Aku pernah cukup lama, ah tidak.. Bahkan sampai saat kalimat ini belum rampung pun, aku masih memikirkan namamu. Memikirkan bagaimana kita kemarin.. dan bagaimana kita saat ini. Sudah banyak sajak aku buang untuk hidupkan kamu, aku terlalu memupukmu hingga tubuh besar, dan tanpa sadar kau sudah berkuasa atas dirimu sendiri. Seenaknya. Sesukamu.
Ingatkah sudah cukup banyak cerita yang kita tukar? Kau selalu saja memburu apa-apa yang baru dariku. Dan aku? Ah, selalu saja mencari tahu sendiri tentangmu.
Pada situasi yang lebih banyak mempercundangi aku, aku jengah. Sakitku sepertinya tak kau rasakan. Atau kau merasa namun pura-pura tuli dan buta? Ya, aku rasa pilihan kedua lebih tepat sebagai jawabnya.
Kau mau tahu cerita terbaru tentangku saat ini? Jika iya, kemarilah.. akan aku jelaskan padamu dengan saksama.
Aku mulai menyerah atasmu.
Beberapa hari berlalu tak aku sebut lagi lirih namamu di hadapan-Nya. Beberapa hari berlalu tak aku bayangkan lagi bagaimana nanti kita akan bersama. Hadirmu yang begitu membahagiakan pada awalnya, hanya meninggalkan air mata pada penghujungnya. Kau pukul aku telak hingga patah sepatah-patahnya. Kau menang atas egomu sendiri. Kau menang.
Hati yang tadinya berusaha sekuat tenaga bertahan, kini ia sudah sangat lelah berjuang.
Bukankah aku harus membuka hati untuk seseorang yang baru? Yang jelas-jelas ku tahu ia mampu terima segala kurang dan keanehanku? Bukankah aku harus bersahabat dengan logikaku sendiri? Sadar diri untuk tidak menanti seseorang yang nyatanya sedang berjuang untuk orang lain. Ya bukan aku.
Jika suatu saat kau rindui kita pada malam sepimu.. jangan pernah bertandang. Sebab, pada saat itu, aku pun belum tahu betul kondisi hatiku. Bisa saja ia lemah, dan merindukanmu parah.







