Ujian Matematika Alya
Alya adalah seorang murid kelas 8C di SMP Baktijaya. Kak Mirna yang berdiri di depan kamarnya membangunkan adiknya tersebut. "Hei, bangun sudah hampir jam tujuh, nanti kau terlambat", ujar kak Mirna. "Iya iya", ujar Alya yang masih mengumpulkan nyawa.
Alya bersiap-siap dan pergi sekolah diantar kak Mirna. Ketika ia sampai di kelas, Alya langsung meletakkan tasnya dan duduk sambil termenung di mejanya. Alya terkejut karena ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Ternyata itu adalah Lili, salah satu teman Alya. Lebih tepatnya teman tapi musuh, karena Lili selalu jahil kepada Alya. "Kenapa bengong mulu ?. Nanti kesambet loh", goda Lili. Alya hanya diam dan kembali menatap ke jendela.
"Hmm... Tidak kenapa kenapa", jawab Alya dengan wajah lesu. "Hmm... Kayanya ga gitu, belum disemangatin sama seseorang kayanya nih", goda Lili lagi. " Eh, disemangatin sama siapa emangnya ?", tanya Alya. "Ya ga sama siapa-siapa sih", jawab Lili.
Bel masuk kelas pun berbunyi. Mata pelajaran pertama adalah IPS, mata pelajaran yang disukai Alya. Alya selalu ingat kalau ada PR IPS, berbeda dengan Lili yang tidak terlalu suka IPS. Bu Rani masuk dan mulai menjelaskan materi, di akhir pembelajaran bu Rani memberitahukan bahwa akan ada ujian matematika dadakan setelah istitrahat.
"Aduh, bagaimana ini, aku belum belajar", ujar Alya agak panik. Guru IPS & MTK memang sama, tapi materinya tidak semuanya sama. "Hmm.. kau belum belajar ?", tanya Lili. "Aku juga belum belajar", ujar Lili lagi.
"Hmm.. dia tidak belajar pun nilainya selalu di atas KKM", batin Alya. "Ya aku kan berbeda denganmu, aku harus belajar dulu sebelum ujian", jawab Alya. Bel istirahat berbunyi, "Alya ke kantin yok", ajak Lili. Alya yang sedang merapikan buku langsung bergegas mengejar Lili yang sudah berjalan duluan.
Sesampainya di kantin, Alya membeli donat cokelat kesukaannya dan sebotol air putih, Lili pun membeli sebungkus nasi uduk dan segelas es teh. Sambil makan, Alya terus melihat ke buku sambil menghafal materi matematika. "Hei tidak usah terlalu fokus, nanti keselek loh", ujar Lili yang melihat sahabatnya sangat fokus kepada buku MTK.
Alya jadi ingat keadaan dan menutup buku MTK - nya sebentar. "Perbandingan... ahh kenapa susah sekali menghafalnya", keluh Alya. " Eheheh, MTK dipahami bukan dihafal", ujar Lili sambil menyuap nasi uduknya.
"Iya sih, ada benarnya juga, tapi susah". Alya tidak menyukai pelajaran MTK, itu membuatnya pusing. "Pasti akan mudah kalu kita benar-benar paham", ujar Lili. Alya hanya terdiam dan melanjutkan makan sambil menghafal materi.
Bel selesai istirahat berbunyi. Alya dan Lili kembali ke kelas. Bersamaan dengan bu Rani yang juga masuk ke kelas. "Duh, aku belum siap", ujar Alya cemas. Bu Rani membagikan lembaran soal kepada murid satu persatu. Waktu pun mulai berjalan, Alya mengerjakan soal yang lebih mudah terlebih dahulu. Ketika waktu hampir habis, Alya pun mulai menjawab dengan seingatnya dia menghafal rumus.
Ketika waktu sudah habis dan semua soal dikumpulkan, bu Rani mengoreksi lembar jawaban satu pesatu. Setelah semua selesai dikoreksi, tiba saatnya hasilnya dibagikan. Tangan Alya pun berkeringat, ia tidak yakin dengan hasilnya, Alya bisa dimarahi lagi oleh ibunya. Lili yang pertama di panggil mendapat nilai tertinggi. Nama satu persatu murid pun dipanggil. Sampai akhirnya nama Alya dipanggil, dan ternyata Alya mendapat nilai 72.
Alya agak kecewa dengan hasil ujiannya, tapi dia bersyukur nilainya bukan yang paling rendah. Selepas pulang sekolah pun, Lili mengajak Alya untuk makan bersamanya. Ketika di perjalanan untuk pergi makan, "fiuh.. untung nilaiku tidak terlalu jelek". "Ahaha untung saja, kalau tidak sapu di rumahmu bisa melayang", ejek Lili. " Jadi, bagaimana pengalaman menghafal materi sistem SKS nya ? (Sistem kebut sejam)", tanya Lili. "Benar katamu li, ternyata tidak mudah menghafal materi MTK", ujar Alya. "Ahaha makanya dipahami bukan dihafal", ujar Lili sambil tertawa. Alya pun ikut tertawa bersama Lili.
THE END












