Pentingnya Memiliki Cara Pandang yang Benar dalam Hidup
Malam tadi, sebuah konten lewat secara random di reels instagram saya. Reels tersebut menayangkan sesi pertanyaan salah seorang jama’ah kepada Gus Baha. Saya tidak tahu, kapan dan dimana pengajian itu berlangsung. Namun, pertanyaan dan jawaban yang tersaji sangat penting dan seolah menyadarkan saya akan cara pandang yang benar terhadap dunia.
Pertanyaan dari penanya sebenarnya bukan pertanyaan baru dan jarang ditanyakan. Beliau bertanya mengenai makna keadilan dalam hidup, dilihat dari realitas adanya orang yang sholat dan beribadah dengan baik, tetapi memiliki kondisi ekonomi sulit, dan bahkan harus menanggung sekian penyakit. Sementara itu, di sisi lain ada orang yang tidak shalat, tetapi memiliki banyak rezeki dan dikarunai kesehatan badan.
Awalnya, saya mengira Gus Baha akan menjawab dengan penjelasan kemungkinan adanya istidraj bagi orang yang tidak beramal shaleh, tetapi diberikan banyak nikmat. Dan, balasan bagi orang yang beramal bukanlah di dunia, melainkan di akhirat.
Namun, selayaknya orang ‘alim ‘allamah, Gus Baha menjawab dengan cara yang sangat bernas dan ilmiah, serta seolah tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi maksud atau motivasi dibalik pertanyaan tersebut. Beliau (Gus Baha) menjawab bahwa sebagai muslim, seharusnya kita memiliki cara pandang yang benar terhadap makna kenikmatan dalam hidup. Bahwa, ketika seorang manusia diberikan nikmat berupa kemampuan untuk beribadah dan beramal shaleh, maka nikmat tersebut memiliki nilai yang jauh lebih baik, atau bahkan tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan materil.
Sebagai penjelasan sesuai pertanyaan, orang yang sudah diberikan nikmat dapat melaksanakan shalat, seharusnya memahami dan menyadari bahwa nikmat berupa dimudahkannya dan diberikannya kemampuan melaksanakan shalat, jauh lebih besar nilainya daripada memiliki harta yang berlimpah. Gus Baha juga menjelaskan termasuk orang yang diberikan kemampuan menghafal dan memahami Al-Qur’an, sebagai kitab paling istimewa di alam semesta, seharusnya merasa mendapatkan nikmat yang istimewa, bukan justru dengan menginginkan nikmat lain yang nilainya jauh di bawah Al-Qur’an.
Jawaban beliau rasanya seperti menampar kesadaran diri yang masih memandang kemuliaan ada pada selain ketaatan sebagai hamba Allah. Apalagi dengan banyaknya sarana untuk kita melihat berbagai rupa “kenikmatan” materil yang dimiliki orang lain, bahkan yang di luar Indonesia. Kita akhirnya menjadi tidak merasa besar nikmat ketaatan yang Allah berikan. Padahal, hanya dengan nikmat ketaatan dan kemudahan dalam beribadah itu, kita selayaknya merasa bersyukur dan bangga, karena sudah dengan baik menjalankan peran sebagai hamba Tuhan. Di sisi lain, berbagai ekspresi kecewa, sedih dan iri yang dirasakan atas dasar nikmat materil yang tidak dimiliki, sebenarnya merupakan bagian dari talbis Iblis, agar kita semakin jauh dengan cara pandang yang benar terhadap hidup. Wallahua’lam.