Kangen Mendol
Akhirnya keseharian balik lagi seperti biasanya ya. Gimana, masih sering kepikiran euforia Ramadhan dan Lebaran kemarin? Hehe
Momen lebaran bagi saya adalah momen yang paling menyenangkan. Utamanya karena bisa ngumpul lagi bareng keluarga besar. Tapi yang saya rasa paling menyenangkan adalah mendengarkan cerita-cerita baru dari saudara-saudara yang lama tak bertemu. Juga tentang cerita nostalgia masa kecil yang pasti gak pernah lupa buat diingat-ingat bareng saudara/sepupu seangkatan. Yang jelas, banyak sekali kebahagiaan di momen lebaran kemarin. Tapi lewat tulisan kali ini, saya ingin nyoba buat merangkum beberapa pelajaran yang bisa saya ambil sewaktu ber-lebar-an kemarin.
SILATURAHMI ITU PENTING
Hal yang paling penting dalam hidup bersaudara itu emang silaturahmi. Kata ebes (red: ayah) saya, “wes toh, pokok e sering-seringo mampir nang omahe dulur-dulur masio gak ono kepentingan opo-opo”. Yang artinya kurang lebih, udahlah, pokoknya sering-sering mampir ke rumah saudara-saudara meskipun gak ada kepentingan apa-apa. Dulu, saya gak menganggap hal itu penting. Tapi sekarang, itu PENTING BANGET.
Karena udah banyak banget cerita antar saudara semakin lama semakin gak kenal karena memang jarang ketemu. Akibatnya, sesama saudara sendiri malah gak tau permasalahan saudaranya apa. Padahal saudara seharusnya menjadi lingkaran yang paling dekat dengan kita dan bisa menjadi orang pertama yang selalu siap membantu dan membela kita. Takutnya kalo silaturahmi udah mulai jarang, bisa-bisa bukan hanya membuat kita jauh dengan saudara kita tapi juga anak cucu kita bisa saja gak kenal lagi siapa yang menjadi saudaranya, siapa pakdhe budhenya, om tantenya, sepupunya. Atau dalam istilah Jawa dikenal dengan sebutan “kepaten obor”. Sebuah kondisi ketika orang tua sudah meninggal, kita malah memutus tali silaturahmi dengan saudara-saudara yang lain. Jangan sampe. Sedih tau.
Makanya waktu lebaran kemarin, saya dan adik saya (farah dan maya) mikir, “apa ya yang sekiranya bisa bikin saudara-saudara betah di rumah dan punya oleh-oleh buat dibawa pulang kecuali galak gampil/angpao lebaran?”
Nah! Kebetulan karena ada papan photobooth yang nganggur di rumah, akhirnya kami sepakat kalo akhirnya bikin photobooth ala-ala. Sekalian memfasilitasi hasrat selfie dan merayakan lebaran pertama dengan hadirnya insta-stories. Dan kalimat yang terpilih buat saya tulis di papan photobooth adalah kalimat dari farah, Bahagia Dalam Balutan Persaudaraan.
Bentar, kenapa kok dibalut? Kayak luka aja pake dibalut.
Gini lo maksudnya. Dibalut kan tujuannya biar lebih dekat, lebih rapet. Biar jadi sedulur raket. Kalo ngomongin luka, kan ya wajar luka itu dibalut biar cepet sembuh. Begitupun dalam persaudaraan, kan? Hidup bersaudara bukan hanya berisi tentang bahagia senang gembira. Pasti ada satu masa yang isinya luka, sedih dan gontok-gontokan. Pasti toh? Nah makanya itu, momen lebaran itu waktunya membalut lagi persaudaraan yang renggang, yang sempet gak saling sapa, yang sempet saling ngerasani sana-sini biar makin dekat lagi dan makin punya arti lagi. Gitu, pinginnya.
Semoga kehidupan keluarga kita dan hubungan kita dengan pakde, bude, om, tante, sepupu, mas, mbak, cucu, cicit, semuanya selalu dijaga oleh-Nya ya. Aamiiin!
Hmm, jadi kangen mendol bikinan emes. Fyi ya, mendolnya emes itu jan kanelop! the best in town!
*akhirnya saya menemukan cara menghubungkan judul dengan kalimat terakhir tulisan ini*
teruntuk, @kitajatim.
______ Bandung, 160717 @dimazfakhr














