Lewat penerbangan pertama pagi itu aku pulang ke Surabaya.
Setelah sore kemarin mendapat kabar duka
Aku menangis sejadinya, selayaknya langit yang hujan tanpa permisi
Deru airnya menghempas tak beraturan
Sesampainya di rumah, melihat mata sembab Ibu, serta adik-adikku, yang kubisa hanyalah menahan muara katup mata
Membendung dengan segala upaya
Sambil berucap "yang sabar dik, yuk doakan bersama buat ayah*
Rasanya seperti ada sayatan kecil yang mengiris perlahan setiap tetesan air mata
Sembari tersenyum, ku pamit ke bilik kamar mandi
Menghanyutkan teriakan dan air mata di dalam bejana air, berharap tak ada yang mendengar.
Lalu keluar seraya berucap lewat mata, "tolong jangan menguapkan kenangan ayah"
Prosesi usai, semua berjalan kembali, tidak dengan rindu-rindu setiap tahunnya
Masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu Yah.
Aku sedang ingin bercerita banyak denganmu