Mengelola Sikap (1)
Barusan saya membaca tulisan seorang kawan dengan judul Hari Berduka Akhwat Nasional. Yang menjadi latar belakang gagasan ini adalah momen ‘hari jadi’ dua seleb Hafidz internasional, Fatih dan Muzammil. Di mana banyak kita temukan emoticon menangis dan hati retak bermunculan di kolom-kolom komentar salah satu akun mereka. “Patah hati Ade, Bang”, “Duh, kok sakit ya?” kira-kira begitu ungkapannya.
Meski sebagian pembaca menilai tulisan tersebut berkesan berlebihan dan seakan semua akhwat melakukan demikian. Namun menjadi catatan bagi para perempuan, akhwat atau ikhwit, ini bukan saja perihal ‘status’, tapi juga bagaimana kita menerapkan pesan Nabi, dan berkatalah dengan perkataan baik atau diam.
Mungkin maksud hati bercanda. Toh, media maya di sebagian kalangan menjadi tempat seru-seruan. Tidak pandang peduli siapa yang menilai. Kembali lagi saya jadikan ini catatan bagi kita perempuan, seberapa penting menampakkan kepatahan, kelukaan, kekecewaan di hadapan mereka, dan mengorbankan kemuliaan kita sebagai wanita?
Percayalah rasa yang kita anggap suka hanya sampai pada batas kekaguman. Kagum dengan nilai-nilai baik yang mereka sampaikan. Bukan berarti kita mau atau siap mendampingi perjuangan selanjutnya. Dan nilai-nilai itu yang kemudian harusnya kita kagumi sebagai wasilah mencintai kebaikan.
Demikian rasa yang kita kira sayang. Jika kita meraba dasar rasa, semua berlandas kepedulian akan orang-orang baik. Orang-orang yang menginspirasi kita. Mereka yang mungkin mengubah putus asa kita menjadi harapan, hampa menjadi cahaya, penat menjadi semangat, pada mereka yang menunjukkan kita kepada jalan kerahmatan, tentu manusiawi jika kita tak ingin kehilangan. Namun bukan kemudian kita sanggup hidup menemani masa tuanya. Apalagi menampakkan kesakitan hati yang sebetulnya tak bernanah.
Allah sering menjawab permintaan hamba bukan pada keinginannya. Seperti kisah Hajar yang berupaya penuh mencari air di antara Shafa-Marwah, tapi Allah justru mengucurkannya dari pasir tempat kaki mungil Ismail berpijak. Begitu pula pada kebaikan, tak mengharuskan berbalas dari tempat kebaikan itu kita benih. Allah semaha luas rahmatnya menyiapkan beribu pintu dan tangan sebagai jalan balasan kebaikan-kebaikan. Hanya perlu yakin demi yakin meyakininya.
Jika kita mengaku sayang fillah kepada mereka, lantas mengapa duka? Sepatutnya kita senang menerima kabar gembira serta merajutkan doa-doa agar berbalas segala kebaikan yang selama ini mereka sampaikan dengan sebaik-baik balasan, salah satunya mempertemu-satukan mereka dengan pasangan yang baik. Dan semoga Allah berkahi.
Kembali pada reaksi kita sebagai perempuan di media sosial, setelah meraba perasaan sebenarnya, cukupkan kejujuran rasa itu pada doa. Jika memang sakit, adukan pada Allah Pembolak-balik hati. Tidak perlu mengumbarnya di khalayak umum. Di samping menyingkap kehormatan kita, lalu bagaimana jika pesan tersebut sampai kepada mereka? Walau bisa jadi mereka tak peduli, mendoa keberkahan bagi mereka jauh lebih baik dari pada mengaku patah. Toh pengakuan itu tetap tak akan mengubah keputusan yang bahkan permusyawarahannya melibatkan Tuhan.
Saya pribadi bukan perempuan sempurna dan masih jauh dari kata sholihah. Tulisan ini juga tak lain sebagai renugan diri. Semoga Allah terus menguatkan hati para wanita, menjaga perasaan sayang-sayang mereka, dan membimbing kepada kesantun-anggunan lahir dan jiwa.
|| Keterbatasan, 040717












