Arunika dan Belalang
Aku menaruh ponsel setelah mengobrol cukup lama dengan ibu. Tidak biasanya Ibu menelpon ketika aku baru saja hendak beranjak tidur. Entah mengapa setelah menerima panggilan hatiku selalu diliputi keresahan. Ada perasaan bersalah setelah negosiasi panjang dengan Ibu. Sudah beberapa minggu ini ibu mengeluh, memintaku pulang. Beliau ingin bersamaku dan diurus olehku.
"Bekerja memang mimpimu nak, tapi Ibu kepingin kalau Arun di rumah temenin ibu." Ucapnya lembut ketika suatu ketika aku menghubunginya. Suaranya yang lirih membuatku berkali-kali merenung. Namun, meninggalkan pekerjaan yang kuimpikan bukanlah hal mudah. Merelakan kesedihan yang Ibu alami karena engganku pulang juga bukan hal yang melegakan.
Sulit sekali membuat pilihan ini.
******
Aku mengusap layar ponsel setelah menyalakan speaker berukuran sedang yang tergeletak di sampingku. Aku memilih beberapa lagu islami untuk di dengarkan sebelum jam belajar dimulai. Ketika bluetooth tersambung, suara manis seorang gadis kecil mengalun memenuhi lingkungan sekolah tempatku mengemban amanah.
'Ku impikan sepasang mahkota, kuberikan di akhirat kelak.... Sebagai pertanda bahwa kau sangat kucinta... Aku cinta engkau karena Allah...kucinta ummi, kucinta abi.... '
Lagu favoritku yang selalu mengingatkanku pada lbu. Kata-kata beliau yang masih lekat, meminta ku kembali ke rumah untuk merawatnya.
Bukan hal yang berat, namun rasanya sulit. Padahal, untuk apa aku bekerja lelah dan susah kalau tak bisa membahagiakan ibuku. Namun, membuat pilihan memang tak semudah itu.
"Assalamu'alaikum Buk... " Suara riang yang meretakkan lamunanku. Aku tersenyum gemas menyambut gadis kecil berseragam putih-merah di depanku itu.
Ia mengulurkan tangannya dengan takzim, kemudian mengecup punggung tanganku.
"Wa'alaikumsalam, alsa." Setelah meraih tangan mungilnya, "Diantar siapa, nak...? " Aku mengedarkan pandangan seraya mengusap lembut puncak kepalanya.
"Diantar Bapak, Bu." Ia berlalu sambil berjinjit ceria.
Aku berjalan lincah menuju gerbang sekolah, sesekali langkahku terhenti karena beberapa murid menyalamiku. Aku selalu bersemangat ketika mata lelahku membuka menyambut mentari. Memikirkan bagaimana seru dan asyiknya bertemu anak-anak didikku, melenyapkan kelelahanku seketika. Terkadang, bosan juga menyergap namun aku kembali semangat. Karena, mengajar adalah impianku.
Bekerja di tempatku sekarang adalah impian. Menjalani aktifitas yang sesuai dengan hobiku berdekatan dengan anak-anak dan mengajarkan segalanya adalah keinginanku sejak mengambil jurusan pendidikan.
"Kamu datang pagi." Sapa gadis bermata bening di sampingku. Kutebak, Ia kesiangan lagi.
"Maria, kamu ngapain semalam...?" Aku bertanya setengah berbisik.
"Yah, apalagi Yuni. Main hape, terus tidur." Jawabnya santai sambil menyenggol bahuku ringan.
Aku melengos mendengar jawaban absurdnya. Karena, kantung mata yang seharusnya tidak ada bergelantungan manja dibawah mata beningnya.
"Kamu gak percaya...? " Sekarang ia mensejajarkan wajahnya di depanku.
"Percaya." Mendengar jawabanku, ia tersenyum masam.
"Assalamu'alaikum Bunda-bunda..." Sapa ibu muda yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam bunda." Jawab kami serempak. Aku dan maria bergeser sedikit untuk memberi ruang agar Mbak Anita bisa bergabung.
Bel tanda masuk berdering. Kami beranjak berjalan bersisian memasuki ruang guru.














