Seandainya, seandainya hari ini tuhan memperbolehkanmu berbuat jahat? apa yang kamu pilih untuk lakukan?
Seandainya hari ini semua tindak kriminal dan kejahatan lain dihalalkan apa yang akan coba kamu beri kesempatan untuk lakukan?
Membunuh musuh, menjadi munafik, merampas sesuatu yang sudah lama kamu idamkan, atau menghancurkan seluruh orang-orang yang pernah menyakitimu?
Pun sebagai manusia, kadang up and down hidup membuat mu terbuai, kencangnya badai yang mengayunkanmu seringkali membuat kita geram. Geram pada diri, geram pada orang lain, geram pada aturan, geram pada norma pun tanpa sadar geram pada ujian dari Tuhan. Geram kenapa aku begini, kenapa aku nggak bisa? Kenapa tuhan memberiku ini, kenapa tuhan menguji seperti ini? Pernah?
Kadang dalam deburan ombak yang kencang, fokus yang hadir adalah bagaimana menakutkannya akan tenggelam, lupa bahwa alunan ombak terkadang bagai belaian kasar yang mengantarkan jauh menuju tujuan.
Aku pun begitu. Dari setiap baik yang hadir dan lelah yang seringkali dirasakan. Hidup terlalu banyak dihakimi, dipersalahkan, dan acapkali tak pernah dianggap benar. Lebih sering lupa pada kebaikan - kebaikan yang menimang-nimang.
Sama seperti hujan yang sering dipersalahkan datangnya, lupa dengan keteduhan yang coba ditawarkan bersamaan datangnya.
Jadi apa gunanya ketika diperbolehkan sehari saja menjadi penjahat? Sedang aku sudah tiap hari menjadi penjahat.
Apa gunanya sehari saja kriminal menjadi halal? Sedang aku sudah menjadi seorang kriminal bahkan mungkin sejak aku lahir.
Aku yang sejak lahir ini sudah menjadi kriminal merebut kasih sayang ibu - bapak pada abang dan mbak-mbak ku. Tanpa rasa bersalahnya menyita seluruh perhatian dan curahan kasih pada orang yang tanpa permisi baru datang dan ikut serta dalam sebuah keluarga. aku sudah menjadi seorang kriminal baik pada orang lain maupun diri sendiri. Lebih sering memaksa hati diam kemudian membiarkan nafsu berlarian. Lebih memilih melepaskan kebaikan hanya untuk keinginan-keinginan yang entah apa makna dan tujuannya.. Pun jauh sebelum hari ini, hari ketika dimana tuhan menghalalkan kejahatan, aku sudah sering memaklumkan diri pada kejahatan-kejahatan yang jelas haram hukumnya. Menganggap semua salah dan kejahatan adalah hal yang biasa dan bisa dimaklumi. "Tak apa, ada esok berbuat baik". Lalu apa gunanya ketika kriminal dibolehkan? sedang saat dilarang pun tanpa luput saya menjalankannya. Menyakiti orang, membunuh karakter, atau tanpa celah menggerutu di balik sembilu luka.. Tapi kalau saja seandainya, kriminal dan kejahatan itu dibolehkan, dihalalkan atau pun dijanjikan dengan remisi,. Aku hanya ingin lari dan berkonspirasi dengan malaikat pundak kanan untuk mengelabui malaikat pundak kiri. meminjam sejenak catatannya, melapisi kejahatan-kejahatan yang sejak dulu di pelihara dengan cat putih supaya bersih. Atau mungkin aku akan mencoba membuat lupa, orang-orang yang pernah sakit ataupun tersakiti oleh jiwa sakit macam ini. . Biar mereka lupa, pernah bertemu dengan kriminal sepertiku, biar saja, biar tak apa. Biar saya lega, biar geram ini tidak ada lagi. Biar hati ini tidak perlu lagi diredam-redam emosi. Biar mereka berjalan beriringan dengan mudahnya. . Pun aku bisa juga meminta untuk menggoda tuhan, sehari saja membuat pengecualian, tentang apa yang pernah dijelaskan seorang rekan:. “Kalian akan menemukan orang yang paling jahat di sisi Allah Ta’ala pada Hari Kiamat. Ialah orang yang bermuka dua; tatkala tiba satu rombongan ia berwajah ini, sedangkan terhadap rombongan lain ia berwajah lain lagi.". Maka apabila Aku, aku, saya ataupun kamu pernah menjadi orang terjahat kini atau nanti saat kiamat, biar saya menjadi jahat untuk menggoda tuhan mengampuni kejahatan seorang kriminal ini.. Dan kemudian nanti, Aku, tidak jadi orang jahat lagi. Begitu