Kita Berbeda
Halaman sekolah masih sepi, awan biru menghiasi langit SMA Tanjung Pandan pagi itu. Dedaunan masih basah berembun sisa hujan tadi malam, pintu sekolah pun masih terkunci rapat, belum ada tanda-tanda kehidupan. Sementara dari kejauhan sayup-sayup terdengar deru kendaraan bermotor, asap mengepul dari knalpot nya, sudah dipastikan itu bunyi motornya Pak Andi satpam sekolah.
Krek. Kunci gerbang terbuka, sembari memakirkan motor ia menuju ruang kelas tiap gedung sekolah. Di ceknya satu-persatu, sekolah itu lumayan luas ada lima gedung saling berdekatan membentuk persegi panjang dengan lapangan di tengah-tengah nya. Saat menuju ruangan kelas XII-IPA 2 Pak Andi dibuat kaget oleh suara gaduh yang ada didalam ruangan kelas. Ia mengintip pelan dari jedela, rupanya si Dennis yang sedang bergaya sambil membetulkan dasi hitamnya didepan cermin.
“Masuk lewat pintu rahasia* lagi?”, tanya Pak Andi.
Denis terhenyak kaget.
“Hehe, iya, terakhir lewat pintu rahasia sebelum lulus dari SMA ini, Pak.”
Pagi itu adalah hari Wisuda bagi anak kelas XII di SMA Tanjung Pandan, Dennis seperti biasa selalu datang paling awal diantara yang lain. Padahal masih pukul 06.15, acara dimulai pukul 07.15.
“Kalau Denis udah datang, pasti sebentar lagi adaaaa…”
“Duaaaaarrrrr, ada siapa Pak Andi?”
“Ada kau, Sheela!”
“Hay Den, waaah udah rapi baget, keren”, kata Sheela menggoda Denis sambil mengacak-acak rambut yang telah rapi di oles gel.
Denis menyeringai.
“Dasar Sheelaaaa, awas kau ku tangkap yaa…”
“Hahaha…”, tawa Sheela menggema.
Mereka berdua lari saling berkejaran.
Pak Andi tersenyum melihat tingkah mereka berdua, selama tiga tahun keduanya paling sering kena hukum, dipanggil BP, namun anehnya otak mereka cerdas, juara kelas dan aktif di organisasi sekolah. Mungkin ini hari terakhir ia melihat tingkah konyol Denis dan Sheela.
Tepat pukul 07.30 acara Wisuda dimulai, dibuka oleh Bapak Kepala Dinas Kabupaten Belitung. Setelah selesai sesi sambutan, akhirnya kini tiba saatnya untuk prosesi wisuda. Sebelumnya akan diumumkan kandidat yang meraih nilai UN tertinggi, dan gabungan nilai UN+US. Semua siswa duduk rapi menghadap panggung, bapak wakasek kurikulum menaiki podium dan langsung membacakan kandidat siswa yang kemudian disebut “siswa berprestasi”.
“Baiklah, tahun ini diantara siswa yang mendapatkan nilai UN tertinggi dan gabungan UN+US ada dua orang”.
Suasana tegang, tak sabar ingin mendengar nama kedua orang siswa tersebut.
“Peraih nilai UN tertinggi adalah Denis Rangga Wibawa, sementara gabungan nilai UN dan US adalah Sheela Monica”.
Semua hadirin bertepuk tangan, bahkan Pak Bupati yang terlambat hadir langsung standing applause mendengar pengumuman itu. Ditambah ternyata Denis meraih nilai UN tertinggi se-Kabupaten, selisih nilai keduanya tipis sekali makanya pantas saja mereka mendapatkan prestasi tersebut.
Tak henti Denis mengucapkan syukur dalam hati, sementara mata Sheela mulai basah disusul pelukan hangat dan ucapan selamat dari teman-temannya. Suasana haru hadir saat Denis menyampaikan pidato didepan podium, bahwa keduanya (ia dan Sheela) akan sama-sama melanjutkan kuliah di ITB, Sheela meminta doa kepada semua hadirin yang hadir agar segala cita-cita ia dan Denis bisa tercapai.
Diam-diam saat suasana haru mencapai puncaknya, ada seorang anak lelaki yang tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, melihat kedua sahabatnya telah berhasil meraih prestasi. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, membersamai mereka berdua di keseharian adalah hal yang pada awalnya menyebalkan. Sampai akhirnya saat ini baru terasa dan hadir sesal, bahwa kadang hal yang menyebalkan justru yang menyisakan kenangan tak terlupa, membekas dihati dan pikiran kita.
