(5) Menggenap bersama yang kita cintai atau yang mencintai kita?
Merenung, merenung..
Apakah tahun ini sudah saatnya membuka mata dan hati? Setelah patah hati terakhir pada usia 17 tahun ketika sedang cinta monyet-monyetnya.
Kala itu jatuh cinta pada seseorang yang aku anggap perfect. Dia tumbuh sebagai primadona, tapi setelah dipikir-pikir pada hari ini, dia mungkin cocok kalau sebagai kekasih jangka pendek, tapi tidak sebagai pasangan seumur hidup.
Sebab, mengingat betapa mudahnya dia memberi komentar pada kolom komentar foto-foto perempuan cantik. Iya, akunnya terpampang sebagai salah satu yang memberi like pada foto tersebut, seringkali pula komentarnya terlihat.
Bukannya aku cemburu buta, mengingat mungkin banyak orang berpikir itu adalah hal sepele. Sepele memang, tetapi itu berarti dia dengan mudah membiasakan dirinya melihat perempuan-perempuan yang bukan mahromnya. Hanya saja aku takut, punya pasangan yang seperti itu, yang mungkin kurang menundukkan pandangannya. Entahlah. Aku bukan tipe yang posesif tapi hal ini kan sudah mengarah ke penjagaan diri.
Di usiaku yang segini, sepertinya aku akan mulai membuka diriku untuk melakukan perkenalan, setelah selama ini main blokir sana-sini, tolak sana-sini, enggan memberi nomor. Nenekku sudah mulai khawatir karena aku di rumah saja (kan pandemi, nek~ makanya di rumah saja, wkwk).
Tadinya aku berpikir biarlah aku membuka diri untuk menyenangkan orangtuaku, sebab keduanya telah pusing membuat alasan kalau ada yang bertanya-tanya soal aku. "Anak saya masih sekolah" sudah tidak berlaku lagi, kecuali aku mau meneruskan pendidikanku. Sayangnya tidak mau, wkwk.
Pikiran tentang menyenangkan orangtuaku itu pun akhirnya kandas karena tiba-tiba aku teringat sebuah tulisan dari tumblrnya Lacikata;
"Jika dulu niatnya menikah karena terlanjur suka, suruhan orang tua, faktor umur, ekonomi, keadaan dan situasi, semua ini harus diubah niatnya. Diubah niatnya memang karena ibadah. Ingin mengerjakan karena perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya. Dan betul-betul jika diniatkan ibadah, semua kejenuhan, perasaan-perasaan yang terbebani karena adanya karakter pasangan, beban-beban kewajiban seperti nafkah bagi laki-laki, melayani ekstra dari perempuan ke suaminya, ini akan jadi ringan.” — Ust. Khalid Basalamah حَفِظَهُ اللهُ.
Terus.....
Ceritanya aku lagi nulis-nulis tentang visi misi pernikahan. Ini sebenarnya sederhana, tapi nggak boleh ngasal. Harus dari dalam hati dan niatnya benar. Tapi bingung banget! Akhirnya searching di google wkwkwkwk. Aneh banget. Pengen nyontek visi-misinya orang lain.
Dan malah muncul berbagai cerita seru kehidupan pernikahan dari web quora, sayang banget sama web satu ini huhu. Selalu ada cerita menarik, seperti cerita berikut ini tapi aku ambil sepotong aja.
"Menikah sama orang yang mencintai kita itu akan lebih enak ketimbang menikah sama orang yang kita cintai. Adi, yang kini udah jadi suami saya selama 4 tahun, masih melihat saya seolah matahari bersinar dari mata saya. Kami masih kayak pengantin baru. Saya bener-bener diperlakukan bak ratu. Selama ini Adi nggak pernah marah sama saya. Selalu sabar, meski saya kadang suka ngomel dan ngambek." — Quora
Jadi... Kisah ini cocok buat dibaca kamu-kamu yang akhirnya tidak menikah dengan pujaan hatimu, tapi justru menikah dengan seseorang yang menjadikanmu pujaan hati!
Kisah tersebut juga mengingatkanku pada tulisan Nazrul Anwar dalam buku "Genap".
Seandainya kamu dihadapkan pada dua pilihan, siapa yang lebih kamu pilih untuk menggenapi kehidupan kamu? Seseorang yang kamu cintai tapi dia tidak mencintai kamu, atau seseorang yang mencintai kamu tapi tidak kamu cintai?
Sebuah percakapan seorang gadis dengan mamanya.
"Menggenap bersama seseorang yang mencintai mama, walaupun mama tidak mencintainya.”
"Kenapa begitu, Ma?”
"Karena berusaha untuk mencintai orang lain, selalu lebih mudah daripada membuat orang lain mencintai kita, Sayang.
Cinta itu apa adanya di hati. Hati yang merasakannya. Dan kita hanya bisa mengendalikan dan mengkondisikan hati kita, bukan hatinya orang lain. Seberapa besarpun usaha kita untuk membuat orang lain mencintai kita, pada akhirnya yang memutuskan apakah dia mencintai kita atau bukan ya dia, bukan kita. Hatinya yang merasakan, bukan hatinya kita.
Sama halnya, jika ada seseorang yang melukai hati kita, membuat kita kecewa atau sederet perasaaan menyakitkan lainnya, pada akhirnya, kita sendiri yang harus menyembuhkan luka itu. Tak perlu menunggu ucapan maaf, atau mengharapkan orang lain yang menyembuhkannya. Karena sekali lagi, yang bisa kita kendalikan adalah hati punya kita sendiri. Bukan hatinya orang lain.”
Meski.. alangkah indahnya bila memang sejak awal saling mencintai. Tapi, apa yang kita cinta belum tentu terbaik buat kita kedepannya. Makanya itulah mengapa mungkin kita tidak dipasangkan dengan orang tersebut.
Menulis hal ini juga menjadi pengingat untukku pribadi. Entah bagaimana nantinya menghadapi takdir kehidupan, tapi semoga senantiasa mengingat bahwa segala takdir Allah hadir beserta dengan hikmah-hikmahnya.
Jadi, apa kamu punya cerita yang menarik juga soal ini? :)
Bdg, 8 April 2021 | 13.49 | @wedangrondehangat











