Menguasai Hati
Tidak seharusnya hati yang mengambil semua peran termasuk perasaan yang dikeluarkan. Sebisa mungkin seharusnya kita bisa mengontrolnya.
Sedang tidak suka dengan satu orang diluapkan ke semua orang yang bahkan tidak tahu apa-apa, sedang capek dan banyak masalah dengan diri sendiri eh marahnya ke orang lain, BT nya di kantor marahnya dirumah, atau sebaliknya.. apapun itu, seharusnya kita mampu menahan dan tahu cara meluapkan.
Sejatinya, orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya, termasuk memilih diam dari banyaknya pilihan sikap saat berada dititik amarah.
Pernah gak sih teman-teman merasa tidak suka saja dengan orang, even kita gak pernah ngobrol banyak, gak pernah bersama? Ya ngerasa tidak cocok saja. Saya pernah, dan itu tidak baik, hati kita terkadang mensugesti kita dengan berbagai macam hal yang kita belum tau baik buruknya, padahal di dalam hati kita bersarang berbagai rasa yang tidak pernah berhasil didefinisikan oleh pikiran, semacam tiba-tiba tidak suka orang, atau sebaliknya. Bahkan hanya dengan hati atau perasaan, kita bisa mengerjakan apapun tanpa rasa lelah seperti robot, atau kita seharian hanya rebahan tapi rasanya capeeeekkk sekali. Hebatkan?
Nah, itu tujuannya kita menguasai hati. Menguasai dan mengatur semaksimal mungkin tingkat keefektifan dan produktivitasnya agar tidak hanya lelah di urusan duniawi dan kesia-siaan yang tidak ada habisnya, memanage segala sesuatunya sesuai tuntunan Allah. Bagaimana Islam mengajarkan memanage perasaan kita? Saat sedang galau sedih tidak ada sebab, Ternyata Allah menyebutkan dalam Firmannya, dengan selalu mengingat Allah hati menjadi tenang (Qs Ar-Rad: 28).
Allah juga melarang kita mempunyai prasangka, dalam firmanNya juga disebutkan Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa (Qs Al-Hujurat: 12). Karena prasangka menimbulkan berbagai sebab penyakit hati.
Selain itu kita terus dituntut untuk melakukan hal-hal yang positif, terutama juga dalam menjaga pola makan harus halal dan thayyib. Dalam hadist disebutkan “Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dan masih banyak lagi sikap yang harus dilakukan untuk tidak terlena terhadap kemauan hati. Lain kali mari kita bahas lebih dalam lagi 😅