Aku ingat, awal masuk kelas X dan bertemu mereka berdua di seleksi masuk OSIS. Denis adalah anak periang, jail dan nakal. Sementara Sheela adalah anak yang gampang akrab sama orang juga gampang tersentuh hatinya. Aku menyaksikan mereka berdua tumbuh dan semakin dekat. Hingga muncul sebutan, “Dimana ada Denis, disitu ada Sheela”.
Aku menyaksikan mereka berdua, mulai dari satu kelas, duduk satu meja, masuk jurusan IPA, jadi rival di pemilihan Ketua Osis, sama-sama suka ekskul Basket, suka belajar bareng, pernah mewakili SMA diajang OSN MIPA Provinsi, hingga sekarang (lagi-lagi) aku menyaksikan mereka tampil berdua didepan dengan kandidat peraih nilai UN dan US terbaik. Terakhir, tentu senang dan bangga mereka akan lanjut ke ITB.
Seminggu setelah wisuda SMA, kami bertemu untuk makan siang. Aku datang agak ngaret karena harus mengurus berkas persyaratan beasiswa.
Nif, cepetan aku sama Sheela udh ditempat.
Qt tggu ya, ngaret nya udh kelewat batas, lho…
Chat dari Denis membuat ku semakin tergesa-gesa, selang 15 menit aku sampai di kedai Ayam Bakar Paman Shobri.
“Kebiasaan kau ini, Nif. Selalu ngaret, ngeselin”, suara Sheela membuka obrolan siang itu.
“Iya sorry, tadi aku ngurus berkas beasiswa dulu…”.
Denis dan Sheela terdiam, saling tatap keheranan.
“Kamu jadi sekolah di Luar Negeri?”, tanya Denis.
“Iya, besok berangkat buat pindahan. Semua udah aku urus, makanya aku ngebet ngajak ketemu kalian, hehe”.
“Jahat kau, Nif!”, tegas Sheela.
“Kenapa sih harus ninggalin kita?, padahal kamu tuh udah jadi pelengkap diantara kita. Apalagi kalau aku atau Denis lagi buntu dan banyak masalah, pasti solusinya ada di kamu…”
“Betul, mending lanjut sekolah di ITB aja bareng kita. Udah sahabatan 3 tahun, sayang kalau pisah gitu aja”.
Aku tersenyum.
“Denger ya, kukira kekhawatiranku terhadap kalian sudah hilang. Menjadi penengah diantara kalian berdua, memang aku ahlinya. Namun, kulihat diantara kalian berdua begitu banyak kesamaan, bahkan hampir luput perbedaan…
“Tapi, Nif…” Denis memotong.
“Menyaksikan kalian berdua naik panggung, sudah cukup menjadi bukti kalian akan baik-baik saja. Tetaplah menjadi sahabat, aku terlampau bangga bila kelak kalian menemukan kesamaan-kesamaan yang lain dan membagi ceritanya padaku. Aku tunggu cerita kalian!”
“Buktiin kalian akan tetap jadi sahabat dengan kesamaan yang tak lekang oleh waktu, oke?”
“Kurasa cukup untuk hari ini, udah mulai sore. Besok aku harus berangkat pagi-pagi, selamat berpetualang yah! Kutunggu cerita kalian, bye!”
Kulihat Denis dan Sheela tersenyum haru.
Nif, aku mau cerita. Ada kabar baik dan kabar buruk nih. Kabar baiknya, alhamdulillah aku lolos di ITB. Kabar buruknya Sheela ga masuk ITB. Aku bingung harus gimana…
Chat dari Denis mengejutkan lamunanku. Tak lama ada panggilan masuk dari Sheela.
“Nif, aku bingung, ga lolos dari ITB. Bingung mau pilih Universitas, terlebih rasanya ga kuat harus pisah dari Denis”,
“Sabar, Shel. Aku lihat kamu itu hatinya lembut, gampang akrab sama orang. Kayaknya kau cocok jadi Guru atau Psokolog, coba cari Universitas dengan jurusan itu. Cari yang di Bandung, biar satu regional sama Denis”.
“Baiklah Nif, terimakasih atas usulannya”.
Aku menarik nafas, ada getaran menelisik jiwa. Akankah ini awal bagi mereka untuk mulai mengenal yang namanya “Perbedaan”?
Aku hanyan bisa berdoa yang baik-baik saja, semoga sebutan “Dimana ada Denis, disitu ada Sheela” tidak pudar seiring berjalannya waktu.
...
Bandung, 26 Juli 2017 | dindinbahtiar | Tebar Manfaat Lewat Aksara – Cerbung Menulis Sinergi








