Hm,
Satu saja deh.
Beberapa waktu lalu, aku bertemu dia. Seorang kenalan yang pernah memfitnahku dulu semasa K3. Kami bertemu di hotel tempatku melangsungkan manasik. Sepertinya dia sedang menunggu kerabatnya. Dia duduk di depan pintu ballroom.
Saat datang, aku dan suami mengisi daftar hadir. Panitia bertanya namaku dan saat aku menjawabnya, dia melihat ke arahku. Sepertinya dia tau ini aku walau aku berniqob. Kami sempat bertatap mata dan aku memilih mengabaikannya.
Aku dan suami masuk ke dalam. Saat makan siang, kami keluar untuk makan prasmanan yg sudah tersusun rapi di depan ballroom. Aku melihatnya lagi. Dia masih di sana. Pandangan kami beradu kembali. Kali ini dia tampak ingin menegur, tapi aku palingkan wajah seolah tak melihatnya ada.
Mungkin terdengar aku kejam, tapi jujur di hati yang terdalam, aku tak ingin lagi mengenalnya.
Bagiku fitnah itu terlalu kejam, sakitnya masih terasa ngilu di hati. Ia memfitnahku ke teman2 K3. Membuatku seolah menjadi penjahat dan penjilat dosen pembimbing. Pada malam kejadian fitnah, aku langsung klarifikasi. Semua anggota terdiam, begitu jg dia. Tapi tak pernah kudengar permintaan maaf darinya.











