Dari mulai lahir sampai waktu kontrak kita di dunia ini habis, kita tidak akan pernah bisa menghindari atau bahkan melompati sebuah fase.
Jaman baru lahir, semua orang tanya "udah bisa apa ?"
Jaman TK, semua orang tanya "udah bisa nyanyi apa ?"
Jaman SD, semua orang tanya "ranking berapa ?"
Jaman SMA, semua orang tanya "mau lanjutin sekolah ke mana ?"
Jaman kuliah tingkat akhir, semua orang tanya "kapan lulusnya ?"
Setelah lulus kuliah, semua orang tanya "udah kerja di mana ?"
Lalu datanglah fase dimana semua orang mulai bertanya :
"udah ada calonnya belom nih ?"
Saat ini pun sudah bukan lagi fasenya ikutan mama dan papa ke kondangan anak temannya.
Tapi mulailah fase menerima undangan dan fase bingung memilih baju untuk kondangan.
Dan bingung memilih pasangan untuk diajak kondangan.
Bukan karena kebanyakan 'gandengan', tapi justru karena semua teman dekat sudah punya pasangan masing-masing, jadi sedikit susah mengajak teman ke resepsi pernikahan.
Mulai pula datang fasenya, bukan lagi dipanggil 'kaka', tapi dipanggil 'tante'.
Mulai pula datang fasenya, melihat social media teman-teman diisi oleh kesibukan mereka mengurus anak dan suami.
Mulai pula datang fasenya merasa panik.
Mulai pula datang fasenya merasa 'harus' mencari pasangan.
Mulai pula datang fasenya menentukan target untuk menikah.
Sampai suatu hari, membaca sebuah kutipan Tere Lije, katanya :
"Hei, menikah itu bukan lomba lari, yang ada definisi siapa cepat, siapa lelet larinya. Menikah itu juga bukan lomba makan kerupuk, yang menang adalah yang paling cepat ngabisin kerupuk, lantas semua orang berseru hore.
Menikah itu adalah misteri Tuhan. Jadi, tidak ada istilah terlambat menikah. Pun tidak ada juga istilah pernikahan dini. Selalu yakini, jika Tuhan sudah menentukan, maka akan tiba momen terbaiknya, di waktu paling pas, tempat paling tepat. Abaikan saja orang-orang yang cerewet mulutnya bilang 'gadis tua, bujang lapuk' atau nyinyir bilang "kecil-kecil ko sudah menikah' " by Tere Lije
Sangat setuju dengan apa yang ditulisnya.
Mungkin orang akan berfikir, tulisan ini hanyalah sebuah pembenaran.
Tapi, ya memang itu kenyataannya.
Semua ada momennya, semua ada waktunya…