Pada Sebuah Rindu Aku Bercerita
Pada derap satu-dua napas yang kerap ingin kuakhiri sisa-sisa rindu masih mencoba menyelusup meski bercampur benci dan dendam yang entah bagaimana memisahkannya.
Pada puncak lelah separuh warasku inginkan berhenti membayangkan kedatanganmu yang lebih dari fatamorgana di kemarau yang tumbuh di dadaku sebab mulut berbisa manusia kerapkali membuatku mabuk tak karuan.
Pada bisu tatapan nenek yang inginkan bahagia meminang separuh usiaku kepalamu adalah satu-satunya dunia yang ingin kuselami agar kutahu apa hal yang membuatmu mendadak geming membatu.
Pada sebagian dada ibu yang selalu kusandari kala perih yang kauhadirkan membuat mataku berderai-derai tangis aku ingin sesekali menjungkir-balikkan dunia lalu bersandar di dadamu serupa aku pernah bersandar di dada ibu maupun kekasihku.
Pada bahagia yang ditawarkan para lelaki yang ingin menjadi kekasihku aku lebih ingin berbahagia denganmu laiknya ayah dan anak perempuannya yang bahagia meski sekadar mengunjungi kedai es krim atau toko buku.
Pada riuh isi kepala yang berjejalan rupanya aku mengaku kalah bila ingin membencimu sebab rindu telah menancapkan kukunya di hatiku.
Selesai sudah, barangkali aku hanya bisa mengeluh jika merindukanmu sakitnya tak bisa kukendalikan.
© intanrahayu | Tirtoasri, 23042017