Mbem diary #7
”Jadi, selama ini aku baru menyadari bahwa aku juga memiliki syndrom kecemasan sosial, dimana aku selalu merasa minder dan kurang percaya diri.
selalu merasa cemas di tengah-tengah suasana baru, selalu takut dengan penilaian orang lain. Selalu merasa jadi orang aneh ditengah-tengah orang normal. maka dari itu, aku selalu ingin mengindariinya.
Daripada bertemu dengan banyak teman, aku lebih suka berteman dengan orang-orang yang telah membuatku nyaman. meski itu adalah kelompok kecil yang gak poppuler.
Menjadi pusat perhatian, satu hal yang sering kuhindari. tapi tak memungkiri kadang juga ingin dikenal banyak orang. Hanya saja, berbicara dan menjadi pusat perhatian itu bukan hal yang mudah untukku.
Aku pernah merasa menjadi seorang “social intovert” karena banyak yang nyaman berteman dan mendengarkan ocehanku. Social intovert suka bersosialisasi, tapi ada kalanya dia ingin sendiri, dia lebih nyaman dengan teman yang itu-itu saja, persi sama sepertiku. Tapi.. aku juga merasa bahwa aku tipe inrovert lain.
“Thingking Introvert” aku juga melakukan hal yang sama, kerap kali menganalisis diri sendiri, saat membaca buku, nonton film, atau mendengarkan cerita orang lain, aku memahami mereka dengan menempatkan diri seperti mereka, “bagiamana jika itu terjadi padaku? jelas ini menyakitkan” jadi aku menghindari hal-hal itu. katanya sifat ini akan membawa seseorang terjebak dengan kegiatan daydreaming dan membawa mereka dalam alam berbeda. dan aku sering melakukannya juga.
lalu, saat aku membaca tipe introvert yang lain “Anxius Introvert”, yang membutuhkan waktu sendiri untuk mengisi daya, bertemu dengan banyak orang membuat energi terkuras, kadang merasa jengah saat memasuki ruangan baru, semua orang akan memperhatikan, dan yah itulah aku. Aku juga akan membuat alasan yang nekat untuk pergi dari tempat itu, lantas meninggalkan ruangan. Sering kali saat ngobrol dengan teman-teman kantor, lalu aku merasa terasing, aku akan diam seribu bahasa.
Ada lagi, “Restrained Introvert” Di mata orang sekitarnya, tipe ini terlihat pendiam, kaku dan lamban. Itu karena tipe restrained introvert selalu mengambil keputusan secara hati-hati. Entah bagiamana bisa, aku juga seperti itu, bahkan orang mengganggapku orang yang selalu bimbang, kurang bisa mengambil keputusan. karena aku selalu berhati-hati, aku tidak ingin keputusan yang ku ambil salah, atau malah menyakiti banyak orang. Begitupun saat menyapa banyak orang.
Entahlah, aku merasa sifat intovert-ku ini kompleks, meski bukan tingkatan yang paling parah. Tapi yang paling membuatku susah adalah, tak banyak orang mengerti, tak banyak orang memahami sifatku ini, membuatku tak nyaman dengan mereka. Jadi bahan empuk untuk di hujat serta menjadi orang yang paling parah. Tak banyak yang memahami, membuatku ingin menyendiri disudut dunia. Hidup dengan orang-orang yang bisa mengerti.









