kata paling komprehensif dalam bahasa arab, yang artinya kebaikan. Kebaikan yang seperti apa?, yaitu segala jenis kebaikan (tidak ada yang spesifik). Dan di akhir frasa, ada kata Taqwa, dimana memiliki arti perlindungan diri.
Kaitannya dengan ayat diatas, bahwa sebetulnya kebaikan-kebaikan yang kita kontribusikan untuk agama ini, yang dikerjakan secara berkelompok atau bersama-sama, perlu dilandasi dengan tujuan agar memperoleh ketaqwaan. Bagaimana caranya? yaitu dengan saling mengingatkan untuk terus dekat kepada Allah dan tidak meninggalkan ibadah-ibadah wajib dan sunnah, kendati kita sedang disibukkan dengan kerja-kerja dakwah. Teruslah bersemangat untuk bekerjasama dalam kebaikan (ta'awanaa), bukan bekerjasama dalam keburukan (al-itsmi). Mengapa? karena setiap kelompok berpotensi untuk mendapatkan pahala atau malah terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan ketika mereka sedang berkumpul bersama-sama.
Lalu pertanyaan paling mendasar adalah, "Apa motivasi kita dalam berdakwah, bekerjasama untuk menegakkan agama ini?"
Rasulullah SAW dalam berdakwah memiliki tiga jenis objek dakwah yaitu para penyembah berhala, umat kristiani, dan umat yahudi (yang kemudian Alquran sebut sebagai ahli kitab). Sehingga dari sini, kita dapat memperkecil kategorinya menjadi 2 jenis objek dakwah, yaitu mereka yang tidak berilmu (para penyembah berhala, sebagian besar dari mereka tidak bisa membaca dan menulis, mereka tidak punya pengalaman dengan kitab, mereka sebelumnya tidak punya nabi, dan tidak paham urusan akhirat, semuanya baru bagi mereka), dan yang berilmu (Umat kristiani dan yahudi, yang memiliki pemahaman dan pengetahuan akan agama dan akhirat), namun faktanya, pengetahuan bukan membuat mereka mendekat kepada kebenaran, justru dengan pengetahuanlah mereka jadi sombong dan berpaling dari kebenaran. Inilah juga alasannya mengapa "seolah-olah" kitab injil dan taurat menjadi sulit dipelajari bagi setiap orang. Kita perlu mendatangi "sekelompok orang tertentu (Pendeta, rahib, dsb)" untuk betul-betul memahami isi kandungan kedua kitab tersebut. Berbeda dengan Alquran, Islam menjadi agama yang mudah dipelajari bagi seluruh lapisan masyarakat. Islam selayaknya sebuah ilmu pengetahuan yang open source, sehingga dapat diakses dengan mudah oleh siapapun.
Jika kembali kepada Qs.Asy-Syuara ayat 13-15, ada beberapa hal yang cukup menarik untuk kita simak. Allah berfirman di ayat ke-15 "Fa lidzaalika fad'u" yang artinya "Dengan alasan itu, maka serulah mereka", Allah meminta Rasulullah untuk tetap menyerukan Islam kepada setiap jenis objek dakwah tersebut, baik yang berilmu maupun yang tidak berilmu. Allah memberikan motivasi yang sangat menarik untuk Rasulullah, bukan kalimat penyemangat biasa, melainkan kalimat-kalimat peringatan yang membuat Rasulullah justru semakin bertenanga, "Serulah mereka (Yahudi & Nasrani), Inilah kelompok tersulit yang pernah dihadapi semua orang, dan kamu Muhammad akan menghadapi mereka secara langsung." Lalu Allah melanjutkan firmanNya dgn kalimat, "Was taqim kamaa umirta" dan tetaplah kamu berdiri tegak sebagaimana kamu telah diperintahkan. "Walaa tattabi' ahwaa ahum" dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Maksudnya adalah jangan patah semangat, karena satu-satunya keinginan mereka adalah melihatmu patah semangat."Lanaa a'maalunaa walakum a'maalukum" bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu, tidak ada pertengkaran diantara kami dan kamu. Definisi dari kalimat ini bukan mengartikan kita untuk berdiam diri melihat kedzoliman, tapi meminta kita untuk tidak pernah menyerah terhadap kedzoliman yg mereka perbuat. Silahkan mereka berbuat sesuka hati mereka, dan kita tetap mengerjakan apa yang menjadi tujuan dakwah kita."Allahu yajma'u bainanaa" semoga Allah menyatukan kita semua.
"Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)." (Qs. Asy-Syura : 15)
Ketika kita ingin melakukan kerja-kerja dakwah secara berkelompok, maka pastikanlah bahwa hal itu bersifat komplementer (saling melengkapi), bukan malah menciptakan kerja-kerja dakwah yang baru yang menjurus kepada kompetitor (saling bersaing). Idealnya, kitalah yang menjadi supporter utama untuk dakwah-dakwah saudara kita lainnya. Sehingga keutuhan Islam ini pada akhirnya bisa terealisasi.
Nantinya akan tercipta sebuah konsep pemikiran bahwa apapun masalah yang hadir di tengah-tengah masyarakat, bukan menjadi alasan bagi kita untuk mengeluh, seperti pepatah Arab yg mengatakan "Syammiru an sawa'idil jidd" singsingkan lengan baju dan mulailah bekerja. Masalah yang kita hadapi saat ini, seharusnya menjadikan kita pribadi yang lebih serius. Jika kita siap bekerja, maka perubahan akan terjadi Insyaa Allah. Dan Allah senantiasa bersama hambaNya yang menolong agamaNya.
Serpong, 23 Juni 2020 Marina Fauzia
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=nmF8X1cDqIA&feature=youtu.be
















